Tokoh-tokoh Pendidikan
Tokoh-tokoh pendidikan di Indonesia sebenarnya sangat banyak. Akan tetapi, dapatlah kita menyebut tiga nama utama, yaitu Ki Hajar Dewantara, Raden Ajeng Kartini, dan K.H. Ahmad Dahlan. Tiga nama ini berperanan penting bagi tiap-tiap sasaran didikan mereka. Ki Hajar Dewantara berfokus pada penduduk pribumi, Raden Ajeng Kartini pada perempuan, dan K.H. Ahmad Dahlan pada orang-orang Islam.
Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar terkenal dengan slogannya, ing ngarsa sun tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Jika seseorang ada di depan, jadilah contoh. Jika berada di tengah, bantulah dengan menciptakan keadaan kondusif dan semangat. Jika berada di belakang, ikutilah yang ada di depan dengan perilaku mendukung dan membangun.
Ki Hajar juga membuka Taman Siswa, tempat pendidikan pertama untuk bangsawan Jawa. Hal ini adalah terobosan besar karena sebelumnya, orang Jawa sengaja dilarang berpengetahuan agar tidak memberontak pada pemerintah kolonial.
R.A. Kartini
Raden Ajeng Kartini yang lahir pada 21 April 1879 adalah salah satu pelopor pengajaran untuk perempuan. Pada masanya, sesuai dengan adat Jawa -ditambah dengan keterkungkungan karena penjajahan Belanda- perempuan sangat terbelakang.
Pekerjaan mereka hanya berpusat pada dapur, anak, dan ranjang. Istilah konco wingking atau teman di belakang tampaknya berkolerasi dengan kenyataan bahwa perempuan Jawa saat itu tidak lebih dari manusia Jawa kelas dua.
Dalam suratnya kepada Profesor dan Nyonya Anton pada 4 Oktober 1902, Kartini mengaku bahwa ia tidak bertujuan menjadikan perempuan sebagai saingan laki-laki dalam perjuangan hidup dengan adanya pendidikan dan pengajaran- atau membuat perempuan tidak peduli lagi dengan urusan rumah tangga.
Sebaliknya, pendidikan ini lebih ditujukan pada tuntutan hidup seorang wanita agar perempuan lebih cakap dalam melakukan kewajibannya sebagai ibu, pendidik manusia yang paling pertama.
K.H Ahmad Dahlan
Seperti yang kita ketahui, pendiri Muhammadiyah ini sangat memegang teguh keislamannya. K.H Ahmad Dahlan berusaha memerangi TBC, singkatan dari Takhayul, Bidah, dan Churofat, yang saat itu sudah membudaya dalam dunia Islam Jawa.
Ahmad Dahlan juga sangat jenius dengan menerapkan pola pendidikan sekolah ala Barat ke dalam sistem pendidikan Islaminya di Muhammadiyah, tanpa mengurangi nilai-nilai Islam. Yang menarik, Ahmad Dahlan adalah salah satu pelopor penggunaan buku-buku praktis, seperti tata cara berwudhu, tata cara salat, dan sebagainya.
Ahmad Dahlan yang juga terinspirasi oleh Jamaluddin Al-Afghani, modernis Islam, juga membuat terobosan dengan membuat Muhammadiyah lebih bergerak ke bidang sosial.






