Meniru Aktivisme 397 Mahasiswa Universitas Dipenogoro
Ilustrasi universitas dipenogoro
Mahasiswa kembali menuai sorotan. Bukan atas prestasi, tapi akibat aksi. Aksi mahasiswa kembali jadi perbincangan karena kerap menggangu publik. Macet, bentrok, dan bakar ban adalah menu berita bagi para aksi mahasiswa. Aktivisme mahasiswa dipandang kebablasan.
Reformasi dimaknai sekedar melulu demonstrasi. Ketika kritikan ini bertubi-tubi menghantam mahasiswa. Terdengar berita yang sejuk. 397 mahasiswa universitas dipenogoro (undip) kuliah kerja nyata di lereng merapi (kompas.com 12/06). Kering sorotan, kaya esensi.
Haus Sorotan
Gerakan mahasiswa sekarang terlalu condong man of the street ketimbang man of the class. Mahasiswa seolah bertindak jadi super hero ketika turun ke jalanan. Padahal masyarakat tidak membutuhkan superman melainkan superteam.
397 mahasiswa undip tersebut bukan bertindak satu per satu. Melainkan superteam yang menjelma bak ikatan lidi. Mengapa turun ke jalan kerap jadi pilihan para mahasiswa:
- Tersumbat. Aspirasi mahasiswa yang bergelora di lapangan kerap mengalami penyumbatan. Aspirasi ditolak. Kritikan tak dianggap. Diskusi dianggap angin lalu. Turun ke jalan adalah pilihan masuk akal. Toh, selama ini pemerintah memang kerap takut ketika melihat massa yang banyak.
- Publikasi. Lewat turun ke jalan otomatis media akan menjadikan berita. Ketika media memuat aksi demonstrasi, besar harapan tuntutan akan tersampaikan ke publik. Namun seperti yang kita lihat. Justru aksi anarkis yang menonjol ketimbang tuntutan (pesan) yang ingin disampaikan.
- Populer. Turun ke jalan adalah metode paling populer di kalangan mahasiswa. Selain ajang konsolidasi, juga wadah para aktivis mahasiswa untuk belajar. Belajar berorasi, berorganisasi, dsb.
Mahasiswa Universitas Dipenogoro
Metode 397 aktivisme mahasiswa undip di atas bukan cara populer. Toh, sedikit media yang memberitakan. Tidak seperti tawuran di makasar yang jadi siaran langsung. Namun, inti gagasan dari aktivisme, yaitu perubahan dan pemberdayaan, bisa tersampaikan. Tanpa huru hara dan hura hura. Mengapa metode ini layak ditiru?
- Faedah. Kuliah kerja nyata adalah pengejawantahan ilmu yang telah diterima di kelas. Ilmu pada dasarnya harus berfaedah. Bermanfaat bagi orang banyak. Melakukan KKN di lerang merapi berarti mendermakan ilmu yang telah diperoleh.
- Integrasi. Perguruan tinggi kerap dituding bak menara gading. Tidak down to earth. Lewat metode ini integrasi dunia pendidikan dengan masyarakat bisa nyambung. Mahasiswa bisa menjadi problem solver bukan justru jadi part of problem.
- Empati. Terjun ke masyarakat akan mengasah naluri empati mahasiswa. Di kampus aspek kognitif ditonjolkan. Namun, naluri humanisme mahasiswa jarang diasah. Metode ini mengenalkan kembali mahasiswa pada habitatnya: masyarakat.

