Maximilien Robespierre, Napoleon Bonaparte, dan Revolusi Perancis
Ilustrasi tokoh revolusi perancis
Revolusi Perancis, sebuah transformasi besar dalam sistem politik dan masyarakat Prancis, terjadi dalam kurun waktu 1789-1799. Selama berlangsungnya revolusi itu, di Perancis terjadi transformasi besar-besaran. Dari negara monarki absolut, di mana raja memiliki kekuasaan mutlak, menjadi sebuah negara republik merdeka, di mana rakyat memiliki kekuasaan dan adanya batasan kekuasaan bagi pemerintah.
Semangat Revolusi Perancis ini kemudian menyebar ke negara-negara lain, baik yang ada di Eropa, dan membawa perubahan pada tatanan sosial dan politik dunia. Itulah mengapa, Revolusi Perancis dianggap sebagai satu peristiwa penting dalam sejarah Eropa. Maximilien Robespierre, seorang praktisi hukum dan pemimpin politik Perancis, merupakan salah seorangtokoh Revolusi Perancis yang sangat berpengaruh sekaligus kontroversial.
Maximilien Robespierre (1758-1794)
Pada awal proses pembentukan sistem demokrasi di Perancis tersebut, Robespierre mendirikan sebuah pemerintahan teror, di mana ribuan orang dieksekusi mati dengan guillotine, semacam alat pemancung kepala. Walau akhirnya, dia pun menemui nasib yang sama dengan para korbannya. Rezim teror yang didirikan Robespierre menandai sebuah babakan penting dalam "skenario" Revolusi Perancis.
Lahir pada 6 Mei, 1758, di Arras, dan menempuh pendidikan di Paris, tepatnya di College of Louis-le-Grand dengan spesialisasi ilmu hukum, Maximilien François Marie Isidore de Robespierre merupakan seorang pendukung fanatik dari teori-teori sosial yang dikemukakan oleh Jean Jacques Rousseau, seorang filsuf Perancis kenamaan.
Dia terpilih sebagai deputi Estates-General yang dibentuk pada Mei 1789, beberapa saat sebelum meletusnya revolusi. Kemudian dia menjadi anggota National Constituent Assembly, di mana kefasihan dan kehebatannya dalam berpidato mampu menarik simpati dan dukungan banyak orang.
Pada April 1790, Robespierre terpilih sebagai presiden kelompok Jacobin sehingga menjadikannya semakin populer di Perancis. Dengan jabatan dan latar belakangnya sebagai seorang advokat dari kalangan reformis demokratis, pengacara kondang ini menahbiskan diri sebagai musuh nomor satu golongan monarki sekaligus pimpinan oposisi terkuat bagi kaum Girondins yang mendominasi Dewan Legislatif yang baru dibentuk.
Pasca-kejatuhan monarki di Perancis pada Agustus 1792, Robespierre terpilih sebagai deputi utama untuk Paris dalam Konvensi Nasional, di mana ia mengusulkan untuk mengeksekusi mati Raja Louis XVI. Pada Mei 1793, Robespierre, dengan dukungan mayoritas masyarakat Perancis, melakukan "pengusiran" terhadap kaum Girondins dari Konvensi Nasional.
Pada bulan Juli dia terpilih sebagai anggota eksekutif dari Komite Keselamatan Rakyat tanpa adanya perlawanan dan dengan cepat Robespierre berhasil menguasai pemerintahan.
Pemerintahan Teror
Pada masa peralihan kekuasaan tersebut, Perancis-khususnya kota Paris-berada dalam suasana huru hara yang nyaris tidak terkendali. Apabila tidak segera dikendalikan, suasana ini dapat menghancurkan Perancis dan mengundang invasi dari pihak luar.
Oleh karena itu, Komite Keselamatan Rakyat memberi tenggat waktu kepada Robespierre untuk mengambil tindakan segera untuk mengamankan situasi, yaitu dengan menyingkirkan para pembuat onar dan orang-orang yang dianggap musuh revolusi.
Kebijakan ini, pada akhirnya, melahirkan sebuah pemerintahan teror yang menakutkan. "Pembersihan" para musuh Revolusi dan kaum moderat yang kontra pemerintah segera dilakukan. Ribuan orang meregang nyawa di tempat eksekusi. Rakyat pun dicekam ketakutan luar biasa. Dalam hitungan hari, seseorang bisa menjadi korban hanya karena dianggap kontra pemerintah.
Pemberontakan Thermidor
Sepak terjang Robespierre yang dianggap keterlaluan, pada akhirnya melahirkan kelompok-kelompok perlawanan, khususnya dari kaum Girondins yang ingin berkuasa kembali. Mereka berusaha membuat konspirasi untuk "menghentikan" dan "melengserkan" Robespierre dengan melakukan persekutuan bersama orang-orangnya Robespierre yang berkhianat.
Pada 27 Juli 1794, mereka berhasil menggulingkan pemerintahan teror Robespierre. Sehari kemudian, tokoh kontroversoal ini dihukum mati dengan pisau guillotine bersama Louis Saint-Just serta Georges Couthon dan 19 orang pengikut setianya. Pada hari berikutnya, 80 orang pengikut Robespierre pun dihukum mati.
Peristiwa penggulingan Pemerintahan Teror (1793-1794) ala Robespierre dikenal sebagai "pemberontakan Thermidor". Peristiwa ini sekaligus menandai kembalinya kaum Girondins sebagai penguasa Perancis.
Napoleon Bonaparte
Salah satu tokoh revolusi Perancis adalah Napoleon Bonaparte. Tokoh revolusi Perancis ini lahir pada 15 Agustus 1769 dan meninggal pada 5 Mei 1821. Napoleon Bonaparte berasal dari golongan bangsawan. Gelar bangsawan, kekayaan, dan koneksi keluarganya yang luas memberikan kesempatan lebih bagi Napoleon untuk meniti karier pendidikan hingga tingkat yang tertinggi.
Pada Januari 1779, Napoleon didaftarkan pada sebuah sekolaha agama di Autun, Perancis, untuk belajar bahasa Perancis. Kemudian, pada Mei tahun yang sama, Napoleon Bonaparte mendaftar pada sebuah akademi militer di Brienne-le-Chateau. Di sekolah, Napoleon dikenal sebagai orang yang pintar matematika, sejarah, dan geografi.
Setelah menyelesaikan sekolahnya, Napoleon mendaftarkan diri di sekolah elite Ecole Militaire di Paris. Di sana, Napoleon dididik dan dilatih menjadi seorang perwira artileri. Karier militer seorang tokoh revolusi Perancis ini menanjak saat Napoleon berhasil menumpas kerusuhan yang didalangi pendukung royalis. Selama berkarier di militer, berbagai perang telah dimenangkannya, di antaranya perang melawan Austria dan Prusia.
Saat revolusi Perancis meledak, Napoleon berkesempatan untuk menunjukkan kebolehannya pada pertempuran di Toulon. Pada pertempuran itu, Perancis merebut kota itu dari tangan Inggris. Rasa kecintaannya yang tinggi kepada Perancis membuat Napoleon berhasil mengalahkan Inggris pada perang perebutan Kota Toulon.
Pada masa kejayaannya, Napoleon Bonaparte menguasai hampir seluruh daratan Eropa, baik dengan cara diplomasi maupun dengan cara peperangan. Napoleon Bonaparte naik menuju tangga kekuasaan pada Agustus 1793. Pada masa kekuasaannya, Napoleon Bonaparte sebagai tokoh revolusi Perancis melakukan perombakan besar-besaran dalam sistem administrasi pemerintah dan hukum di Perancis.
Salah satu perombakan yang dilakukan Napoleon adalah merombak struktur keuangan dan kehakiman. Selain itu, Napoleon Bonaparte pun mendirikan Bank Perancis dan Universitas Perancis. Sebagai tokoh revolusi Perancis, Napoleon melakukan gebrakan yang dahsyat dalam sejarah Perancis.
Dalam revolusi Perancis, Napoleon mengeluarkan ide tentang tidak adanya hak istimewa berdasarkan kelahiran dan asal-usul. Dengan kata lain, semua orang memiliki kedudukan yang sama di mata hukum. Revolusi yang dilakukan Napoleon pada bidang hukum ini tidak hanya berpengaruh di dalam negeri, tapi juga mempengaruhi perkembangan hukum di luar negeri.
Dalam perkembangan revolusi Perancis, Napoleon menganggap dirinya sebagai tokoh revolusi Perancis. Pada 1804, Napoleon memproklamirkan dirinya sebagai kaisar Perancis. Pada masa kekuasaannya sebagai kaisar, Napoleon mengangkat tiga saudaranya sebagai pemimpin di beberapa negara Eropa yang dikuasai Napoleon. Namun, langkah itu tidak sejalan dengan ide rovolusi Perancis.
Masa kejayaan Napoleon pun berakhir ketika Paris diserang oleh Rusia, Austria, dan Prusia. Kekalahan itu mengakibatkan Napoleon dibuang ke Pulau Elba. Pada 1815, Napoleon Bonaparte berhasil meloloskan diri dari Pulau Elba dan kembali lagi ke Perancis. Kembalinya Napoleon ke Perancis disambut baik. Bahkan, Napoleon sempat berkuasa kembali selama 100 hari.
Periode kedua kekuasaan napoleon runtuh ketika mengalami kekalahan perang di Waterloo. Seusai kekalahan itu, Napoleon dipenjara di St. Helena, sebuah pulau kecil di selatan Samudera Atlantik. Di sinilah, Napoleon mengembuskan napas terakhirnya pada 1821.
Dalam dunia militer, Napoleon mengenalkan istilah korps yang terdiri atas kumpulan divisi. Pembentukan korps ini didukung oleh besarnya pendaftaran tentara sehingga jumlah tentara menjadi membengkak. Oleh karena itu, dibentuklah kesatuan tentara yang lebih besar dari divisi.
Dalam bidang militer pun, Napoleon terkenal dengan penggunaan artileri secara besar-besaran dalam peperangan. Napoleon lebih nmenyukai penggunaan artileri daripada menggunakan infantri secara langsung. Dalam pemilihan artileri, Napoleon lebih memilih artileri yang memiliki daya jelajah yang tinggi untuk mendukung taktik yang dijalankan dalm peperangan.
Itulah sekilas mengenai Maximilien Robespierre dan Napoleon Bonaparte, tokoh revolusi Perancis. Semoga penjelasan mengenai kedua tokoh revolusi Perancis ini bermanfaat bagi Anda. Selamat membaca!

