Mengenal Tokoh Psikologi Islam Dunia
Ilustrasi tokoh psikologi islam
Psikologi bila dipandang dari sudut ajaran agama Islam selalu mengutamakan kebenaran dari ilahiyah. Maksudnya adalah semua elemen yang berhubungan dengan kejiwaan harus selalu menurut pada tuntunan Al-Qur’an serta sunah dari Nabi Muhamad. Contoh dari unsur kejiwaan ini misalnya semangat spiritual, fitrah, moral, tingkah laku, kesopanan dan lain-lain.
Para tokoh psikologi Islam di seluruh dunia juga selalu mengajarkan dan memberi teori tentang hal tersebut. Meski cara penyampaiannya berlainan atau berbeda, namun pada inti ajarannya tetap sama.
Para ahli psikologi dari negara-negara Barat juga mengakui akan kebenaran dari teori yang disampaikan oleh tokoh tokoh psikologi Islam tersebut. Bahkan di antara mereka ada yang meyakini bila terdapat hubungan yang erat antara tasawuf dan psikologi. Karena tasawuf adalah sebuah metode pengolahan batin yang mampu mengobati penyakit yang diderita oleh jiwa (bukan penyakit fisik), sekaligus untuk membersihkan hati serta membuat mental selalu dalam kondisi yang sehat.
Tokoh Psikologi Islam
Beberapa tokoh psikologi Islam yang sampai saat ini masih diakui sebagai ahli psikologi yang ajarannya bisa dijadikan rujukan atau referensi bagi psikolog lain diantaranya adalah :
1. Ja’far As-sadiq
Tokoh psikologi Islam terkemuka ini hidup antara tahun 702 hingga 765 Masehi dan lahir di kota Madinah. Dia jadi terkenal karena menguasai ilmu pengetahuan yang luas serta agama yang mumpuni. Dia berpendapat bila nafsu itu bisa memunculkan sifat yang egois. Sedangkan kalbu bisa mendorong seseorang untuk selalu mencintai Allah dengan tulus dan ikhlas.
2. An-Nasyaburi
Profesi sebenarnya dari tokoh ini adalah seorang dokter. Namun dia juga menguasai ilmu psikologi. Bahkan sebelum wafat pada tahun 1016 masehi, dia sempat menulis buku yang diberi judul Al-Uqala Al-Majnin. Salah satu isi dari buku ini adalah menerangkan suatu rasa marah atau emosi yang diluar kendali sehingga menyebabkan seseorang bisa kehilangan akal sehatnya.
3. Ibuni Miskawayh
Tokoh psikologi Islam yang satu ini lahir pada tahun 941 dan wafat pada 1030 Masehi. Dia menulis buku tentang hubungan rasa takut dan kematian dengan moralitas. Dia mengajak masyarakat untuk selalu menyukai kegiatan sedekah atau derma dan mau menjalankan kewajiban membayar zakat sebagai sarana untuk mensucikan harta.
4. Al-Ghazali
Oleh para psikolog dari negara Barat, beliau lebih dikenal dengan sebutan Algazel. Tokoh psikologi Islam ini menyatakan bila jenis penyakit itu ada dua yaitu fisik dan mental atau spiritual. Penyakit mental dinilai lebih bahaya karena mampu membuat seseorang tidak merasa dekat lagi dengan Tuhan. Cara penyembuhannya harus dilakukan dengan memunculkan atau memberi rasa cinta pada penderita.
5. Ibnu Sina
Pernyataan beliau yang terus dikenang sampai saat ini adalah tentang kehidupan roh di dunia yang terbagi dalam tiga golongan, yaitu roh milik manusia, tumbuhan dan hewan. Yang paling unik dari ketiganya adalah roh milik manusia, karena untuk menjalani hidup bersama jasad, roh ini memerlukan roh yang lain yaitu tumbuhan dan binatang.
6. Ibnu Rusyd
Jasa terbesar beliau untuk perkembangan ilmu psikologi di dunia adalah hasil karyanya yang berjudul Al-Tuhafut. Melalui karya besarnya ini Ibnu Rusyd memberi pernyataan bila roh memberi ijin pada jasad yang dimiliki seseorang untuk menjalani kehidupan. Namun meski jasad sudah meninggal, namun roh tetap hidup di alam yang lain dan akan bangkit lagi ketika hari kiamat sudah tiba. Dalam masa kebangkitannya ini roh sudah tidak memerlukan jasad lagi.
7. Al Farabi
Salah satu tokoh psikologi Islam dunia yang terkenal adalah Al Farabi. Selain dikenal sebagai psikolog Islam, beliau pun dikenal sebagai ilmuwan dalam bidang fisika, kimia, filsuf, ahli ilmu logika, ahli ilmu jiwa, metafisika, politik, dan lain sebagainya. Beliau dilahirkan di Farab pada 257 H atau 870 M dan meninggal dunia pada 339 H atau 950 M.
Sebagai seorang filsuf, Al Farabi termasuk filsuf muslim terkenal pada zamannya dan sangat sukar untuk mencari padanannya. Filsuf yang memiliki nama lengkap Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzlag ini sejak kecil dikenal sebagai anak yang rajin belajar dan memiliki otak yang cerdas. Di kota kelahirannya, Farab, beliau belajar bahasa Arab, bahasa Turki, bahasa Parsi, dan ilmu agama. Farabi besar memutuskan untuk pindah ke Baghdad dan menetap di sana selama 20 tahun.
Di Baghdad, beliau mempelajari ilmu filsafat, logika, matematika, etika, ilmu politik, musik, dan ilmu lainnya. Setelah dari Baghdad, Al Farabi memutuskan untuk pindah ke Harran (Iran). Di sana, Al Farabi mempelajari ilmu filsafat Yunani kepada beberapa ahli di antaranya Yuhan bin Hailan. Setelah dari Harran (Iran) beliau pindah lagi ke Baghdad.
Selama di Baghdad, Al Farabi menghabiskan waktunya untuk mengajar dan menulis. Beberapa hasil karyanya antara lain buku tentang ilmu logika, fisika, ilmu jiwa, metafisika, kimia, ilmu politik, dan lain sebagainya. Namun, sebagain besar karya-karya yang ditulis Al Farabi yang ditulis dalam bahasa Arab hilang dari peredaran. Sekarang ini, yang tersisa sekitar 30 buah.
Nah, berikut ini karya-karya yang dihasilkan oleh Al Farabi.
- Agrad al Kitab ma Ba’da Tabi’ah (Intisari Buku Metafisika)
- Al Jam’u Baina Ra’yai al Hakimaini (Mempertemukan dua pendapat Filusuf : Plato dan Aristoteles)
- ‘Uyun al Masa’il (Pokok-pokok persoalan)
- Ara’u Ahl al Madinah (Pikiran-pikiran Penduduk Kota)
- Ihsa’ al ‘Ulum (Statistik Ilmu)
Saat pergolakan politik terjadi di Baghdad pada 330 H atau 941 M, Al Farabi merantau ke Haleb (Aleppo). Di sana, beliau mendapatkan perlakuan istimewa dari Sultan Dinasti Hamdani yang berkuasa saat itu. Karena mendapat perlakuan baik, Al Farabi tetap tinggal di sana hingga akhir hayatnya.
Jasa Al Farabi dalam perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu filsafat Islam sangat besar. Menurut berbagai sumber, beliau menguasai 70 jenis bahasa di dunia dan karena itulah beliau dikenal sebagai ilmuwan yang menguasai banyak cabang keilmuan.
Al Farabi dikenal sebagai ilmuwan pertama yang memasukkan ilmu logika ke dalam kebudayaan Arab. Dalam bidang filsafat, Al Farabi temasuk golongan kelompok filsuf kemanusiaan. Beliau lebih mementingkan soal-soal kemanusiaan, seperti akhlak atau etika, kehidupan intelektual, politik, dan seni. Dalam ilmu filsafat, filsafat yang diajarkan Al Farabi merupakan campuran antara filsafat Aristoteles dan Neo Platonisme dengan pemikiran keislaman yang jelas.
Al Farabi meyakini bahwa antara agama dan filsafat tidak ada pertentangan karena sama-sama membawa kepada kebenaran. Akan tetapi, beliau tetap berhati-hati bahkan khawatir jika filsafat itu membuat iman seseorang menjadi rusak. Oleh karena itu, beliau berpendapat bahwa selain dirumuskan dengan bahasa uang samar-samar, filsafat pun hendaknya jangan sampai bocor ke tangan orang awam.
Nah, itulah penjelasan mengenai tokoh-tokoh psikologi Islam dunia. Tokoh-tokoh psikologi Islam tidak kalah dengan tokoh-tokoh psikologi lainnya. Bahkan, tokoh psikologi modern banyak berpatokan pada tokoh-tokoh psikologi Islam. Semoga penjelasan mengenai tokoh psikologi Islam ini bermanfaat bagi Anda.

