Muhammad Yamin, Tokoh Sumpah Pemuda
Setiap tanggal 28 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Peringatan tersebut selalu dimeriahkan pula dengan kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai bentuk kebanggaan dan kecintaan kita terhadap bahasa Indonesia. Sebab, dalam Kongres Pemuda itulah bahasa Indonesia diakui secara de facto sebagai bahasa persatuan. Ikrar sumpah pemuda tersebut dirumuskan oleh tokoh sumpah pemuda, Muhamad Yamin.
Muhamad Yamin, Putra Sumatra Barat
Tokoh yang berperan penting melahirkan gagasan Sumpah Pemuda ini dilahirkan di Sawahlunto, Sumatra Barat, pada Kamis, 23 Agustus 1903.
Muhammad Yamin merupakan putra dari Usman bergelar Bagindo Khatib, yang pada masa penjajahan Belanda bekerja sebagai mantri kopi. Jabatan tersebut cukup terpandang pada saat itu. Adapun ibunda Muhammad Yamin bernama Siti Sa’adah berasal dari Padang Panjang.
Yamin menikah dengan seorang wanita Jawa bernama Raden Ajeng Sundari Merto Amodjo pada 1934. Dari hasil pernikahan tersebut, Muhammad Yamin memiliki seorang putra bernama Dang Rahadian Sinajangsih Yamin.
Muhamad Yamin dan Gerakan Kepemudaan
Ketertarikan Muhammad Yamin terhadap pergerakan kepemudaan diawali dengan kedatangan salah seorang anggota Jong Soematraen Bond bernama Nazir Dt. Pamuntjak ke Padang.
Awalnya, Nazir hendak berangkat ke negeri Belanda untuk bersekolah. Karena pelayarannya terhambat oleh kecamuk Perang Dunia I (1914-1918), maka Nazir menunda keberangkatannya dan pulang ke Padang. Saat itu lah Nazir memberikan penjelasan tentang rencana pendirian cabang Jong Soematraen Bond di Padang dan Bukittinggi.
Nazir dibantu oleh Mohammad Taher Marah Sutan menyelenggarakan rapat para pemuda pelajar di gedung Syarikat Usaha di Padang. Dalam rapat tersebut Nazir berpidato menggunakan bahasa Belanda. Sebab, saat itu bahasa Indonesia belum lazim dipergunakan.
Dalam pidatonya, Nazir memberikan semangat kepada para pemuda pelajar Sumatera untuk segera bangkit. Kebangkitan tersebut ditandai dengan mendirikan perkumpulan atau organisasi kepemudaan. Pidato Nazir saat itu sangatlah berhasil. Berdirilah cabang Jong Soematraen Bond di Padang dan Bukittinggi.
Dalam perkumpulan pemuda itulah Mohammad Yamin meniti karirnya di bidang organisasi bersama dengan Mohammad Hatta. Jong Soematraen Bond kemudian berubah nama menjadi Pemuda Sumatera.
Rumusan Sumpah Pemuda
Sebelum dilaksanakan Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, perkumpulan pemuda-pemuda dari berbagai daerah memiliki keinginan untuk bersatu. Di samping itu, Perhimpunan Indonesia di Nederland giat mendorong terwujudnya persatuan bangsa.
Yamin berpandangan bahwa Indonesia masa depan akan direkatkan oleh satu bahasa, yakni bahasa Indonesia. Terinspirasi oleh Sumpah Palapa Gajah Mada, Muhammad Yamin pun membuat konsep Sumpah Pemuda untuk dibacakan sebagai hasil Kongres Pemuda II yang dilaksanakan pada 28 Oktober 1928.
Muhammad Yamin dalam pidatonya menyampaikan pesan untuk generasi muda, yakni ada hak bagi para pemuda Indonesia untuk mendekatkan diri dengan tanah airnya, dengan bangsanya yang telah melahirkannya; pemuda merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk menanam segala cita-cita dan tujuan; di dalam dada pemuda tersimpan kemauan zaman baru, zaman yang akan datang; dan kemauan pemuda adalah banjir yang tak boleh dihambat. Oleh karena itu, bangsa ini dibangun oleh semangat kaum muda dan tugas kaum muda lah untuk memajukan bangsa ini selanjutnya.
Keteguhan hati Muhammad Yamin dalam memperjuangkan kemerdekaan sangat luar biasa. Ia sangat yakin akan cita-citanya untuk mewujudkan Indonesia Raya. Ia mengatakan bahwa cita-cita itu bukanlah hal yang mustahil. Mewujudkan Indonesia Raya bukanlah bualan belaka, melainkan suatu bangunan dengan tiang yang kokoh.
Pada rapat akhir Kongres Pemuda II 1928, Muhammad Yamin menyodorkan usulan rumusan pernyataan hasil kongres. Rumusan tersebut kemudian disetujui oleh Soegondo sebagai ketua dan Amir Sjaripudin sebagai bendahara.
Kemudian, rumusan tersebut dibacakan di depan kongres dan disetujui oleh seluruh peserta. Rumusan hasil Kongres Pemuda II 1928 yang dibuat Muhammad Yamin tersebut sekarang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Ikrar tersebut sangat menjiwai semangat pemuda Indonesia pada masa berikutnya.
Muhammad Yamin meninggal dunia pada 17 Oktober 1962 di Jakarta.






