Keindahan Etnik Ukiran Kalimantan
Kiranya, tak ada yang menyangkal bahwa ukiran Kalimantan (ukiran suku Dayak) punya keindahan setara dengan ukiran Bali, Jepara, atau ukiran lain di Indonesia. Motif etnik yang menjadi daya tariknya, membuat ukiran tersebut jadi primadona para wisatawan luar maupun dalam negeri.
Tidak percaya? Cobalah meluangkan waktu pergi berwisata ke beberapa kota di Kalimantan. Seperti kota-kota di Kalimantan Timur atau Barat. Pasti Anda akan menjumpai berbagai jenis ukiran dengan motif lokal yang memesona.
Ukiran tersebut biasanya dijadikan penghias pada berbagai barang khas Kalimantan, yaitu mandau (parang suku Dayak), sumpitan, tameng khas Dayak, peti ulin, gasing, beragam cendera mata, patung, meja, kursi tamu, bingkai cermin, ranjang, kusen dan daun pintu, serta banyak lagi yang lainnya.
Kayu Ulin
Ukiran Kalimantan dibuat dari kayu ulin. Sejenis kayu yang tumbuh di hutan-hutan Kalimantan. Sifat kayu ini hampir sama dengan kayu jati di pulau Jawa, bahkan lebih kuat, keras dan tahan lama hingga bisa mencapai ratusan tahun. Kayu ulin cenderung tenggelam jika dimasukan ke dalam air. Kayu ulin kini termasuk langka. Tak lagi mudah ditemukan di hutan tropis Kalimantan.
Dengan berbahankan kayu ulin, dibentuklah benda yang hendak dibuat. Apakah itu meja, kursi atau berbagai jenis barang lainnya. Setelah jadi, barulah benda tersebut diukir dengan motif ukiran Dayak yang elegan dan memiliki tingkat kedetailan luar biasa.
Suatu barang yang dibuat dengan ukiran Kalimantan bisa dibilang sebagai sebuah karya seni berkualitas tinggi. Harga jualnya pun luar biasa mahal. Tak hanya karena berbahankan kayu ulin yang terbilang langka, seni ukiran Kalimantan juga mendongkrak nilai jualnya. Sekarang ini, satu set meja tamu beserta kursi bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta.
Ukiran Kalimantan sebenarnya bisa saja dibuat tidak menggunakan kayu ulin. Jenis kayu seperti kayu jati, kapur, atau meranti, juga bisa dijadikan bahan ukiran. Hanya saja, harga jualnya tak akan setinggi jika kayu ulin yang dijadikan bahan ukiran.
Bahkan, sebagian pencinta karya seni etnik menganggap ukiran Dayak yang tidak berbahankan kayu ulin, bukanlah ukiran yang “asli”. Keberadaan kayu ulin sudah identik dengan keotentikan suatu ukiran Kalimantan.
Motif Alam
Karena suku Dayak merupakan masyarakat yang hidup di hutan-hutan Kalimantan, motif ukirannya pun sering mengambil bentuk alam. Yaitu tumbuhan, satwa, serta berbagai simbol kepercayaan mereka. Mulai dari arsitektur bangunan rumah, peralatan rumah tangga, hingga perangkat kesenian termasuk ukiran, mengambil pola atau motif alam. Motif ukiran yang biasa dibuat berbentuk pohon, kembang (bunga anggrek), dan beragam jenis hewan.
Motif-motif ini dikerjakan dengan penuh ketukanan dan keuletan. Awalnya motif tersebut digambar dalam lembaran karton, kemdian dijiplak ke permukaan kayu ulin yang akan diukir.
Bermodalkan pisau pahatan dan palu kayu, tangan-tangan terampil para pengukir akan memahat kerasnya kayu ulin hingga tercipta pola etnik Kalimantan. Menghasilkan seni ukir yang indah dan sangat unik. Karena keunikannya itu, masyarakat yang awam dengan ukiran akan dengan mudah mengenali motif ukiran Kalimantan.






