Tsunami Flores yang menyayat Hati
Tsunami Flores, sebagaimana tsunmai-tsunami lainya selalu menyisakan banyak tangis dan kepiluan. Bukan kepalang dahsyat lagi, tsunami tersebut diawali dengan terjadinya gempa dalam 6,8 skala richter yang menimbulkan bukan hanya guncangan hebat, tapi juga membuat gelombang berketinggian 36 meter menjulang di atas laut Flores.
Data mencatat, total tsunami flores telah megakibatkan sekitar 2100 orang kehiangan nyawanya, 447 orang mengalami luka-luka dari ringan sampai berat, 500 orang hilang, dan lebih dari 5000 orang terpaksa harus diungsikan. Selain itu, berbagai infrastruktur terdiri dari 18.000 rumah, 90 sarana peribadatan dan 113 sekolah luluh lantak dihantam gelombang tsunami tersebut. Ada sekitar empat kabupaten yang terdampak langsung oleh tsunami, yang diantaranya Kabupaten Sikka, Ngada, Ende dan Flores Timur. Dan, Maumere menjadi kota terparah yang dihantam tsunami.
Tsunami di Pagi Hari
Sabtu menjadi catatan kelam warga masyarakat Flores karena kampungnya dihancurkan gelombang tsunami yang dahsyat itu. Tepatnya pukul 09.15 WITA desa Nangahale, Kabupaten Sikka diterjang tsunami yang diawali dengan gempa tektonik berkekuatan 7,5 skala richter. Korban jiwa dan luka-luka pun langsung berjatuhan. Teriakan histeris akibat kegugupan warga membuat suasana ketika tsunami Flores terjadi menjadi kian mencekam menakutkan.
Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melansir bahwa gempa terjadi dan berpusat di Laut Flores, yang berada di sebelah utara laut Maumere, dengan kedalaman 20 km. Tsunami flores terjadi akibat terjadinya pergeseran lempeng bumi yang ada di pula timur Indonesia ini.
Lebih lanjut, menurut BMKG dijelaskan bahwa kepulauan Sikka dan pulau Flores merupakan daerah paling rentan terkena gempa karena posisinya yang berada di antara dua lempeng besar, yakni Indo-Australia dan Eurasia. Terjadinya pergeseran dua lempeng besar ini akan sangat berpotensi menimbulkan getaran gempa dan disusul dengan tsunami berkategori VII MMI yang berarti berpotensi menimbulkan gempa berkekuatan besar dan tsunami yang akan menimbulkan kerusakan yang sangat parah.
Petaka 1992
12 Desember 1992, menjadi hari bersejarah di Flores. Cuaca yang normal dan aktifitas di pantai laut Flores berjalan secara wajar, tak ada tanda-tanda akan munculnya bahaya yang besar. Nelayan-nelayan masih sibuk dengan perahu dan jaringnya untuk menangkap ikan. Ibu-ibu dan anak-anak masih terlihat sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Mereka tak menyadari bahwa sebentar lagi alam akan “marah” dan menunjukkan keperkasannya.
Benar saja, tak lama berselang guncangan hebat melanda Maumere dan kabupaten Sikka. Tak lama kemudian gulungan ombak yang tinggi semakin mendekat area pantai yang secara otomatis membuat banyak warga yang kalangkabut hendak menyelamatkan diri. Semuanya bergerak menjauhi lokasi pantai sambil dibelakangnya dengan sangat menegangkan dikejar-kejar oleh gulungan ombak yang siap meluluhlantakkan mereka beserta rumah-rumahnya.
Pelabuhan Sadang Bui, yang menjadi nadi bagi kehidupan masyarakat di Flores telah terlebih dahulu hancur berantakan dihantam tsunami Flores yang dahsyat. Tak hanya itu, “hiasan” kapal yang selama ini digunakan sebagai tempat bermain anak-anak di pesisir pantai sudah terlempar jauh dari tempatnya semula. Demikian juga dengan warga yang tak sempat menyelamatkan diri banyak yang sudah hilang entah kemana diserang ombak besar tsunami flores.
Kejadian luar biasa itu, yang sekarang familiar disebut tsunami, menjadi sejarah kelam masyarakat Flores yang tak akan mudah terlupakan sampai kapanpun.






