Tumpang Sari

Sistem tanam model tumpang sari adalah cara bertani dengan menanam beberapa jenis tanaman dalam satu lahan. Tumpang sari bisa menghemat biaya pengolahan lahan serta meningkatkan hasil panen hingga berlipat ganda.
Teknik tumpang sari pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan pengolahan lahan biasa. Namun, petani perlu menjadwal waktu tanam jenis-jenis tanaman yang akan dibudidayakan secara teliti. Misalnya, jika petani ingin menanam bunga kol atau kol bulat, sawi, dan cabai, ia harus memahami sifat masing-masing tanaman terlebih dahulu untuk membuat jadwal tanamnya.
Untuk mempraktekkan sistem tanam tumpang sari, petani harus memperhatikan beberapa faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertanian, di antaranya ketersediaan air, kesuburan tanah, sinar matahari, dan hama penyakit.
Ketersediaan air akan menentrukan jenis tanaman yang akan dibudidayakan secara tumpang sari, supaya bisa tumbuh dan berproduksi dengan optimal. Kesuburan tanah adalah faktor yang mutlak ada dalam sistem tumpang sari untuk menghindari persaingan antar tanaman (penyerapan unsur hara dan air) pada satu petak lahan.
Perolehan sinar matahari pun sangat penting dan perlu diatur. Sebagaimana dalam hal kesuburan tanah, dikhawatirkan terjadi perebutan sinar matahari di antara tanaman-tanaman. Tinggi dan lebar tajuk antar tanaman yang ditumpangsarikan akan berpengaruh terhadap penerimaan cahaya matahari, sehingga mempengaruhi hasil sintesa (glukosa) dan kualitas tanaman secara keseluruhan.
Tanaman-tanaman yang dibudidayakan sebaiknya yang mempunyai hama maupun penyakit berbeda, atau tidak menjadi inang dari hama maupun penyakit tanaman lain yang ditumpangsarikan.






