logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Suku    Suku Dayak

Mengenal Berbagai Tradisi Suku Dayak


Ilustrasi tradisi suku dayak

Tradisi suku Dayak dan adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun, tetap terpelihara hingga kini. Suku Dayak yang terkenal dengan berbagai macam ilmu supranaturalnya ini memegang teguh adat istiadat mereka sehingga dunia mistik yang mereka miliki ini memiliki kekuatan yang tetap sama kuatnya seperti zaman dahulu. Berikut ini akan dijabarkan adat istiadat suku Dayak yang terkenal dan masih dilaksanakan hingga sekarang.

Tradisi Suku Dayak: Uparacara Tiwah

Upacara Tiwah ini merupakan salah satu ritual adat untuk mengantarkan tulang belulang orang yang sudah meninggal ke sebuah rumah kecil yang secara istimewa mereka buat sebagai tempat peristirahatan terakhir orang tersebut.

Tradisi Tiwah ini diiringi dengan berbagai macam ritual berupa tari-tarian, pukulan gong yang berirama, hingga berbagai macam hiburan sebagai perayaan terakhir untuk sang pemilik tulang belulang. Rumah kecil tempat peristirahatan terakhir itu dalam bahasa Dayak disebut Sandung. Upacara Tiwah terdiri dari serangkaian acara yang dilaksanakan dalam waktu beberapa hari dan memakan biaya yang tidak sedikit.

Upacara Tiwah hanya dilakukan oleh warga Dayak Kalimantan Tengah. Upacara ini merupakan upacara kematian yang sudah dilaksanakan selama ratusan tahun. Upacara ini merupakan salah satu ritual kepercayaan masyarakat Dayak.

Seseorang yang meninggal akan dikuburkan sampai batas waktu tertentu (sampai kira-kira hanya tersisa tulang belulangnya). Lantas kuburan tersebut digali kembali untuk memindahkan tulang belulang tersebut ke tempat peristirahatan terakhirnya. Secara filosofis, upacara Tiwah merupakan bentuk prosesi untuk mengantarkan roh leluhur ke alam baka. Prosesi ini juga dipercaya dapat membuang sial bagi keluarga yang ditinggalkan.

Tradisi Suku Dayak: Manajah Antang

Suku Dayak terkenal dengan keahlian dalam dunia mistiknya yang sangat kuat dan hebat sehingga tidak salah jika masyarakat kita saat ini pun masih sangat segan jika berhadapan dengan suku Dayak. Salah satu ilmu yang sangat terkenal adalah Manajah Antang. 

Manajah Antang biasanya digunakan oleh suku Dayak untuk mencari seseorang yang menjadi musuh mereka. Walaupun si musuh itu bersembunyi di daerah yang tersembunyi sekalipun di mana orang awam tak bisa menemukan, namun orang suku Dayak akan dengan mudah menemukannya. Biasanya yang mereka gunakan untuk menemukan musuh ini adalah dengan memanggil arwah para leluhur dengan perantaraan burung Antang. Burung itulah yang akhirnya menunjukkan tempat persembunyian si musuh. 

Mungkin jika pemerintah meminta tolong kepada suku Dayak untuk mencari para koruptor kelas kakap yang menghilang, maka para koruptor itu juga akan segera dapat ditemukan dengan mudah melalui tradisi suku Dayak yang satu ini. Sayangnya, orang suku Dayak ini adalah orang-orang yang cinta damai sehingga hanya orang-orang yang benar-benar dianggap membahayakan suku mereka sajalah yang mereka anggap sebagai musuh.

Tradisi Suku Dayak: Tradisi Mangkuk Merah

Jika keadaan suku mereka dalam kondisi yang membahayakan, maka sebuah mangkuk merah yang merupakan lambang persatuan akan segera beredar dari satu kampung ke kampung yang lain dengan sangat cepat. Biasanya yang memutuskan untuk mengedarkan mangkuk merah adalah seseorang tetua suku yang biasanya di panggil Pangkalima atau dalam Bahasa Indonesia disebut “Panglima”. 

Hingga kini, masih banyak penduduk Kalimantan yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Panglima suku Dayak tersebut. Menurut cerita yang beredar, ia adalah manusia biasa saja, namun memiliki kekuatan mistik yang sangat hebat. Ia kebal terhadap berbagai jenis senjata dan dapat terbang. Panglima suku Dayak ini juga dikenal dengan nama Panglima Burung (Tjilik Riwut).

Tariu adalah upacara adat memanggil roh leluhur untuk dimintai pertolongan dan sebagai pernyataan perang. Tarian biasanya dilakukan sebelum mangkuk merah diedarkan. 

Mangkuk merah adalah mangkuk yang dibungkus dengan kain berwarna merah. Mangkuk merah yang terbuat dari tanah liat itu berbentuk bundar. Di dalam mangkuk itu berisi berbagai macam benda dengan maksud dan tujuannya masing-masing.

Biasanya didalam mangkuk merah itu terdapat:

  • Ubi jerangau merah (acorus calamus), yang melambangkan keberanian.
  • Bulu ayam, yang dimaksudkan agar bisa terbang.
  • Lampu obor dari bambu, sebagai suluh penerang.
  • Daun rumbia untuk bernaung.
  • Tali simpul dari kulit kepuak yang menunjukkan lambang persatuan.

Tradisi Suku Dayak: Tata Cara Penguburan

Bagi suku Dayak, kematian adalah hal sakral, sehingga tata cara penguburan kerabat ditetapkan dengan tegas dan terperinci di dalam hukum adat tradisi suku Dayak. Masyarakat Dayak mematuhi hukum adat tersebut selama beratus-ratus tahun lamanya. Setidaknya ada 3 macam tata cara penguburan di masyarakat Dayak:

  • Penguburan tanpa menggunakan wadah dan tanpa perbekalan, di mana posisi jenazah diletakkan secara terlipat.
  • Penguburan di dalam sebuah dolmen (peti batu)
  • Penguburan di dalam lungun (wadah kayu berbentuk mirip perahu). Lungun disimpan di atas pohon, dengan anyaman bambu atau anyaman tikar. Cara penguburan ini merupakan yang paling modern dibandingkan dengan 2 cara yang disebutkan sebelumnya.

Secara garis besar, ada 2 tahap yang dilaksanakan dalam tata cara penguburan suku Dayak, yakni penguburan tahap pertama (primer) dan penguburan tahap kedua (sekunder). Penguburan primer dilakukan dengan salah satu tata cara penguburan yang disebutkan di atas. Sifat penguburan primer adalah sementara, yaitu berarti bahwa jasad akan dikeluarkan dari makamnya untuk dimakamkan kembali (penguburan sekunder) setelah melalui serangkaian upacara adat.

Dahulu, penguburan sekunder dilakukan dengan cara menyimpan jasad di peti batu lalu dimasukkan ke dalam gua. Namun akhir-akhir ini hal tersebut tidak lagi dilakukan. Biasanya jasad dimasukkan ke peti mati lalu diletakkan di atas tiang atau dalam sebuah bangunan kecil, dengan posisi menghadap matahari terbit.

Pada suku Dayak Ngaju, ada 3 pilihan cara penguburan sekunder, yaitu:

  • Mengubur jasad di dalam tanah
  • Meletakkannya di pohon besar
  • Mengkremasinya dalam upacara Tiwah

Tradisi Suku Dayak: Ngayau

Tradisi ngayau merupakan tradisi perang antar-suku untuk memperluas wilayah kekuasaan suku tersebut. Tradisi ini termasuk tradisi suku dayak yang kejam, sadis, dan mengerikan. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan untuk memenggal kepala musuh lantas membawanya pulang ke kampung.

Saking sadisnya, zaman dahulu pun tidak semua lelaki suku Dayak sanggup melakukan ngayau. Hanya mereka yang mentalnya kuat saja yang berani melakukannya. Wanita suku Dayak di pedalaman menyukai lelaki yang bisa melakukan ngayau karena lelaki tersebut dianggap jantan dan mampu melindungi pasangannya dengan baik.

Suku Dayak dahulu percaya bahwa dengan memenggal kepala musuh, arwah musuh tersebut tak akan gentayangan dan mengganggu kehidupan mereka. Meskipun sadis, suku Dayak membatasi bahwa ngayau hanya boleh dilakukan kepada musuh lelaki. Adapun musuh perempuan dan anak-anak hanya boleh diperbudak tanpa diperlakukan dengan kejam.

Kini, tradisi ngayau sudah ditinggalkan oleh suku Dayak. Hal ini disebabkan oleh timbulnya keinginan untuk hidup damai, tentram dalam kerukunan tanpa harus was-was akan penyerangan desa sebelah. Kesadaran ini diaplikasikan dalam rapat suku Dayak yang disebut dengan Rapat Damai Tumbang Anoi yang dilakukan tahun 1894.

Selain itu, masyarakat Dayak juga sepakat untuk tidak berperang, tidak saling membunuh, memperbudak, apalagi memenggal kepala. Kalaupun ada upacara adat dalam tradisi suku Dayak yang memerlukan kepala manusia sebagai bagian dari perlengkapan ritualnya, diharuskan diganti dengan kepala hewan seperti kerbau atau sapi.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Adat Istiadat Suku Dayak, Menyatu Dengan Alam
  • Suku Dayak di Kalimantan
  • Tradisi dan Upacara Adat Suku Dayak
  • Mengenal rumah adat suku Dayak
  • Benarkah Asal Usul Suku Dayak Berasal dari Keturunan Bangsa China?
  • Cerita di Balik Patung Suku Asmat
  • Mengenal Jenis Pakaian Adat Suku Dayak
  • Tradisi Suku Dayak Pedalaman, Ngayau
  • Mengenal Pakaian Suku Dayak
  • Suku Dayak Kekayaan Tradisi Indonesia
  • Suku Dayak Asli - Suku Dayak Ma'anyan
  • Mata Pencaharian Suku Dayak
  • Tradisi Khas Suku Dayak Kalimantan
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA