Kisah Sahabat Nabi Sebagai Tokoh Pejuang Islam
Ilustrasi tokoh pejuang islam
Membicarakan tokoh pejuang Islam, kita dapat memulainya dari para sahabat Rasulullah saw. Ketokohan para sahabat dalam perjuangan menegakkan Islam tentunya dapat menginspirasi tokoh-tokoh Islam setelahnya, termasuk juga tokoh-tokoh Islam yang ada di Indonesia. Salah seorang sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah saw. adalah Ali bin Abi Thalib ra.
Saat Perang Uhud, kaum muslimin sedikit mengalami kekalahan. Penyebab utamanya adalah karena ada sebagian sahabat yang tidak menaati perintah Rasulullah saw. Tentara Islam dengan mudahnya dapat dikalahkan oleh musuh sehingga banyak tentara Islam yang gugur syahid.
Ketika Rasulullah saw. berada dalam kepungan, mereka menyebarkan berita bahwa Rasulullah saw. telah wafat. Kabar angin tentang wafatnya Rasulullah telah menyebabkan ketidaktenteraman di hati para sahabat sehingga banyak menimbulkan perselisihan dan kekacauan.
Keberanian Ali bin Abu Thalib
Pada saat kaum kafir mengepung tentara Islam, Ali ra. tidak melihat Rasulullah saw. berada. Kemudian Ali ra. mencari Rasulullah saw. di antara kaum muslimin yang masih hidup dan di antara mereka yang telah gugur. Tetapi, Ali ra. tetap tidak menemukannya. Ali ra. berkeyakinan bahwa tidak mungkin Rasulullah saw. wafat. "Mungkin Allah Swt telah murka terhadap dosa-dosa kami dan mengangkat kekasihNya ke surga." bisik Ali ra. dalam hati.
Ali ra. tidak dapat mengira-ngira kemungkinan lainnya yang terjadi pada diri Rasulullah saw. Tidak ada jalan lain bagi Ali ra. selain maju terus menghadapi kaum kafir, bertempur sampai titik darah penghabisan. Ali ra. sendiri merasa bahwa akan mati syahid di medan pertempuran.
Ali ra. menyerang pasukan kaum kafir dengan sangat hebatnya. Beliau mencerai-beraikan pasukan musuh hingga membuka jalan untuk keluar dari kepungan musuh. Pada saat itulah Ali ra. dapat melihat kembali wajah Rasulullah saw. Betapa gembiranya hati Ali ra. dan yakin bahwa para malaikat telah diutus oleh Allah Swt. untuk melindungi Rasulullah saw.
Ali ra. pun segera menghampiri Rasulullah saw. dan berdiri gagah di sampingnya. Sementara itu, Ali ra. melihat sebarisan pasukan musuh hendak menyerang Rasulullah saw. Rasulullah saw. berkata kepada Ali ra., "Ali pergilah, halangi musuh-musuhku itu."
Mendengar perintah tersebut, Ali ra. langsung menghadang pasukan musuh seorang diri hingga menewaskan beberapa orang di antara mereka. Setelah itu, Ali ra. kembali melihat sebarisan pasukan musuh hendak menyerang Rasulullah saw. Maka sekali lagi Rasulullah saw. berteriak kepada Ali ra., "Ali pergilah, halangi musuh-musuhku itu." Ali ra. pun menggempur musuh-musuh itu seorang diri.
Ketika peristiwa hebat itu terjadi, Malaikat Jibril a.s. telah datang dan memuji keberanian Ali ra. dan baktinya dalam menyelamatkan Rasulullah saw. Pada saat itu, Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Ali adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari Ali." Malaikat Jibril a.s. menjawab, "Aku adalah bagian dari kalian berdua."
Keberanian Ali bin Abi Tahlib ra. ini dapat menjadi pelajaran bagi kita, umat akhir zaman yang tidak hidup di zaman Rasulullah saw. Semangat jihad untuk membela agama dan Rasulnya dapat kita tunjukkan dengan bekerja dan berpikir keras dalam melawan segala bentuk tantangan dan rintangan yang sengaja dibuat oleh musuh-musuh Islam. Walahu'alam bishawab.
Kelemahlembutan Utsman bin Affan
Utsman bin Affan merupakan salah satu tokoh pejuang Islam yang juga berjasa dalam membukukan Al Quran. Ia merupakan sahabat rasul sekaligus saudagar kaya yang dikenal akan kelembutannya serta kedermawanannya.
Sebagai sahabat Rasulullah, ia dianggap sebagai sahabat muslim yang paling jujur dan baik hati. Ia juga sangat pemalu sehingga Rasul memperlakukan Utsman berbeda dengan perlakuannya terhadap sahabatnya yang lain.
Hal tersebut terlihat saat Utsman masuk untuk menemui Rasul dan beliau langsung duduk seraya membetulkan pakaiannya. Sementara itu, jika sahabatnya yang lain masuk untuk menemui Rasul, ia tetap bersikap sewajarnya.
Hal tersebut terjadi karena kelemahlembutan yang dimiliki oleh Utsman bin Affan sehingga banyak orang yang malu akan perilaku baik, rendah hati, dan kelembutannya.
Peran Utsman dalam menegakkan Islam terlihat saat Rasul memerintahkannya untuk mendatangi Abu Sofyan penduduk Mekkah untuk memberi kabar bahwa kaum muslim dari Madinah akan datang untuk beribadah ke Mekkah.
Ia kemudian dipercaya untuk memegang amanat sebagai walikota di Kota Madinah. Lantas pada saat perang Teluk, ia pun mendermakan sebagian kekayaannya yang terhitung besar jumlahnya untuk disumbangkan demi kepentingan perang tersebut.
Selain itu, ia juga merupakan Khalifah pertama yang memperluas masjidilharam dan masjid Nabawi. Kebijakannya dalam memimpin umat Islam juga memberinya pengalaman berharga saat harus berhadapan dengan petinggi-petinggi yang memiliki dendam akibat pemecatan yang dilakukan oleh Utsman.
Hingga pada waktunya, sahabat Rasul tersebut wafat karena dibunuh oleh orang-orang yang ingin mengudetanya sebagai pemimpin di kota Madinah.
Ketegasan Umar bin Khattab
Rasulullah merupakan orang yang sangat bersyukur karena memiliki sahabat yang berkarakter macam-macam. Ada yang sangat berani, ada yang sangat pemalu, dan ada juga yang sangat keras dan tegas dalam memegang prinsip Islam.
Yang terakhir disebutkan itu adalah Umar bin Khattab. Khulafaur Rasyidin yang kedua tersebut merupakan sahabat Rasul yang dikenal karena sangat keras dalam memisahkan hal yang benar dengan hal yang batil atau salah.
Sebelum memeluk agama Islam, Umar bin Khattab adalah orang yang terkenal sangat membenci Muhammad dan pengikutnya. Bahkan ia berani melakukan upaya pembunuhan terhadap Rasul yang dianggap membawa ajaran yang tidak sesuai dengan tradisi nenek moyang.
Akan tetapi, dalam perjalanan menuju tempat Rasul, ia kemudian mendengar kabar bahwa adik perempuannya telah memeluk agama Islam. Mendengar kabar tersebut, ia semakin berang dan berusaha memberikan hukuman kepada adiknya itu.
Ketika hendak memarahi adiknya, ia kemudian melihat adiknya itu sedang membaca Al Quran. Lantas didengarkannyalah apa yang dibaca oleh adiknya hingga ia merasa terhanyut dan meyakini adanya kebenaran dari ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad. Ia pun kemudian masuk Islam.
Semenjak masuk Islam, ia tidak segan-segan untuk menghukum orang-orang yang melakukan kesalahan sekecil apapun. Namun, ia juga tidak pernah meragukan orang-orang yang melakukan kebenaran yang dikehendaki dalam agama Islam.
Keyakinan Abu Bakar Ash Siddiq
Abu Bakar merupakan sahabat Rasul yang pertama kali memeluk agama Islam. Ia merupakan seorang pedagang sekaligus pelajar yang dipercaya dapat menafsirkan mimpi oleh masyarakat sekitarnya.
Ia diberi gelar Ash Siddiq oleh Rasul setelah ia meyakini kebenaran bahwa peristiwa Isra Miraj yang dialami oleh Rasulullah bukanlah suatu kebohongan, melainkan kebenaran yang memang harus diyakini oleh umat Islam.
Sama seperti umat Islam lainnya, ia juga mendapatkan siksaan dari kaum Quraisy. Namun, karena ia merupakan seorang yang dianggap terpelajar, maka ia pun bebas dan bisa membebaskan umat Islam lainnya dari golongan hamba sahaya atau budak.
Pada saat Rasul sakit, Abu Bakar adalah orang pertama yang ditunjuk untuk memimpin shalat sehingga sepeninggal Rasul, ialah yang kemudian diangkat menjadi Khalifah.
Perang terbesar yang dicetuskan semasa kepemimpinan Abu Bakar adalah perang Ridda, yakni perang yang diakibatkan oleh perlawanan dari orang yang mengaku bahwa dirinya adalah nabi pengganti Nabi Muhammad saw.
Perannya dalam memperjuangkan Islam juga terbukti dari adanya pelestarian Al Quran yang kemudian disusul oleh pembukuan Al Quran oleh Utsman bin Affan pada kepemimpinan berikutnya.
Dari keempat tokoh pejuang Islam tersebut, banyak hal yang tentu saja bisa kita ambil teladannya. Keberanian, kelemahlembutan, ketegasan, dan keyakinan mereka merupakan hal-hal yang juga patut kita contoh agar bisa terus memperjuangkan kebenaran di jalan Allah.

