Filosofi Ketupat Lepas dalam Ritual Topeng Betawi

Apakah Anda berpendapat kesenian "topeng betawi" adalah teater rakyat yang sekadar menyajikan humor dalam bentuk komedi spontan?
Jika iya, ada baiknya kita menelisik lebih detail mengenai kesenian yang memiliki “hubungan darah” dengan "topeng babakan cirebon" ini.
Walaupun tari topeng betawi memiliki aturan baku mengenai vokabuler gerak tari dan pola lantai, dalam pementasannya terdapat ruang cukup luas untuk improvisasi sehingga muncul komedi-komedi spontan yang bersifat khas dan disukai penonton.
Jika kesenian wayang kulit memiliki narasi penopang berupa kisah Ramayana dan Mahabharata, kesenian tari topeng betawi pun memiliki rangka penopang yang serupa, yakni Jaka Pertaka dan Sukma Jaya.
Dalam narasi tersebut, masyarakat meyakini adanya Dewa Umar Maya yang bisa menghidupkan patung kayu dan merasuk ke dalam topeng, adanya dewa yang menyamar sebagai dalang pertunjukan. Karena itulah, tari topeng betawi pada awal kelahirannya merupakan tarian mistis yang memiliki kekuatan magis dan diyakini sebagai bentuk komunikasi manusia dengan “kekuatan yang takterlihat.”
Seiring perkembangan zaman, kemajuan ilmu dan teknologi, serta meluasnya syiar dan pemahaman agama, kesakralan tari topeng betawi mengalami kemunduran, bahkan pergeseran. Salah satu yang hilang dari dalamnya adalah ritual ketupat lepas.
Ketupat Lepas
Anda pernah melihat pemilik hajat dalam pertunjukan topeng betawi meletakkan ketupat di atas beras kuning yang telah ditaburi uang?
Ya, itulah yang disebut ritual ketupat lepas. Dalam pelaksanaannya, harus disaksikan oleh kembang topeng. Ritual ini merupakan simbol bahwa pemilik hajat telah memenuhi nazar, nazar apapun.
Pemilik hajat akan memegang takir berisi beras kuning bertabur uang dan ketupat lepas di atasnya, lalu tangan satunya lagi menyalami tangan orang yang dihajati. Setelah itu, pernyataan lepas nazar diucapkan si empunya hajat, dilanjutkan dengan doa-doa khusus dalam tradisi Betawi. Jika semua prosesi tadi telah dilewati, takir dihentakkan ke atas dan bertaburanlah beras berikut uang logam, berserakan di lantai dan menjadi rebutan anak-anak.
Ketupat lepas memiliki makna filosofis yang cukup dalam. Salah satunya adalah ajaran moral untuk selalu memegang janji, memenuhi nazar, dan tidak menganggap remeh apa yang sudah diucapkan atau dijanjikan. Baik itu sengaja maupun tidak sengaja, setiap janji harus ditepati dan setiap nazar harus dipenuhi.
Apabila nazar dan janji sudah dipenuhi, diharapkan barakah dan rahmat Tuhan akan bertaburan kepada orang tersebut sebagaimana beras kuning dan uang logam yang bertaburan di lantai.
Pergeseran Budaya
Saat ini, kesenian topeng betawi sudah semakin tersudut oleh perkembangan budaya modern. Semakin jarang kesenian ini dipertunjukkan karena semakin sedikit peminatnya. Generasi sekarang pun semakin berjarak dan teramat sulit mengenalnya lebih dekat. Kalaupun ada pertunjukan topeng betawi, telah banyak sekali pergeseran makna di dalamnya.
Nilai kesakralan pertunjukan topeng telah mengalami pergeseran sangat drastis. Topeng betawi yang dikenal sekarang sekadar memenuhi aspek-aspek hiburan. Pergelarannya pun tidak lagi mendampingi ritual tradisi seperti perkawinan, khitanan, dan sebagainya. Sekarang ini, tari topeng betawi bisa saja dipertunjukkan dalam momen-momen bebas, kapan saja dan di mana saja.
Berhadapan dengan budaya modern yang serba instan, mau tidak mau, tari topeng betawi juga harus merevisi durasi tayangnya. Tentu saja ini memengaruhi struktur baku pergelaran sebelumnya dan semakin bergeser jauh dari aslinya.
Improvisasi-improvisasi semacam itu bolehlah dimengerti sebab sebuah kebudayaan akan selalu berkomunikasi dengan konteks-konteks yang ada dan menemukan kebaruan-kebaruan untuk tetap bertahan melintasi zaman. Semoga kesenian tari topeng betawi masih terus lestari di bumi pertiwi.






