logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Seni    Seni Tradisional

Keindahan Etnik Ukiran Kalimantan


Ilustrasi ukiran kalimantan

Kiranya, tak ada yang menyangkal bahwa ukiran Kalimantan (ukiran suku Dayak) punya keindahan setara dengan ukiran Bali, Jepara, atau ukiran lain di Indonesia. Motif etnik yang menjadi daya tariknya, membuat ukiran tersebut jadi primadona para wisatawan luar maupun dalam negeri. Ukiran Kalimantan menunjukkan kepada dunia bagaimana etnis Kalimantan yang memiliki ciri khas tersendiri ini, mampu melahirkan karya ukir yang unik dengan kualitas dapat diandalkan. Kekayaan hias ragam tradisional ini memang semakin mengukuhkan bahwa seni tradisional memiliki keindahan yang tak bisa dicapai oleh seni modern. Kesederhanaan dan ikatan spiritual seni tradisional - seperti juga seni ukiran Kalimantan - melahirkan karya dalam bentuk dan ragama yang berbeda.

Tidak percaya? Cobalah meluangkan waktu pergi berwisata ke beberapa kota di Kalimantan, seperti kota-kota di Kalimantan Timur atau Barat. Pasti Anda akan menjumpai berbagai jenis ukiran dengan motif lokal yang mempesona. Setiap lekuk dan ragama ukiran timbul tenggelam dalam setiap karya seni ukir Kalimantan ini, terdapat torehan yang berbeda bila dibanding dengan ukiran Jepara bahkan ukiran tradisonal suku Asmat. Semua itu terjadi karena beda latar belakang, kultur dan tujuan membuat karya ukir tersebut.

Ukiran tersebut biasanya dijadikan penghias pada berbagai barang khas Kalimantan, yaitu mandau (parang suku Dayak), sumpitan, tameng khas Dayak, peti ulin, gasing, beragam cendera mata, patung, meja, kursi tamu, bingkai cermin, ranjang, kusen dan daun pintu, serta banyak lagi yang lainnya.

Bila anda termasuk penggemar kerajinan tradisional berkualitas baik dengan ciri khas tersendiri, sebaiknya memang memiliki seni ukiran Kalimantan ini. Selain ragam hias yang unik, bahan bakunya juga dari kayu yang baik, sehingga selain tahan lama juga memunculkan ukiran yang halus.

Bahan Baku Kayu Ulin

Ukiran Kalimantan dibuat dari kayu ulin, yakni sejenis kayu yang tumbuh di hutan-hutan Kalimantan. Sifat kayu ini hampir sama dengan kayu jati di pulau Jawa, bahkan lebih kuat, keras dan tahan lama hingga bisa mencapai ratusan tahun. Kayu ulin cenderung tenggelam jika dimasukan ke dalam air. Kayu ulin kini termasuk langka. Tak lagi mudah ditemukan di hutan tropis Kalimantan.

Dengan berbahankan kayu ulin, dibentuklah benda yang hendak dibuat. Apakah itu meja, kursi atau berbagai jenis barang lainnya. Setelah jadi, barulah benda tersebut diukir dengan motif ukiran Dayak yang elegan dan memiliki tingkat kedetailan luar biasa. Soal detail dari ukiran khas Dayak ini akan mengingatkan orang pada keragaman ukiran suku Asmat. Tapi tentu saja seperti telah disebutkan sebelumnya, masing-masing ukiran ini berbeda baik dalam detail, rupa ragam hias, pewarnaan dan penyelesaian akhir atau finishingnya.

Suatu barang yang dibuat dengan ukiran Kalimantan bisa dibilang sebagai sebuah karya seni berkualitas tinggi. Harga jualnya pun luar biasa mahal. Tak hanya karena berbahankan kayu ulin yang terbilang langka, seni ukiran Kalimantan juga mendongkrak nilai jualnya. Sekarang ini, satu set meja tamu beserta kursi bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta.

Ukiran Kalimantan sebenarnya bisa saja dibuat tidak menggunakan kayu ulin. Jenis kayu seperti kayu jati, kapur, atau meranti, juga bisa dijadikan bahan ukiran. Hanya saja, harga jualnya tak akan setinggi jika kayu ulin yang dijadikan bahan ukiran.

Bahkan, sebagian pencinta karya seni etnik menganggap ukiran Dayak yang tidak berbahankan kayu ulin, bukanlah ukiran yang "asli". Keberadaan kayu ulin sudah identik dengan keotentikan suatu ukiran Kalimantan. Kerekatan antara ukiran Dayak yang khas dengan kayu ulin, seperti dua sisi dalam sekeping uang logam, sama-sama penting dan tidak bisa dipisahkan. Itulah yang menjadi pemahaman pasar baik pasar domestik maupun pasar internasional. Berbicara ukiran Kalimatan maka akan langsung tertuju pada ragam hias dari seni ukir Dayak. Dan berbicara ukiran Dayak maka akan langsung tertuju pada ragam ukiran yang dipahatkan pada kayu ulin.

Tapi tentu saja untuk urusan komersial, bisa saja dibuat ukiran Kalimantan pada kayu lain selain kayu ulin, sehingga bisa dijual dengan harga lebih murah. Dengan cara seperti ini, maka melestarikan ukiran Kalimantan khas suku Dayak, bisa tercapai. Semakin banyak yang menyimpan barang-barang dan pernak-pernik berukirkan ukiran Dayak, akan semakin terjaga dan lestarinya jenis ukiran tradisional yang merupakan kekayaan tak terhingga dari bumi Indonesia ini. Kebijakan inilah yang harus dilakukan apabila menginginkan ukiran Kalimantan tetap lestari, selain hanya memikirkan dan berpatokan pada otentisitias ukiran Kalimantan yang berbahan baku kayu ulin.

Motif Alam Ukiran Kalimantan

Karena suku Dayak merupakan masyarakat yang hidup di hutan-hutan Kalimantan, motif ukirannya pun sering mengambil bentuk alam, yaitu tumbuhan, satwa, serta berbagai simbol kepercayaan mereka. Mulai dari arsitektur bangunan rumah, peralatan rumah tangga, hingga perangkat kesenian termasuk ukiran, mengambil pola atau motif alam. Motif ukiran yang biasa dibuat berbentuk pohon, kembang (bunga anggrek), dan beragam jenis hewan. Namun karena lingkungan suku Dayak yang hidup di hutan Kalimantan itu sendiri merupakan satu ciri khas, akan melahirkan pengamatan yang khas pula, sehingga ketika diaplikaskan dalam ukiran, akan sangat terlihat bagaimana khasnya ukiran Kalimantan ini. Misalnya saja ketika mengambil ukiran bentuk bunga anggrek, tentu akan berbeda antara ukiran bunga anggrek dari Jepara, Bali maupun ukiran Kalimantan atau khas suku Dayak. Semua itu bisa terjadi karena masing-masing pengukir berada pada alam dan lingkungan yang berbeda, yang melahirkan cara pandang dan penyerapan informasi dari alam sekeliling yang berbeda pula.

Motif-motif ini dikerjakan dengan penuh ketukanan dan keuletan. Awalnya motif tersebut digambar dalam lembaran karton, kemudian dijiplak ke permukaan kayu ulin yang akan diukir.

Bermodalkan pisau pahatan dan palu kayu, tangan-tangan terampil para pengukir akan memahat kerasnya kayu ulin hingga tercipta pola etnik Kalimantan. Menghasilkan seni ukir yang indah dan sangat unik. Karena keunikannya itu, masyarakat yang awam dengan ukiran akan dengan mudah mengenali motif ukiran Kalimantan. Seperti juga ketika disodorkan ke hadapannya ukiran dari Jepara maupun ukiran suku Asmat. Ada yang berbeda dalam sekali pandang saja. Perbedaan itu mengacu kepada perbedaan masing-masing suku baik secara spiritual, kepercayaan kepada makhluk gaib, cara pandang dalam kehidupan sehari-hari dan menyatunya unsur-unsur emosional dengan lingkungan sekitar. Begitu pula motivasi ketika membuat ragam hias dalam bentuk ukiran tersebut.

Ketika seorang suku Asmat mengukir pada sebilah tongkat dengan tujuan sebagai bentuk sesembahan untuk para dewa misalnya, tentu akan melahirkan ukiran yang lain bila ketika mengukirnya sudah diniatkan sebagai peralatan biasa. Hal yang sama terjadi pula dengan ukiran Kalimantan dari suku Dayak ini. Tujuan dan latar belakang kehidupan suku Dayak yang khas dan mandiri, melahirkan corak hias yang khas dan mandiri pula bila dibanding dengan ukiran dari suku lain. Inilah satu kekayaan yang semestinya tetap dijagar agar lestari.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Kesenian Suku Batak - Ulos, Seni Kriya Adiluhung
  • Nasib Kesenian Ketoprak di Era Industri Hiburan
  • Seni Rupa Prasejarah: Lukisan di Gua
  • Ingat Kabayan, Ingat Alat Musik Sunda
  • Wayang Abimanyu, Salah Satu Tokoh Penting Cerita Pewayangan
  • Barong - Seni Tari Eksotis Bali
  • Beragam Kesenian Jepang
  • Tarian Nusantara sebagai Identitas Budaya Bangsa Indonesia
  • Serba-Serbi Seni Kuda Lumping
  • Pelestarian Kesenian Jaranan
  • Perkembangan Seni Lukis Nusantara
  • Sejarah, Jenis, dan Pengertian Tari Topeng
  • Indahnya Tari Tradisional Indonesia
  • Wayang Kulit, Kesenian Suku Jawa yang Termasyhur
  • Menelusuri Sejarah Tari Remo
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA