Transportasi Tradisional
Pernah melihat atau pernah menggunakan alat transportasi tradisional? Dalam pergerakannya manusia membutuhkan bantuan alat transportasi. Untuk menempuh jarak yang cukup jauh, alat-alat transportasi memegang peranan yang cukup penting. Sebagai bagian dari sarana memudahkan kegiatan manusia, alat transportasi digolongkan sebagai teknologi. Ada sebuah perkembangan di sana. Ada sebuah proses penyempurnaan dari apa yang sudah ada.
Ya. Perkembangan yang terjadi pada alat-alat transportasi merupakan sebuah proses yang cukup panjang. Benda-benda itu menjadi sempurna bermula dari tidak sempurna. Penemuan-penemuan, ide-ide atau konsep-konsep awal adalah hal-hal yang menjadi bagian dari perkembangan alat transportasi ini.
Sekarang ini, kita banyak menemukan kecanggihan-kecanggihan alat transportasi yang semakin membuat gerak manusia menjadi lebih leluasa. Seperti kereta bawah tanah dengan kecepatan fantastis, mobil berbagai desain dan mesin yang membuatnya berharga milyaran, dan alat-alat transportasi canggih lainnya.
Melihat dari hal itu, alat transportasi kemudian bukan hanya memiliki fungsi sebagai alat untuk mengantarkan Anda dari satu tempat ke tempat lain. Transportasi juga memiliki fungsi estetik. Ia bukan lagi melambangkan sebuah kebutuhan seseorang terhadap waktu, tapi juga melambangkan kebutuhan seseorang terhadap gaya dan decakan kagum banyak orang.
Jika suatu benda sudah dihargai melebihi fungsinya yang terjadi adalah semakin banyaknya alat-alat transportasi dengan bentuk yang keren tetapi agak minus ketika membicarakan kekuatan atau kemampuan hakikinya. Yaitu, sebuah kemampuan bermanuver dari satu jarak ke jarak yang lain.
Tetapi, para produsen alat-alat transportasi tersebut tentunya juga bukan orang bodoh yang mengabaikan kualitas mesin atau performa alat transportasi produksinya di jalanan. Mereka pastinya sudah memiliki ramuan yang pas untuk membuat produknya bergaya sekaligus berkualitas.
Balada Si Barang-barang Tradisional
Di tengah gempuran berbagai produk baru, alat transportasi tradisional seperti terlindas olehnya. Hal-hal yang tradisional, bukan hanya alat transportasi seolah memang sudah kehilangan momentumnya. Dalam hal ini, perkembangan teknologi berperan sebagai tokoh antagonis. Beberapa orang yang merasa dampak seperti ini tidak perlu terjadi, akan menjadi pribadi yang menentang kemajuan zaman, terutama kemajuan teknologinya.
Indikasinya dapat dengan mudah dilihat dari perkumpulan-perkumpulan penggila kendaraan-kendaraan kuno. Mereka rela mengeluarkan kocek jutaan rupiah untuk mendapatkan benda yang sudah tidak lagi diproduksi dan sudah tidak lagi menjadi trend atau ketinggalan zaman.
Dilihat dari seleranya, bisa jadi mereka juga adalah para penggemar alat-alat transportasi tradisional. Mereka orang yang menghargai perjalanan dan sejarah. Sesuatu yang tradisional justru dianggap klasik dan asyik. Bernilai seni tinggi dan menarik.
Ya. Di zaman yang sudah serba maju sekarang ini, segala sesuatu yang bersifat tradisional berubah status menjadi barang antic. Padahal di masa lalu, barang itulah yang senantiasa membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Namun, bagaimanapun juga, perkembangan tetap harus dilakukan. Tidak mungkin bukan jika sampai saat ini kita masih menggunakan kereta kuda untuk mengekspor barang? Ada sesuatu yang harus dibayarkan dan ada sesuatu yang akan diterima. Begitupun dengan penggunaan alat-alat transportasi.
Alat Transportasi Tradisional Khas Indonesia
Membicarakan segala hal berbau tradisional, Indonesia bisa jadi juaranya. Negara ini unik. Indonesia bisa menerima segala macam perkembangan teknologi, tapi di sisi lain, penduduknya masih enggan meninggalkan barang-barang bersejarah. Tak heran jika di jalan-jalan raya, mobil yang tahunnya sudah lewat masih banyak dilihat.
Masyarakat Indonesia memiliki beberapa alat transportasi yang berstatus tradisional. Istilah tradisional erat kaitannya dengan penggunaan kayu sebagai bahan utama pembuatannya. Meskipun ada juga yang sudah menggunakan besi atau bahan sejenis. Untuk dapat menjumpai, bahkan mencoba menaiki alat transportasi tersebut, Anda harus pergi ke daerah. Ya. Meskipun di perkotaan juga masih cukup banyak ditemui, tetapi, suasana daerah lebih pas untuk berkendara menggunakan alat transportasi yang tradisional.
Seperti yang kita tahu bahwa suasana jalanan di kota-kota besar sudah sangat semrawut. Semuanya melaju serba cepat. Alat transportasi tradisional yang cenderung berjalan dengan lambat akan kalah saing. Akibatnya, kenikmatan menikmati serunya naik kendaraan tradisional sama sekali tidak terasa.
Coba pergi ke beberapa daerah di Jawa Tengah. Di sana, Anda akan menemukan tempat-tempat yang ideal untuk menikmati berbagai jenis kendaraan tradisional. Lalu, apa saja kendaraan tradisional yang masih banyak terdapat di negeri ini, di tengah kemajuannya?
1. Delman
Bahasa Indonesianya memang delman, tapi dalam beberapa bahasa daerah kendaraan ini memiliki nama yang lebih lucu. Masyarakat Jawa mengenalinya dengan sebutan dhokar atau andong, dan masyarakat Sunda menyebutnya dengan sado. Penyebutan sado ini berkaitan dengan asal nama kendaraan, yaitu dos-ā dos dalam bahasa Perancis yang artinya punggung dengan punggung. Yaitu sebuah kereta yang penumpangnya duduk saling memunggungi.
Konsep delman ini ditemukan oleh seorang insinyur keturunan Hindia-Belanda bernama Charles Theodore Deeleman. Tidak heran jika nama kendaraan ini pun delman, karena menyesuikan dengan nama penemunya.
Kendaraan ini tidak menggunakan mesin. Delman menggunakan tenaga kuda sebagai penggeraknya. Sebagian besar elemen dari kendaraan ini adalah kayu, bahkan hingga bagian roda. Roda pada delman jumlahnya ada bermacam-macam. Ada yang dua, empat, atau tiga.
Sejak pertama kali ditemukan, bentuk dari delman tidak berubah. Tetap seperti itu, meskipun kini bagian roda yang terbuat dari kayu sudah ada yang diganti menggunakan ban. Jarak tempuh delman memang tidak seperti mobil. Biasanya hanya mencapai beberapa kilometer.
Delman biasanya juga dijadikan sarana pariwisata di daerah-daerah tertentu. Menaiki delman akan memberikan Anda sensasi tersendiri. Anda akan dengan leluasa menikmati semilir angin pedesaan ketika delman mulai melaju. Naik delman sungguh mengesankan!
2. Becak
Jika sebagian besar bagian dari delman adalah kayu, becak tidak. Kendaraan yang tergolong tradisional ini memiliki rangka dari besi. Becak juga tidak menggunakan tenaga hewan, melainkan tenaga manusia. Kendaraan tradisional ini dapat berjalan ketika ada seorang yang mengayuhnya dari arah belakang.
Becak masih cukup banyak ditemui di kota-kota besar. Ini alternative bagi Anda yang ingin duduk santai. Menikmati ramainya jalanan. Becak memang bukan merupakan kendaraan cepat, karena benar-benar mengandalkan tenaga dan kekuatan kaki pengayuhnya yang rata-rata sudah berumur.
Alat transportasi ini sesungguhnya bukan berasal dari Indonesia. Becak merupakan budaya Jepang yang kemudian diadopsi. Bersama dengan delman, becak juga ramah lingkungan. Meskipun sekarang sudah banyak terdapat bentor atau becak bermotor yang berisik dan asapnya sangat mengganggu.
Dahulu, di negara asalnya, becak tidak dikayuh. Kendaraan ini ditarik dari arah depan. Yang bisa menumpanginya juga hanya mereka yang berasal dari kelas bangsawan. Tapi sekarang becak justru lebih akrab dengan orang-orang berstatus ekonomi rendah.
3. Sepeda Onthel
Siapa yang di rumahnya masih memiliki sepeda? Pasti cukup banyak. Tapi siapa yang di rumahnya memiliki sepeda onthel? Jawabannya pasti tidak sebanyak pertanyaan yang pertama. Sepeda onthel jelas berbeda dengan jenis sepeda lainnya. Bentuknya unik, dan yang pasti sangat tradisional.
Alat transportasi tradisional yang satu ini juga tidak menggunakan kayu sebagai elemen utamanya. Lagipula sepeda mana yang menggunakan kayu? Sepeda onthle akan dengan mudah ditemui di daerah-daerah. Penggunanya dari berbagai kalangan.
Keberadaan sepeda onthel di Indonesia juga tidak lepas dari pengaruh pihak asing.
Kali ini penjajah Belanda yang mengenalkan jenis kendaraan ini secara tidak langsung pada masyarakat Indonesia. Para penjajah tersebut membawa sepeda tersebut ke Indonesia. Sejak itu, kendaraan ini mulai banyak digunakan oleh para bangsawan.
Perlahan dan pasti, sepeda ini akrab di kalangan masyarakat Indonesia.
Ketiga alat transportasi tradisional khas Indonesia tersebut menjadi bagian dan saksi dari perkembangan alat-alat transportasi di Indonesia. Bermula dari yang sederhana, kini alat transportasi sudah banyak berubah wujud menjadi lebih mahal.

