logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Seni    Artikel Umum Seni    Ukiran Dayak

Ukiran Dayak, Komoditi Ekspor Bernilai Tinggi

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Ukiran Dayak merupakan kerajinan yang awalnya diciptakan oleh suku yang mendiami Pulau Kalimantan. Seni ukir pada kayu ulin ini memiliki bentuk yang dekat sekali dengan alam seperti bentuk wajah dan tubuh manusia, tumbuhan, bunga anggrek, serta satwa. Ini juga menjadi ciri khas Suku Dayak dalam membuat perkakas untuk keperluan rumah tangga dan bentuk rumah adat mereka.

Rumitnya Ukiran Dayak

Masyarakat Indonesia telah mengenal berbagai jenis ukiran populer yang berasal dari Bali, Jepara, Yogyakarta, dan bahkan Cina. Hal ini dikarenakan ukiran tersebut lebih mudah dipahami dengan harga terjangkau dan mudah didapatkan di tempatnya berasal atau sebagai komoditas ekspor dan impor yang tersebar secara merata ke berbagai pelosok dunia.

Ukiran Dayak terkenal dengan kerumitan coraknya. Setiap goresan pahatnya mengandung makna yang mendalam. Satu ukiran yang dibuat dapat bercerita tentang penggalan ritual adat yang dilakukan dan tersisip doa-doa dalam kepercayaan Suku Dayak.

Pengrajin ukiran ini dahulu memahat langsung kayu ulin dengan melihat tanda-tanda di sekitar alam. Seiring perkembangan zaman dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan komoditas yang bernilai ekspor ini, pengerjaan ukiran Dayak dilakukan dengan melihat contoh sketsa dengan lama pengerjaan sekitar 3 sampai 4 bulan.

Seni ukiran Dayak bernilai jual relatif mahal dibandingkan seni ukiran dari Bali atau Jepara karena kerumitan ini. Tiap detilnya mengandung unsur kepercayaan yang tinggi terhadap nenek moyang.

Langkanya Kayu Ulin

Minimnya bahan baku juga menjadi salah satu pertimbangan mahalnya ukiran Dayak. Kayu ulin menjadi satu-satunya bahan baku pembuatan ukiran. Kayu ulin banyak terdapat di hutan-hutan Kalimantan Timur. Kayu ini memiliki karakter keras dan kokoh, dengan permukaan licin dan berwarna kelabu muda, tidak mudah lapuk terutama akibat terkena air, serta sulit dipatahkan layaknya besi.

Kelangkaan pohon ulin terjadi sejak 1999 di mana terjadi penjarahan dan eksploitasi besar-besaran terhadap pohon ulin. Para penjarah berbondong-bondong memasuki kawasan hutan ulin untuk mengambil batang kayu yang dapat dijadikan bahan baku bangunan, bahan baku pembuatan kapal, pengulas kayu, dan perabot rumah tangga. Namun, kini saat kayu ulin sudah semakin sedikit jumlahnya pemerintah mulai mengawasi pemanfaatannya.

Harga satu meter kubik kayu ulin bisa mencapai seribu dolar Amerika. Bila dijual per batang, harga kayu ulin untuk pilar bangunan ditaksir senilai 38 juta hingga 45 juta rupiah. Bisa dibayangkan, untuk pembuatan satu ukiran Dayak bisa menghabiskan bermeter-meter kubik kayu. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi nilai jual ukiran.

Ukiran Dayak tidak hanya berupa patung, melainkan juga perkakas rumah tangga dan peralatan kantor. Ukiran ini banyak diaplikasikan pada kursi tamu, meja konsul, pilar bangunan, dan interior perkantoran.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Mengenal Tarian Daerah Indonesia
  • Pengertian Seni untuk Kehidupan
  • Bentuk-Bentuk Kesenian Islam
  • Lukisan Impresionisme – Inspirasi dari Kesan Tangkapan Mata
  • Sejarah Seni Lukis Melahirkan Aliran dalam Lukisan
  • Wayang Kulit Banyumas
  • Keindahan Etnik Ukiran Kalimantan
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA