logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Referensi    Profil    Tokoh    Tokoh Pergerakan Nasional

Tan Malaka, Tokoh Pergerakan Nasional yang Dilupakan

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Pernah mendengar sebutan tokoh pergerakan nasional? Sebutan tersebut pastinya cukup familiar untuk Anda bukan? Nama-nama dari tokoh pergerakan nasional seringkali disebutkan dalam buku sejarah sebagai usaha untuk terus mengenang jasa para tokoh yang bisa dikategorikan sebagai pahlawan tersebut.

Indonesia memiliki sejarah masa lalu yang cukup kelam. Perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan menyisakan cerita panjang yang berdarah-darah. Mereka adalah para pahlawan, tokoh pergerakan nasional yang memiliki tujuan untuk membuat Indonesia menjadi bangsa yang jauh lebih baik.

Tokoh Pergerakkan Nasional - Tiga Serangkai sebagai Pelopor Semangat Juang

Tokoh pergerakan nasional ditujukan bagi mereka yang bergerak dalam masa peralihan perjuangan. Sifat kedaerahan yang dimiliki oleh para pejuang tersebut kemudian berubah menjadi lebih luas. Mereka pada akhirnya tidak hanya berjuang demi nama daerah, tapi Indonesia.

Keberadaan para tokoh pergerakan nasional ini terbilang cukup penting. Mereka adalah penggerak semangat masyarakat yang ada di daerah untuk turut berjuang mempertahankan Indonesia dari ancaman luar. Biasanya mereka adalah orang-orang dengan perhatian lebih dan kritis terhadap apapun yang terjadi di sekitar.

Hadirnya para tokoh pergerakan nasional diawali dengan hadirnya tokoh-tokoh seperti Ernest Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudhi. Beliau adalah pemilik semangat nasionalisme yang kemudian mulai menginfluence orang-orang di sekitar  untuk melakukan pergerakan.

Pergerakan tersebut dilakukannya bersama dua orang rekannya. Mereka adalah dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat. Sedikit mengingatkan Anda bahwa mereka biasa dikenal sebagai tiga serangkai. Tiga orang hebat yang memelopori semangat juang dari tokoh pergerakan nasional lainnya.

Tokoh Pergerakan Nasional - Mengenal Tan Malaka

Membicarakan pergerakan nasional, sekaligus membicarakan semangat juang kedaerahan. Para tokoh dari daerah bermunculan untuk memperjuangkan semangatnya. Salah satu tokoh pergerakan nasional yang namanya menjadi sejarah adalah Tan Malaka.

Tanggal lahir tokoh pergerakan nasional ini, hingga kini masih menjadi sebuah polemik. Sebuah sumber menyebut bahwa Tan Malaka dilahirkan pada 19 Februari 1896 di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Harry A. Poeze, seorang sejarawan Belanda yang selama lebih dari 30 tahun melakukan riset tentang sejarah perjuangan Tan Malaka, menyebut bahwa dia dilahirkan tahun 1894, tanpa tanggal dan bulan, namun dengan tempat lahir yang sama.  Tapi ada juga yang menyebukan kelahiran Tan Malaka tanggal 2 Juni 1897.

Tokoh pergerakan nasional ini, dilahirkan dengan nama Soetan Ibrahim, dan bergelar Datoek Tan Malaka. Pada masa pergerakan kemerdekaan Indonesia, dia disapa dengan Iljas Hussein sebagai nama samarannya. Penggunaan nama samaran itu dikarenakan ketika itu nama Tan Malaka masuk dalam daftar pencarian orang yang diburu oleh polisi penjajahan Jepang, di Indonesia.

Tokoh pergerakan nasional yang namanya cukup kontroversi ini, baik dulu maupun kini adalah seorang pendiri partai, Partai Murba. Dia adalah seorang pemimpin yang sosialis, revolusioner dan banyak melahirkan pemikiran-pemikiran baru yang berperan besar bagi perjuangan Indonesia.

Kritik pedas banyak dilontarkan oleh tokoh pergerakan nasional yang satu ini. Sehingga Tan Malaka dikenal sebagai seorang tokoh revolusioner yang melegenda. Di zaman penjajahan, namanya adalah ancaman bagi pihak Belanda. Hal itulah yang membuat Tan Malaka berulang kali diasingkan jauh di luar negara Indonesia.

Cerita Awal Perjuangan Tan Malaka, Seorang Tokoh Pergerakan Nasional

Perjalanan hidup tokoh pergerakan nasional ini sangat heroik. Karena kecerdasannya, Tan Malaka sempat mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah di Negeri Belanda yang dijalaninya dari tahun 1913 hingga 1919. Kesempatan ini yang membuat kesadarannya terbuka, bahwa apa yang dilihatnya di Hindia Belanda (jajahan Belanda) sangat jauh berbeda dengan kehidupannya di Belanda.

Kegelisahan inilah yang melatarbelakangi keputusannya untuk aktif dalam organisasi pelajar dan mahasiswa Indonesia di Belanda. Kegiatannya ini membuat Tan Malaka sedikit banyak mulai menguasai berbagai ilmu yang pada akhirnya digunakan untuk membebaskan Indonesia dari belenggu pengaruh penjajah.

Pada Januari 1920, Tan kembali ke Sumatera dan mengabdikan dirinya sebagai guru. Ia mendirikan sekolah untuk anak-anak kuli kontrak perusahaan perkebunan. Di tempat ini dia melihat kontradiksi yang terjadi pada kehidupan kuli-kuli kontrak perkebunan, sekaligus membuatnya semakin berempati pada kehidupan kuli kontrak perkebunan di Sumatera. Perjalanannya sebagai seorang pendidik ini membuat Tan Malaka paham bagaimana kehidupan masyarakat bawah.

Mengetahui bagaimana keadaan para kuli, membentuk pemikiran tokoh pergerakan nasional ini. Maka tidak mengherankan di kemudian hari dia menjadi tokoh pemogokan kuli perkebunan di Sumatera. Keterlibatannya itu menyebabkan dia harus mengundurkan diri dan selanjutnya hijrah ke Semarang.

Di Semarang, Tan semakin intens bergelut dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Selanjutnya dia kembali mendirikan sekolah-sekolah untuk orang miskin, dan mengajarkan dasar-dasar komunisme. Lagi-lagi dia kembali terlibat dalam aksi pemogokan, dan menjadi tokoh yang paling dicari karena dianggap sebagai orang yang berbahaya. Tahun 1922, Tan diasingkan ke Belanda.

Pengasingan yang dialami oleh tokoh pergerakan nasional ini bukan lagi menjadi hal yang asing. Meskipun berulang kali diasingkan, Tan Malaka tetap bisa membangun sebuah jaringan nasionalis yang membahayakan pihak Belanda. Pemikirannya bukan lagi berhasil memengaruhi orang-orang yang ada di Indonesia tapi Asia Tenggara.

Tokoh Pergerakan Nasional - Tan Malaka dalam Pengasingan

Pengasingan ini justru menjadikan tokoh pergerakan nasional ini semakin terkenal di komunitas komunisme internasional (komintern). Bahkan dalam kongres Komintern bulan November 1922 di Moskow, Tan didaulat  untuk berpidato, sebagai wakil dari Indonesia. Selanjutnya dia ditunjuk sebagai wakil Komintern untuk wilayah Asia Tenggara.

Selama bermukim di luar negeri, Tan sempat menulis risalah berjudul Naar de ‘Republiek-Indonesia,  tahun 1924. Banyak ahli sejarah yang meyakini bahwa dari risalah ini istilah ”Republik Indonesia” pertama kali dipergunakan, karena merujuk suatu kawasan jajahan Hindia Belanda di Asia Tenggara. Istilah ini sudah dipergunakan Tan Malaka, 4 tahun sebelum dilangsungkannya sumpah pemuda. Dan karenanya Tan Malaka sempat mendapat gelar kehormatan sebagai “Bapak Republik Indonesia”.

Sekalipun Tan Malaka seorang tokoh komintern, namun pendapatnya tidak sejalan dengan apa yang dilakukan oleh  Alimin dan Muso di Indonesia dengan PKI. Tan mengecam tindakan Alimin dan Muso yang akan melancarkan revolusi di Indonesia, yang akhirnya pecah tahun 1927. Revolusi ini berhasil digilas tentara Hindia Belanda. PKI langsung dilarang dan tidak lagi menjadi faktor politik. Tokoh pergerakan nasional ini menjadi sosok di balik berbagai pergolakan di Indonesia.

Tokoh Pergerakan Nasional - Tan Malaka sebagai Tumbal Revolusi

Menjelang kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, secara diam-diam Tan Malaka kembali ke Indonesia dan menyamar dengan nama Iljas Hussein.  Selama berada di Jakarta, Tan terlibat pembicaraan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional lain guna merancang kemerdekaan Indonesia. Disini Tan Malaka memiliki fungsi sebagai guru moral sekaligus penasehat politik, yang menguatkan tekad pemuda untuk segera memerdekakan Indonesia.

Pada masa itu, Tan Malaka memiliki peran penting. Nama besar Tan Malaka sangat dikenal. Bahkan lucunya, banyak tokoh pergerakan nasional yang kenal nama, tapi tidak kenal muka Tan Malaka. Alhasil, kebanyakan mereka tidak menyadari, bahwa Iljas Hussein yang duduk dan berbicara bersama mereka, adalah Tan Malaka. Setelah proklamasi kemerdekaan, orang-orang baru paham bahwa Iljas Hussein adalah Tan Malaka.

Ironisnya, tokoh pergerakan nasional ini justru dieksekusi mati oleh TNI tanggal 21 Februari1949 di Desa Selo Panggung, Kediri.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Kilasan Singkat Biografi Rain
  • Biografi Singkat Kristen Stewart
  • Daftar Orang Terkaya di Indonesia
  • Muhammad Yunus, Tokoh Ekonomi Dunia dari Dunia Ketiga
  • Ratu Elizabeth I, Ratu Inggris Paling Berpengaruh
  • Biografi Mikha Tambayong: Artis ABG yang Multitalenta
  • Biografi Tokoh Dunia - Sumber Inspirasi yang Tak Ada Habisnya
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA