Tiga Tradisi Suku Dayak yang Terkenal
Tradisi suku Dayak dan adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun, tetap terpelihara hingga kini. Suku Dayak yang terkenal dengan berbagai macam ilmu supranaturalnya ini memegang teguh adat istiadat mereka sehingga dunia mistik yang mereka miliki ini memiliki kekuatan yang tetap sama kuatnya seperti zaman dahulu.
Berikut ini akan dijabarkan adat istiadat suku Dayak yang terkenal dan masih dilaksanakan hingga sekarang.
- Uparacara Tiwah
Upacara Tiwah ini merupakan salah satu ritual adat untuk mengantarkan tulang belulang orang yang sudah meninggal ke sebuah rumah kecil yang secara istimewa mereka buat sebagai tempat peristirahatan terakhir orang tersebut. Tradisi Tiwah ini diiringi dengan berbagai macam ritual berupa tari-tarian, pukulan gong yang berirama, hingga berbagai macam hiburan sebagai perayaan terakhir untuk sang pemilik tulang belulang. Rumah kecil tempat peristirahatan terakhir itu dalam bahasa Dayak disebut Sandung.
- Mistik
Suku Dayak terkenal dengan keahlian dalam dunia mistiknya yang sangat kuat dan hebat sehingga tidak salah jika masyarakat kita saat ini pun masih sangat segan jika berhadapan dengan suku Dayak. Salah satu ilmu yang sangat terkenal adalah Manajah Antang.
Manajah Antang biasanya digunakan oleh suku Dayak untuk mencari seseorang yang menjadi musuh mereka. Walaupun si musuh itu bersembunyi di daerah yang tersembunyi sekalipun di mana orang awam tak bisa menemukan, namun orang suku Dayak akan dengan mudah menemukannya. Biasanya yang mereka gunakan untuk menemukan musuh ini adalah dengan memanggil arwah para leluhur dengan perantaraan burung Antang. Burung itulah yang akhirnya menunjukkan tempat persembunyian si musuh.
Mungkin jika pemerintah meminta tolong kepada suku Dayak untuk mencari para koruptor kelas kakap yang menghilang, maka para koruptor itu juga akan segera dapat ditemukan dengan mudah. Sayangnya, orang suku Dayak ini adalah orang-orang yang cinta damai sehingga hanya orang-orang yang benar-benar dianggap membahayakan suku mereka sajalah yang mereka anggap sebagai musuh.
- Tradisi Mangkuk Merah
Jika keadaan suku mereka dalam kondisi yang membahayakan, maka sebuah mangkuk merah yang merupakan lambang persatuan akan segera beredar dari satu kampung ke kampung yang lain dengan sangat cepat. Biasanya yang memutuskan untuk mengedarkan mangkuk merah adalah seseorang tetua suku yang biasanya di panggil Pangkalima atau dalam Bahasa Indonesia disebut “Panglima”.
Hingga kini, masih banyak penduduk Kalimantan yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Panglima suku Dayak tersebut. Menurut cerita yang beredar, ia adalah manusia biasa saja, namun memiliki kekuatan mistik yang sangat hebat. Ia kebal terhadap berbagai jenis senjata dan dapat terbang. Panglima suku Dayak ini juga dikenal dengan nama Panglima Burung (Tjilik Riwut).
Tariu adalah upacara adat memanggil roh leluhur untuk dimintai pertolongan dan sebagai pernyataan perang. Tarian biasanya dilakukan sebelum mangkuk merah diedarkan.
Mangkuk merah adalah mangkuk yang dibungkus dengan kain berwarna merah. Mangkuk merah yang terbuat dari tanah liat itu berbentuk bundar. Di dalam mangkuk itu berisi berbagai macam benda dengan maksud dan tujuannya masing-masing.
Biasanya didalam mangkuk merah itu terdapat:






