TV
TV atau televisi dan media display kaca lainnya, seperti laptop komputer, atau ponsel, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Hari-hari jarang terlewati tanpa menonton tayangan televisi atau menikmati tayangan dari laptop komputer. Ketika listrik padam atau siaran televisi mengalami gangguan, sebagian orang pun menjadi uring-uringan.
Lantas, kebingungan mencari aktivitas pengganti acara nonton televisi. Walau hal semacam itu, sudah tidak segawat era masa lalu, di mana TV masih begitu menarik bagi kebanyakan orang. Namun kini alternatif TV bertebaran di mana mana, semisal internet pada tablet. Tapi bisa kita sepakati efek TV ini masihlah kentara.
Semua Karena Efek
Tak hanya orang-orang dewasa, fenomena pada anak-anak dan remaja pun tak berbeda. Anak-anak seolah tak dapat lagi berjarak dengan produk teknologi komunikasi ini. Anak-anak sedemikian betah duduk berjam-jam di depan “kotak ajaib” ini.
Sayangnya, para orang tua jarang yang menyadari bahwa kebiasaan anak menonton televisi ini harus diwaspadai. Bahkan, banyak orang tua yang senang dan bersyukur ketika anaknya yang masih balita atau usia SD betah berlama-lama nonton televisi.
Hal ini karena dengan anak menonton televisi, orang tua dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tanpa gangguan, tidak kelelahan mengawasi si anak, atau tidak capai melayani berbagai permintaan anak.
Namun, demi kelancaran bekerja atau kenyamanan tersebut, para orang tua sesungguhnya tengah membenamkan anak ke dalam potensi bahaya yang amat dahsyat. Mengapa demikian? Mari kita telisik persoalan ini agar kita semua mendapatkan gambaran yang gamblang.
Buruknya Televisi
Apakah televisi merupakan sumber penting dari hiburan bagi Anda? Apakah Anda duduk untuk menonton televisi tanpa tahu waktu dan tempat, dari rumah sampai ke tempat kerja? Apakah anak-anak Anda nimbrung dengan Anda dalam menonton sinetron reguler dan reality show?
Maka ini merupakan lonceng tanda bahaya yang mengkhawatirkan, watir! untuk Anda! Televisi, walau tampaknya bisa menjadi buster stres, belakangan malah benar-benar menambah stres mental Anda. Televisi mungkin tampak membantu Anda menyingkirkan ketegangan tetapi agak menambah beban bagi otak. Ya, televisi memanifestasikan efek negatifnya. Ini memiliki dampak yang sangat negatif pada pikiran para pemirsa.
Menghabiskan waktu menonton televisi terlalu banyak, mengkonsumsi waktu berharga bahwa alih bisa dihabiskan dalam kegiatan yang bermanfaat dan sehat seperti olahraga atau membaca. Hal ini juga akan menggunakan waktu yang Anda lebih dapat menghabiskan dengan keluarga dan teman-teman. Chatting dengan orang yang dekat, menghabiskan waktu dengan orang yang dekat adalah pengeluaran yang lebih baik dari waktu daripada menonton televisi.
Merenggut Waktu Pertumbuhan Anak
Anak-anak sekarang menonton televisi selama berjam-jam. Banyak waktu kebuang percuma, mereka menghabiskan malam mereka menonton segala jenis program ‘favorit’ di televisi. Pada saat mereka tinggal sampai larut malam untuk menonton film. Kegiatan ini menambah jam terjaga bagi anak anak ini. Artinya saat waktu istirahat, di mana kesehatan mental tengah di bangun, dan tubuh serta otak mendapat asupan istirahat dan pengembangan, malah kena distrak televisi.
Bahkan bila kena kecanduan televisi membuat mereka kehilangan waktu mereka untuk bermain. Anak-anak agak harus melakukan kegiatan fisik selama malam hari. Mereka harus pergi ke ruang terbuka untuk bermain dengan teman atau menghabiskan waktu membaca beberapa buku bagus. Selain itu, menonton televisi merugikan penglihatan seseorang. Kegiatan membaca buku, offline dari televisi ini dapat membantu mereka menjalani hidup sehat.
Para peneliti mengklaim bahwa gangguan defisit perhatian pada anak-anak adalah hasil dan jerih dari menonton televisi dalam rutinitas sehari-hari tanpa kenal waktu. Mereka mengatakan bahwa menonton televisi menyebabkan gangguan perkembangan, mempengaruhi isian dan fakultas dari otak yang bertanggung jawab untuk kemampuan bahasa.
Anak-anak yang menonton televisi lebih banyak dan membaca kurang, menunjukkan kesulitan dalam membayar perhatian atau berkonsentrasi pada pelajaran. Anak-anak menghabiskan berjam-jam dalam menonton televisi rentan terhadap terpengaruh oleh gangguan defisit perhatian.
Bahaya televisi Pada Anak-anak
Di tambah lagi, Anak-anak selalu ingin tahu dan mencoba-coba. Mereka senantiasa belajar dan meniru apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka belajar dari orang tua, teman-teman sebaya, pengasuh atau pembantu rumah tangga, juga dari tayangan televisi dan video.
Ketika mereka banyak menonton tayangan televisi maka mereka banyak belajar dan meniru dari media ini. Sedangkan, Anda dapat menakar sendiri bagaimana kualitas mayoritas tayangan televisi dan video. Televisi dipenuhi tayangan yang tidak edukatif, seperti kekerasan, pornografi, mistik, horor, komedi slapstick. Termasuk tayangan video porno yang dapat dengan mudah diunduh dari internet.
Itu artinya, televisi merupakan sumber pembelajaran yang buruk bagi anak. Artinya pula, bersama televisi, anak-anak banyak belajar hal buruk yang kemudian ditirunya dalam polah tingkahnya. Selain karena masa kanak-kanak adalah masa imitasi, mereka pun belum memiliki kemampuan untuk menarik garis tegas antara dunia nyata dan maya, juga memilah mana yang baik atau buruk. Mereka menganggap apa yang dilakukan anak-anak lain atau orang dewasa boleh juga mereka lakukan.
Tak heran, kita lazim menemui anak-anak balita lancar mengucapkan kosakata semacam pacar atau cinta. Belum lagi hasil penelitian yang menunjukkan perilaku kasar dan agresif pada anak, yang setelah diteliti lebih lanjut ternyata merupakan dampak dari menonton tayangan televisi atau video.
Tayangan televisi dan video tak hanya berdampak buruk pada pembentukan perilaku dan karakter anak-anak, tetapi juga pada kesehatan mereka. Menonton televisi membuat anak kurang aktivitas fisiknya. Tentu ini berpengaruh terhadap kualitas kesehatan anak. Ditambah macam-macam kudapan, si anak berpotensi mengalami obesitas.
Kesehatan mata juga akan terganggu jika terlalu lama berada di depan layar televisi. Kebiasaan menonton televisi atau video terlalu lama juga dapat menghambat kemampuan sosial dan komunikasi anak. Berada di rumah sepanjang waktu sambil menikmati tayangan televisi membuat anak enggan bersosialisasi dengan lingkungan sehingga kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan komunikasinya.
boleh dibilang mengerikan. Ini bukanlah asumsi semata, melainkan telah dibuktikan dalam berbagai penelitian. Agar dampak buruk ini tidak makin mengontaminasi anak-anak, kegiatan mereka menonton televisi harus dibatasi dan diawasi.
Tips-Tips Melindungi Anak dari Dampak Buruk Tayangan televisi dan Video
Tetapkan batasan maksimal waktu menonton televisi dalam sehari, misalnya 1 atau 2 jam. Disiplinlah dengan batasan ini dan jangan berkompromi, bahkan jika anak merengek ingin menonton televisi.
Berilah keteladanan. Tidak ada gunanya orang tua melarang anaknya menonton televisi atau video jika mereka sendiri atau orang-orang tua di lingkungan si anak justru gemar menonton televisi atau video.
Dampingi anak saat menonton televisi. Segera ganti saluran televisi dan beri pengertian jika anak menonton tayangan yang tidak sesuai untuk mereka.
Ajak anak bermain, misalnya tebak-tebakan, mengisi teka-teki silang, atau ular tangga sehingga mereka melupakan televisi.
Ganti TV dengan VCD atau DVD yang mendidik, tetapi jam menontonnya tetap harus dibatasi secara konsisten.
Waspadai iklan dan film anak. Tak semua film anak ramah anak. Banyak film kartun berisi adegan kekerasan atau kata-kata yang “tidak pantas”. Begitu juga dengan iklan.
Libatkan anak dalam pekerjaan-pekerjaan, misalnya mencuci, memasak, atau menyapu. Anak akan senang dan bertambah pengetahuan serta keterampilannya.
Ajaklah anak beraktivitas di luar rumah, seperti olahraga, berkebun, atau rekreasi.
***
Siapa pun pasti kenal dengan benda kotak bergambar dan bersuara satu ini. Namanya televisi atau biasa disingkatTV. Ya, televisi atauTV seperti sudah menjadi bagian peradaban manusia modern yang sulit dipisahkan.
Hampir setiap hari di sela berbagai macam rutinitasnya, manusia pasti selalu menyempatkan untuk menonton benda kotak satu ini.
Entah itu sebagai sesuatu aktivitas selingan, melepas penat, maupun aktivitas sengaja yang memang diniatkan untuk menonton acara tertentu yang sudah ditunggu-tunggu.
Di dunia, penemuan TV ini menjadi sangat fenomenal, beberapa menyejajarkan dengan berbagai macam penemuan besar lainnya seperti penemuan roda, karena mampu mengubah wujud peradaban dunia.
Kata televisi sendiri berasal dari kata tele dan vision. Kedua kata ini mempunyai arti yaitu tele (jauh) dan vision (tampak).
Jadi jika dihubungkan secara arti, televisi atau disingkat TV memiliki makna "tampak" atau "dapat terlihat dari jarak jauh".
Televisi menjadi sangat begitu berarti sebagai penentu tolok ukur maju atau tidaknya suatu bangsa. Di Indonesia penyebutan kata televisi secara tidak formal sering diganti menjadi TV, tivi, teve atau tipi.
Tak ada nama pasti yang identik dengan penemuan televisi pertama kali. Ini dikarenakan TV atau televisi merupakan proyek yang penemu atau inovatornya melibatkan banyak pihak.
Jadi bisa disebut juga TV merupakan karya massal yang perkembangannya bertahap dari tahun ke tahun dengan pelaku yang terlibat dari kalangan perorangan maupun perusahaan.
Namun jika memang harus menyebut nama, maka nama Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) sulit untuk tidak dikemukakan. Kedua orang ini adalah penemu hukum Gelombang Elektromagnetik yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik (cikal bakal televisi atau TV).
Perkembangan TV di Indonesia
Di Indonesia, industri televisi atau TV sudah dimulai kira-kira sejak 1962. Sejarahnya dimulai ketika presiden Indonesia pertama, Soekarno, yang pada waktu itu berada di Wina, Swiss, mengirim teleks kepada Menteri Penerangan yang saat itu dijabat oleh Maladi pada 23 Oktober 1961.
Presiden memerintah menterinya itu untuk segera menyiapkan proyek pengayaan saluran TV dan TVnya sendiri di negeri ini. Maka sejak saat itulah lahir sebuah stasiun kebanggaan bangsa ini yang diberi nama TVRI (Televisi Republik Indonesia). Stasiun ini yang merupakan stasiun televisi pertama yang berdiri di Indonesia.
Untuk siaran percobaan pertamanya, TVRI menggunakan pemancar cadangan dengan kekuatan 100 watt pada 17 Agustus 1962. Dan untuk pertama kalinya TVRI mengudara secara resmi pada 24 Agustus 1962. Saat itu, siaran pertamanya adalah acara siaran langsung upacara pembukaan Asian Games IV dari stadion utama Senayan Jakarta (sekarang bernama Gelora Bung Karno).
TVRI gerbang awal munculnya pertelevisian daerah..
Kehadiran TVRI sebagai stasiun TV pertama di Indonesia memberi dampak berkelanjutan dengan dirintisnya pembangunan stasiun televisi daerah (STD) di akhir 1964.
Setelah itu menyusul pembentukan stasiun-stasiun produksi keliling (SPK) di berbagai provinsi pada 1977. Stasiun produksi keliling ini ditujukan sebagai bagian dari aktivitas produksi dan perekam paket acara untuk dikirim dan disiarkan oleh stasiun pusat TVRI di Jakarta.
Seiring dengan makin berkembangnya teknologi dan majunya peradaban sebuah bangsa, menuntut adanya pemigrasian sistem kepenyiaran TV dari sistem penyiaran analog menjadi digital. Teknologi ini mulai dikembangkan di Indonesia pada 1990. Dan untuk pertama kalinya diujicoba tahun 2000 dengan pengoperasian dilakukan secara bersama dengan siaran analog sebagai masa peralihan. Di 2006, barulah beberapa pelaku bisnis pertelevisian Indonesia mulai melakukan sebuah uji coba siaran TV digital.
TV - Dari Analog Menuju Digital
TV digital adalah TV yang sistem kepenyiarannya menggunakan teknologi modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyiarkan sinyal video, audio dan data ke pesawat TV.
Banyak faktor yang melatarbelakangi pengembangan teknologi ini, di antaranya seperti perubahan lingkungan eksternal, pasar TV analog yang sudah mulai jenuh, komplain dari masyarakat tentang adanya noise, ghostpada TV analog, dan juga dipengarungi karena adanya kompetisi dengan sistem penyiaran satelit dan kabel (cable television).
TV digital atau penyiaran digital mempunyai banyak keunggulan dibandingkan siaran TV analog. Berbagai macam keunggulan itu antara lain:
| Beberapa keuntungan TV Digital |
| High Definition yang 5-6 kali lebih halis dibanding TV analog. |
| Kemampuan memproduksi suara yang seperti sumber aslinya. |
| Memiliki kemampuan untuk merekam dan mengedit siaran. |
| Satu saluran dapat diisi lebih dari lima program yang berbeda. |
Guna mendukung penerapan sistem siaran TV digital, Indonesia melalui Menkominfo mengeluarkan keputusan menteri No. 27/P/M.Kominfo/08/2008. Isinya tentang uji coba Lapangan Penyelengaraan Siaran Televisi Digital, teknologi digital yang akan digunakan adalah sistem siaran Digital Video Broadcasting Terrestrial (DVB-T).
Sistem siaran ini diklaim memiliki banyak kelebihan dibandingkan siaran TV analog seperti tahan terhadap efek interferensi, kualitas gambar tinggi, tanpa noise dan ghost, interaktif, memiliki EPG (elektronic program guide).
Selain itu, dari segi efisiensi TV digital juga unggul dalam hal efisiensi bandwidth, efisiensi network transmission, serta efisiensi konsumsi power. Dengan berbagai macam keunggulan ini, TV digital dengan sistem siaran DVB-T dipercaya sangat tepat untuk diadaptasi di Indonesia yang jumlah penduduknya sangat besar serta beraneka ragam budaya.
Negara Maju Berlomba-lomba Menerapkan Siaran TV Digital
Anda tidak perlu membeli TV baru berbasis digital, namun cukup membeli alat tambahan yang disebut rangkaian konverter atau terkenal dengan nama Set Top Box.
Sinyal siaran digital nanti akan diubah oleh Set Top Box ini menjadi sinyal analog, dengan demikian TV analog Anda dapat menyiarkan siaran TV digital.
Dengan cara ini Anda akan perlahan beralih pada teknologi siaran TV digital, namun tanpa memutuskan siaran TV analog yang selama ini Anda gunakan.
Jika melihat kondisi zaman yang semakin berkembang dengan realita seperti di atas, tentu membuat produsen elektronik mesti bersiap menyongsong era baru dunia pertelevisian.
Mereka wajib memiliki inovasi terkini pada produk TV digital yang akan digadang menjadi jagoan masing-masing dalam pasar elektronik di Indonesia. Para produsen sudah harus bersiap menghadapi penerapan sistem siaran televisi digital yang sudah mendapatkan restu dari pemerintah.
Peralihan pesawat TV analog yang ada di rumah Anda menjadi pesawat TV digital membutuhkan pergantian perangkat pemancar dan penerima siaran TV Anda. Di sinilah peran serta para produsen elektronik untuk menyediakan produk TV berbasis digital. Walaupun sebenarnya jika Anda tetap ingin memakai TV analog yang saat ini ada di rumah juga bisa.
Perpindahan sinyal siaran dari analog menjadi digital sudah banyak dilakukan oleh beberapa negara maju sejak beberapa tahun belakangan. Seperti sebut saja di Jerman. Di sana proyek penggunaan sinyal digital sudah dimulai sejak 2003 di kota Berlin, sementara untuk kota-kota besar lainnya seperti Munchen dimulai pada 2005. Sedangkan untuk negara Perancis dan Inggris sudah lebih dulu menghentikan siaran TV analog mereka secara total dan beralih ke siaran TV digital.
Untuk Amerika Serikat, salah satu barometer negara maju di dunia, penggunaan teknologi sinyal siaran TV digital diatur dalam Undang-Undang Pengurangan Defisit tahun 2005. Undang-Undang ini disetujui oleh Kongres dan mewajibkan setiap stasiun televisi lokal diminta untuk mematikan saluran analog mereka sejak 17 Februari 2009. Dan sejak 2011 yang lalu, negara maju lainnya, yaitu Jepang, telah memulai siaran TV digital secara massal.

