Kaum Muda Sebagai Tokoh Penting Kemerdekaan
Ilustrasi tokoh tokoh kemerdekaan
Sejarah membuktikan bahwa tokoh tokoh kemerdekaan Indonesia didominasi oleh orang-orang muda yang ingin segala sesuatu terselesaikan dengan cepat. Bahkan, jika tidak ada orang-orang muda tersebut, momentum kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II tidak akan bisa dimanfaatkan sebagai titik penting dalam proklamasi kemerdekaan RI. Darah muda mereka bahkan begitu mendidih hingga mereka menculik para tokoh tua. Peristiwa penculikan itu memang cukup menegangkan walau akhirnya terselesaikan dengan baik.
Jiwa Muda Tidak Ingin Menanti Lama
Sebenarnya tokoh-tokoh kemerdekaan dari golongan muda ini berjuang dengan hati. Namun, cara mereka yang begitu agresif terkadang malah diartikan berbeda oleh tokoh lain dari golongan yang berusia sudah lebih tua. Memang merupakan pemandangan yang lumrah ketika menyaksikan gerakan anak muda yang begitu dinamis dan menginginkan sesuatu terjadi dalam waktu yang sangat cepat. Mereka seolah tidak mempunyai cadangan kesabaran. Tenaga mereka yang masih begitu besar itu membuat mereka ingin melihta hasil perjuangan itu segera.
Para pejuangan muda itu bukannya tidak menghargai apa yang telah terjadi dengan para tokoh perjuangan yang telah lebih dahulu berjuang. Namun, mereka melihat satu peluang yang sangat bagus dan tidak boleh dilewatkan. Mereka juga tidak menginginkan satu kemerdekaan dibalut dalam kata ‘hadiah’. Perjuangan mereka sudah cukup untuk mengatakan bahwa kemerdekaan Indonesia itu direbut dan bukan merupakan hadiah dari siapapun termasuk Jepang apalagi Belanda.
Melihat situasi tersebut, para tokoh muda ini bergerak cepat dan kalau apa yang mereka tuntut tidak dikabulkan oleh tokoh tua, maka mereka melakukan suatu gerakan ‘revolusi’ yang membuat mereka bertindak diluar kebiasaan ketika akan berunding. Alasan dan argumentasi yang diberikan oelh para tokoh muda ini masuk akal dan bisa diterima semua pihak, sehingga dengan keterbatasan, para pejuang mempersiapkan teks proklamasi yang cukup fundamental itu.
Dengan menyusun strategi yang sangat jitu, mereka menyusun teks proklamasi di rumah Laksamana Meida. Lalu pagi harinya, Sukarno yang apda saat itu ternyata sedang sakit, membacakan teks proklamasi itu dengan suaranya yang sangat khas. Muhammad Hatta berdiri di belakang Sukarno sedikit. Hebatnya lagi adalah bahwa teks proklamasi itu disiarkan ke radio hingga ke luar negeri. Beberapa bangsa langsung mengakui kemerdekaan Indonesia. Misalnya, Palestina, Mesir, India. Memang ketiga bangsa itu bukan bangsa penjajah.
Mereka bahkan merupakan negara jajahan. Apalagi Palestina yang hingga kini terus berjuang merebut kemerdekaannya dari tangan bangsa Yahudi. Bagaimanapun pengakuan adalah satu pengakuan yang dilakukan oleh bangsa yang merdeka. Pengakuan itu sangat membanggakan dan menambah semangat juang rakyat Indonesia. Walaupun ternyata proklamasi kemerdekaan itu bukanlah awal untuk segera membangun, hal ini tetap saja dijadikan satu tonggak kemerdekaan jiwa dan raga dari penindasan penjajahan.
Benarkan Telah Merdeka?
Setelah proklamasi kemerdekaan itu, bangsa ini masih menghadapi agresi militer Belanda yang dibantu oleh Inggris. Dengan semangat yang menggebu dari kaum muda termasuk Panglima TNI Sudirman yang ketika itu sedang sakit, telah membuat bangsa ini solid dan mampu menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia itu ada dan akan tetap ada. Sayangnya, jiwa kemerdekaan ini seolah hilang karena hingga kini, bangsa yang besar ini masih juga dijajah secara pemikiran dan ekonomi oleh bangsa lain.
Pendidikan yang belum juga menemukan titik yang terang sebagai satu tonggak pencerahan jiwa generasi muda, telah membuat bangsa ini seolah kebingungan. Harus bagaimana menentukan sikap dan meletakkan pondasi yang bagus bagi pendidikan anak-anak muda Indonesia. Mulai dari Ujian Nasional hingga berbagai pungutan yang mengharuskan orangtua membayar sekolah dengan biaya yang cukup tinggi. Entah akan seperti apa bangsa ini kalau kemerdekaan tidak diisi dengan hal positif sehingga bangsa ini menjaid bangsa yang disegani lagi.
Ditingkat internasional, Indonesia seolah tidak mempunyai daya tawar yang baik. Investasi masih banyak yang belum didapatkan oleh bangsa ini. Pembangunan jalan dan pembangunan infrastruktur penunjang pergerakan dan pertumbuhan ekonomi masih tersendat. Apalagi di mata dunia, bangsa ini adalah bangsa yang sangat korup. Seolah tidak ada satu bidang pun yang luput dari praktik korupsi. Termasuk pengadaan Al-Quran pun dikorupsi. Luar biasa! Bangsa ini seolah tidak mempunyai hati lagi.
Kalau bangsa ini ingin hebat, hal yang harus dibenahi pertama kali adalah mental para penyelenggara negara dan para politisi. Keduanya mempunyai akses yang sama terhadap keuangan dan kebijakan yang langsung terkena dengan masyarakat bawah. Kalau kesejahteraan semua rakyat masih jauh dari jangkauan, biasanya akan banyak sekali protes dan kejahatan akan meningkat. Indonesia harus mempunyai pemimpin yang hebat agar rakyat bisa mencontohnya dan melakukan hal yang jauh lebih baik dari apa yang telah dikerjakan oleh pendahulunya.
Jangan sampai para generasi hebat malah diambil oleh negara lain. Anak-anak cerdas itu diberi beasiswa, lalu semua pembayaran sekolah dan dana untuk hidup di negeri orang dibayari. Dengan syarat bahwa setelah lulusa dari pendidikannya, anak-anak muda berprestasi ini harus tinggal di negera pemberi dana beasiswa dan mengabdi kepada negara tersebut. Bukankah hal ini telah memasuki fase penjajahan yang sebenarnya?
Untuk lebih memberikan gambaran bagaimana tokoh muda pejuang kemerdekaan bekerja dan berjuang dengan tulus, berikut ini adalah kisah ketika mereka menuntut par apejuang yang usianya telah lebih tua, untuk segera mengambil tindakan dan memproklamasikan Indonesia. Tentu saja bukan sembarang anak muda. Mereka merupakan anak-anak muda yang berilmu dan dengan ilmunya mereka bahu-membahu membuat karya yang bisa dimanfaatkan oleh banyak orang.
Indonesia dari Belanda dan Indonesia dari Jepang
Sebenarnya, wacana kemerdekaan RI sudah tercetus jauh-jauh hari. Nama Indonesia sendiri konon pertama kali tercetus bukan dari bibir orang Indonesia, tetapi Ratu Belanda. Namun, banyaknya mosi, misi, dan keadaan yang tidak menguntungkan, hal ini terkatubg-katung. Tanpa mengurangi kredibilitas para pahlawan, gerakan humanis Belanda menyumbang sedikit banyak dalam hal pembentukan jiwa dan karakter para tokoh muda.
Dari perubahan gaya poilitik itu, kemudian menciptakan politik etis. Politi etis ini menerapkan edukasi bagi rakyat Indonesia (meski awalnya terbatas hanya untuk orang-orang elite yang kemungkinan memberontaknya relatif lebih sedikit karena jika mereka memberontak mereka juga akan kehilangan kedudukan dalam masyarakat umum).
Edukasi inilah yang menghasilkan tokoh-tokoh tua seperti Soekarno yang meroket melalui PNI (Partai Nasional Indonesia), Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, dan tokoh-tokoh seangkatan mereka. Awalnya, pada masa muda, mereka cukup radikal dalam bergerak. Seiring bertambahnya usia, bisa jadi mereka lebih matang atau lebih berhati-hati bergerak sehingga lebih memilih menunggu “sesuatu”.
Titik Krusial “Sesuatu” tersebut benar-benar terjadi pada 1942. Jepang mengambil-alih kekuasaan atas Indonesia dari tangan Belanda. Dimulailah era baru dan dimulai pula penggarapan pengalihan kekuasaan dari Jepang ke Indonesia melalui PPKI (gantinya BPUPKI) pada 7 Agustus 1945. Tampaknya, Jepang sudah mulai mengantisipasi kekalahan mereka dari sekutu dengan adanya PPKI ini. Jepang masih malu dengan kekalahannya.
Misalnya, dalam pertemuan PPKI dengan Marsekal Terauchi, panglima tentara Jepang Kawasan Asia Tenggara pada 9 Agustus 1945 di Dalat, Vietnam, Terauchi menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia sudah dapat diumumkan jika persiapannya sudah selesai. Tapi anak bangsa tidak dapaty menunggu.
Lalu, ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom Sekutu yang akhirnya Jepang menyerah, Sutan Syahrir mendesak Soekarno menyatakan kemerdekaan, mumpung saat itu, Indonesia tidak dikuasai siapa pun. Namun, Soekarno tidak mau menggunakan cara radikal tersebut mengingat konsekuensinya kelak (karena bisa jadi Sekutu langsung menghancurkan Indonesia dalam sekejap jika berani mendirikan negara; akibatnya rencana jangka panjang tentang Republik Indonesia akan hancur begitu saja).
Tidak menerima sikap Soekarno yang lambat, para pemuda memutuskan untuk “menculik” Soekarno ke Rengasdengklok pada dini hari 16 Agustus 1945. Setelah dijamin Ahmad Soebardjo, Soekarno dan Hatta kemudian menandatangani proklamasi yang dirancang para pemuda. Yang menarik, para pemuda Indonesia awalnya tidak mau menandatangani proklamasi bersama anggota PPKI karena mereka menganggap PPKI adalah budak Jepang.
Sukarni, salah satu pemuda mengusulkan agar Soekarno-Hatta menandatangai proklamasi atas nama rakyat Indonesia. Jika saat itu pemuda kita adalah pemuda yang seperti zaman sekarang, suka bertele-tele dan mudah berkompromi, bisa dibayangkan betapa banyaknya tanda tangan untuk proklamasi RI. Itulah salah satu gambaran bagaimana tokoh-tokoh kemerdekaan berjuang bagi tanah air tercinta.

