Tan Malaka: Tokoh Sosialis Indonesia yang Terbuang
Rakyat Indonesia mungkin akan mengetahui tokoh sosialis Indonesia yang banyak memberikan pemikiran – pemikirannya yang sangat tajam dan intelektual ini. Tokoh sosial dengan pemikiran – pemikirannya tersebut oalah Tan Malaka. Sebagai seorang sosialis, di daerah Padang Tan Malaka ini di beri gelar Ibrahim Datuk Tan Malaka. Banyak sekali perkiraan yang menjadi tempat peristirahatannya, karena sepeti yang sudah kita ketahui, akhir dari perjalanan hidup sang sosialis ini tidak di ketahui dengan pasti dengan bukti yang nyata. Hal ini di karenakan pemikirannya yang revolusioner dan kontroversial ini menyebabkannya ia banyak di asingkan.
Tan Malak ini dikenal sebagai tokoh sosialis yang mempunyai pemikiran – pemikiran yang banyak membanu dalam perkembangan pembangunan Indonesia sejak jaman penjajahan terjadi. Pemikiran – pemikirannya yang sangat berbobot dan kontroversial membuatnya harus sering di asingkan dan bahkan di buang kemudian di penjarakan. Tokoh sosialis ini merupakan ketua dari Partai Murba yang ia dirikan. Pemikiran – pemikirannya tersebutlah yang membuat ia terkenal dan dijadikan sebagai tokoh revolusioner Indonesia.
Dengan pemikiran – pemikirannya tersebut, ia tak segan mengkritik pemerintahan Hindia – Belanda, bahkan juga ia mengkritik sistem pemerintahan Indonesia yang di pimpin oleh Soekarno setelah Indonesia merdeka. Ia juga sring terlibat konflik dengan organisasi atau Partai Komunis Indonesia atau yang biasa disingkat dengan nama PKI.
Dalam perjalanan hisupnya Tan Malaka menghabiskan waktunya dengan pengasingan – penagsingan dan ancaman – anacama yang berasala dari pemerinyahan Belanda dan para sekutunya untuk penahanan atas apa yang telah ia lakukan selama ini dengan pemikiran – pemikirannya tersebut. Namun, dengan kemampuannya tersebut, ia bahkan mampu mendirikan komunitas pejuang pada eranya se Asia Tenggara. Dengan pemikiran dan tindakan perjuangan yang ia lakukan, maka ia pun dijadikan ssebagai seorang pahlawan Indonesia sebagai tokoh sosialis.
Tidak seperto kabar yang beredar, Tan Malaka merupakan orang yang beragama. Hal ini bertolak belakang dengan kabar bahwa ia merupakan orang yang anti Ketuhanan. Ia merupakan pendiri Partai Murba dan juga Bergabung dengan SI atau Serikat Islam. Ia juga di besarkan dan berkembang di lingkungan Kaoem Moeda Islam di Sumatera Barat.
Namun, tokoh sosialis ini juga di duga menjadi salah satu orang yang melatar belakangi penculikan Sutan Sjahrir yang mempunyai perbedaan pandangan tentang perjuanagn menghadapi penjajahna Belanda pada masa itu.
Tan Malaka
Tan Malaka meninggal pada tahun 1949 di bulan Febuari. Kematiannya ini masi menjadi misteri yang tidak terpecahkan hingga saat ini. Kabar beredar bahwa tokoh sosialis ini meninggal karena telah di bunuh oleh seorang brigade yang di pimpin oleh Letkol Surachmad. Kematinannya ini memang menuai banyak persepsi yang timbul di kalangan masyarakat Indonesia pada saat itu. Ia menghilang tanpa jejak dan tanpa mayatnya sekalipun.
Jika kita melihat dari sosok Tan Malaka ini sendiri, ia merupakan tokoh sosialis yang pernah di miliki oleh bangsa ini. Keberadaan Tan Malaka ini bisa di sejajarkan dengan tokoh – tokoh Indonesia lainnya seperti Buya Hamka, Soekarno, Hatta, Syahrir, da tokoh Indonesia lainnya. Hal tersebut dikrenakan oleh pemikiran – pemikiran besarnya terhadapa pandangan perkembangan Indonesia pada saat iti dan mungkin saja bisa mengubah polemik – polemik yang adadi negeri ini juga.
Berakhirnya kisah hidup Tan Malak ini di karenakan hanya sebagai kepentingan politik saja, dengan hanya karena kepentingan politik saja ia dijadikan seorang yang sanagt baik untuk dijadikan tahanan dan hidupnya penuh dengan kenistaan yang dilakukan oleh beberapa pihak. Tan Malaka yang merupakan tokoh sosialis dengan pemikiran yang besarnya tersebut dengan kejamnya dibuang begitu saja. Bahkan hasil karya sejarah yang merupakan karyanya yang berjudul Madilog pun di hilangkan begitu saja dan di cap sebagai buku hitam yang di haramkan keberadaannnya.
Madilog
Pada masa orde baru yang di pimpin oleh pemerinahan Soeharto, tokoh sosialis ini banyak mendapat kenistaan dalam hidupnya. Kabar yang dihembuskan oleh pihak yang bertanggung jawab tentang anti ketuhanan yang di anut oleh tokoh sosialis ini begitu kencang di hebuskan. Dan lagi kabar keberpihakkan ia dengan PKI yang juga banyak membuat hidupnya sengsara sangat kental dalam perjalanan hidup Tan Malaka. Namun, walaupun begitu ia tidak pernah patah semangat dalam menapaki hidupnya. Ia teurs berjuang dengan pemikiran yang ia punya.
Dengan kabar – kabar tersebut, tokoh sosialis ini di cap negatif keberadaannya. Hal ini membuat pemikiran – pemikirannya pun tidak tersenth oleh orang yang berpendidikan kala itu bahkan sebagian masyarakatpun enggan mengakuinya. Hal tersebut disebabakan karena kabar keberpihakkannya dengan PKI yang menorehkan kisah kelam dalam negeri ini. Akibat stigma yang berkembang, Tan Malaka yang merupakan tokoh sosilais bangsa Indonesia ini terlupakan akan perjuangan tentang pemikiran - pemikirannya tersebut.
Padahal, kenyataan sejarah berbicara lain. Tuduhan bahwa Tan Malaka sebagai komunis yang mengharamkan keberadaan Tuhan, sama sekali tak berdasar. Sebaliknya, ia adalah seorang pemikir yang menitikberatkan pada pola pikir yang berdasarkan kenyataan rill atau realistis. Tan Malaka berupaya melawan cara berpikir kuno, penuh mistik, dan dominan takhayul. Pola pikir khas para budak tersebut, harus diberantas. Tokoh sosialis ini branggapan bahwa kehidupan yang berkembang di negara Indonesia ini harus berdasarkan logika yang ada bukan pemikiran yang kuno yang pada saat itu berkembang pesat dikalangan mayarakat.
Berdasarakan pemikirannya terhadaa agama, ia berfikir bahwa masyarakat Indonesia selalu beribadah dengan memfokuskan pada kegaiban. Dengan pengharapan kenikamatan surga atau kesengsaraan neraka. Hal tersebut di fikurnya salah seiring dengan perkembangan manusia yang membutuhkan ibadah sebagi penentraman diri masing – masing.
Pola berpikir seperti ini tergambar jelas dalam bukunya, Madilog yang merupakan singkatan dari Matrealisme-Dialektika-Logika. Dalam bukunya tersebut, Tan Malaka mengajak bangsa Indonesia untuk berpikir secara ilmiah. Bukan berpikir secara hafalan, dogmatis, atau pun doktriner. Pijakan cara berpikir Madilog adalah rasional secara akal sehat dengan menghubungkan bukti nyata atau fakta, atau berpikir secara materialis, dialektis, dan logis.
Madilo ini merupakan satu buku yang ia buat dan di menjadikan ia sanagt terkenal dengan hasil karyanya tersebut. dalam buku ini di ceritakan tentang kondisi, situasi, dan segala macam yang di lamai oleh banyak rakyat Indonesia pada saat itu. Pemikiran – pemikiran dari tokoh sosialis dalam bukunya ini menceritakan bagaiman ia sangat peduli pada rakyat Indonesia, rakyat jelata, dan ia membe;la wong cilik ini dengan pemikiran – pemikiran yang ia tuangkan di dalam buku madilog ini.n
Banyak orang berpendapat, bahwa pemikiran yangdi usung oleh Tan Malakn ini merupakan perkembangan yang di ambil dari teori yang di buatboleh Karl Marx. Namun itu tidak sepenuhnya benar, tokoh sosialis ini hanya menggambarakn pemikirannnya dengan melihat keadaan bangsa Indonesia pada saat itu. Pemikiran tentang kemiskinannya terlahir dari sistem kapitalis yang ada dalam teori Karl Marx tersebut. pemikiran Tan Malak ini murni lahir dari pandangannya terhadap situasi, kondisi bangsa Indonesia pada saat itu.
Sebenarnya tidak hanya madilog saja buku yang ia buat berdasarakan pemikirannya yang hebat tersebut, masih banyak buku yang berisi pemikirannya yang cerdas yang ia buat ketika mengalami pengasingan, penahanan, dan penyiksaan yang ia alami. Buku – buku yang di buat oleh tokoh sosialis ini aa di semua bidang, seperti kemasyarakatan, politik, ekonomi, kebudayaan, dan sebaginya.
Tan Malaka memang seorang tokoh sosialis terbesar Indonesia. Seorang pemikir pertama mengenai kehidupan sosial pertama di Indonesia. Pemikiran - pemikiran yang ia tuang ke dalam buku - bukunya tersebut menggambarakan betapa ia sangat peduli terhadap rakyat Indonesia. Dari sini kita mungkin bisa belajar mengenai filsafat yang menjadi dasar pemikiran dari seorang Tan Malaka sang pahlawan sosial Indonesia.

