logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Pendidikan    Kuliah    Skripsi atau Tesis

Menilik Unsur Ekstrinsik Karya Sastra


Ilustrasi unsur ekstrinsik karya sastra

Karya sastra adalah segala produk yang berhubungan dengan dunia sastra. Produk karya sastra meliputi prosa, puisi, dan seni drama atau pementasan. Penciptakan sebuah karya sastra tidak lepas dari unsur intrinsik karya sastra dan unsur ekstrinsik karya sastra.

Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh pendekatan struktural bahwa unsur yang membangun karya sastra ada dua, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik karya sastra. Namun, yang akan dibahas lebih difokuskan kepada unsur ekstrinsik dan hanya menyinggung sedikit tentang unsur intrinsik sebagai bahan perbandingan.

Ingin tahu lebih lanjut tentang unsur ekstrinsik karya sastra? Berikut ini akan dipaparkan secara jelas dan rinci.

Perbedaan Unsur Intrinsik dan Unsur Ekstrinsik Karya Sastra

Unsur intrinsik dan ekstrinsik sebuah karya sastra memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Baik itu sebuah puisi, prosa atau drama. Tetapi, pembahasan ini akan lebih difokuskan pada karya sastra prosa. Seperti cerpen, novel, atau roman.

Unsur intrinsik adalah unsur pembangun sastra dari dalam. Artinya, sebuah karya yang dibangun tidak lepas dari bangunan yang ada pada karya itu sendiri.

Unsur intrinsik terdiri atas enam hal, yaitu tema cerita, penokohan dan perwatakan, alur cerita, latar cerita, amanat cerita dan sudut pandang pengarang. Tema cerita adalah hal apa yang dibicarakan dalam cerita. Penokohan dan perwatakan berarti menyebutkan nama tokoh yang ada dalam cerita yang disertai dengan wataknya.

Alur cerita terdiri atas alur maju, mundur dan campuran. Latar cerita terbagi menjadi latar suasana, waktu, dan tempat. Amanat cerita adalah pesan yang disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Sudut pandang dibagi menjadi dua, yaitu sudut pandang orang pertama dan orang ketiga.

Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur pembangun sastra dari luar. Artinya, tidak berhubungan dengan karya sastra itu sendiri, tetapi berhubungan dengan hal- hal yang berada di luar karya sastra itu sendiri.

salah satu contohnya adalah latar belakang kehidupan pengarang. Jika pengarang cerita adalah seorang muslim, maka biasanya karya yang dihasilkan juga tidak jauh dari kehidupan seorang musli

Agar perbedaan ini dapat terlihat lebih jelas, akan saya contohkan sebuah analisis.  Jika kita akan menganalisis unsur intrinsik karya sastra berupa cerpen, kita hanya akan berhubungan dengan cerpen itu sendiri seperti apa tema cerita, siapa saja tokohnya dan apa amanat cerita. Tetapi, jika kita menganalisis unsur ekstrinsik karya sastra, maka yang perlu kita analisis adalah tentang bagaimana kehidupan pengarang atau keadaan sosial seperti apa yang melatarbelakangi terciptanya sebuah karya.

Pengertian Unsur Ekstrinsik Karya Sastra

Unsur ekstrinsik karya sastra adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Secara lebih spesifik dapat dikatakan bahwa unsur ekstrinsik berperan sebagai unsur yang mempengaruhi bagunan sebuah cerita. Oleh karena itu, unsur esktrinsik karya sastra harus tetap dipandang sebagai sesuatu yang penting.

Jika menulis cerita kita ibaratkan seperti halnya membangun rumah, maka unsur ekstrinsik karya sastra bukanlah batu bata atau bahan membangun rumah yang lainnya. Tetapi unsur ekstrinsik adalah kondisi sosial dan budaya pembangun rumah sehingga mempengaruhi model sebuah rumah. Kondisi sosial dan budaya masyarakat desa dan kota tentunya berbeda. begitu juga model bangunan rumahnya. Jika di desa bangunan rumah banyak yang masih luas, maka jika di kota bangungan rumahnya kebanyakan minimalis.  

Jadi, dapat ditegaskan lagi bahwa unsur ekstrinsik karya sastra adalah unsur- unsur pembangun yang berada di luar karya sastra seperti kondisi sosial dan budaya pengarang sehingga mempengaruhi penciptakan sebuah karya sastra.

Unsur  Ekstrinsik Karya Sastra

Sebagaimana halnya unsur intrinsik, unsur ekstrinsik karya sastra pun terdiri atas beberapa unsur. Menurut Wellek & Warren (1956), bagian yang termasuk unsur ekstrinsik karya sastra tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup yang semuanya itu mempengaruhi karya sastra yang dibuatnya.

  2. Keadaan psikologis, baik psikologis pengarang, psikologis pembaca, maupun penerapan prinsip psikologis dalam karya.

  3. Keadaan lingkungan pengarang, seperti ekonomi, sosial, dan politik.

  4. Pandangan hidup suatu bangsa, berbagai karya seni, agama, dan sebagainya.

Keadaan subjektivitas pengarang sangat mempengaruhi hasil karya yang diciptakan. Salah satunya adalah Emha Ainun Najib. Beliau adalah pengarang yang berasal dari Jawa dan kental dengan kehidupan jawa. Maka tidak mengherankan jika karya sastra yang dihasilkan tidak jauh dari kehidupan jawa. Baik dari tokoh dan watak yang diciptakan maupun juga dari latar budaya yang ada pada cerpen.

Keadaan psikologis pengarang juga akan mempengaruhi dan memberi warna berbeda pada hasil karya yang diciptakan. Keadaan psikologis ini dapat tercermin dari bahasa, tema, dan alur cerita karya sastra. Hasil karya sastra sastrawan muda tentunya akan berbeda dengan hasil karya sastrawan senior atau bahkan para penulis cilik.

Keadaan lingkungan pengarang, pada saat menciptakan suatu karya sastra juga sangat mempengaruhi hasil karyanya. Adkalanya, ide menulis cerita berasal dari sebuah kondisi sosial dan politik yang sedang terjadi.

Salah satu contohnya adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk. Novel ini ditulis oleh pengarang pada saat politik negara Indonesia sedang tidak stabil. Hal ini dikarenakan saat itu keadaan politik di Indonesia sedang dikuasai oleh komunis. Maka tidak mengherankan, jika novel  berlatar belakang sebuah pedesaan ini tidak menceritakan indahnya desa, tetapi justru menceritakan kegersangan lahir dan batin masyarakat desa. Diceritakan bahwa salah satu penyebab  kegersangan ini adalah akibat adanya faham komunis yang dimasukkan dalam sebuah kesenian tari. Tanpa mereka sadari hal ini membuat mereka dianggap sebagai kaum komunis.

Contoh lain adalah novel Negeri Lima Menara. Novel ini menceritakan keadaan sosial kemasyarakatan yang ada di kawasan pesantren. Bagaimana hubungan antar teman yang berasal dari berbagai macam daerah dan bagaimana meraih cita- cita. Bisa jadi pengarang novel ini sudah mengenal dengan baik keadaan sosial pesantren sehingga pengarang dapat menceritakannya dengan detail dan baik.

Pandangan hidup atau agama suatu bangsa dapat juga mempengaruhi kemana arah tujuan karya sastra. Pandangan hidup bangsa indonesia adalah pancasila, maka biasanya novel yang berlatar belakang politik, berpandangan hidup selain pancasila, akan selalu diarahkan kembali pada falsafah pancasila pada akhir cerita. Salah satu contohnya adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk dan Atheis.

Selanjutnya, latar belakang kehidupan pengarang sebagai bagian dari unsur ekstrinsik sangat mempengaruhi karya sastra. Misalnya, pengarang yang berlatar belakang budaya daerah tertentu, secara disadari atau tidak, akan memasukkan unsur budaya tersebut ke dalam karya sastra.

Menurut Malinowski, yang termasuk unsur budaya adalah bahasa, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, organisasi sosial, sistem pengetahuan, religi, dan kesenian. Unsur-usnru tersebut menjadi pendukung karya sastra. Sebagai contoh, novel Siti Nurbaya sangat kental dengan budaya Minangkabau. Hal ini sesuai dengan latar belakang pengarangnya, Marah Rusli, yang berasal dari daerah Minangkabau. Begitu pula novel Upacara karya Korrie Layun Rampan yang dilatarbelakangi budaya Dayak Kalimantan karena pengarangnya berasal dari daerah Kalimantan.

Begitu pula dalam Novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis, kita akan menemukan unsur intrinsik berupa nilai-nilai budaya. Terutama, yang berkaitan dengan sistem mata pencaharian, sistem teknologi, religi, dan kesenian. Mata pencaharian yang ditekuni para tokoh dalam novel tersebut sebagai pencari damar dan rotan di hutan. Alat yang digunakan masih tradisional. 

Selain budaya, latar belakang keagamaan atau religiusitas pengarang juga dapat memengaruhi karya sastra. Misalnya, Achdiat Kartamihardja dalam novel Atheis dan Manifesto Khalifatullah, Danarto dalam novel Kubah, atau Habiburahman El-Shirazi dalam Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih.

Latar belakang kehidupan pengarang juga menjadi penting dalam memengaruhi karya sastra. Sastrawan yang hidup di perdesaan akan selalu menggambarkan kehidupan masyarakat desa dengan segala permasalahannya. Misalnya, dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Dengan demikian, unsur ekstrinsik karya sastra tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bangunan karya sastra. Unsur ekstrinsik karya sastra memberikan warna dan rasa terhadap karya sastra yang pada akhirnya dapat diinterpretasikan sebagai makna. Unsur-unsur ektrinsik yang mempengaruhi karya dapat juga dijadikan potret realitas objektif pada saat karya tersebut lahir. Sehingga, kita sebagai pembaca dapat memahami keadaan masyarakat dan suasana psikologis pengarang pada saat itu.

Demikian sedikit tentang unsur ekstrinsik karya sastra. Semoga dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan kita tentang sastra.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Metode Penulisan Karya Ilmiah Berdasarkan Jenis Penelitian
  • Sistematika Penulisan Tugas Akhir
  • Judul-Judul Skripsi yang Memikat Hati Penguji
  • Memahami Tujuan Penulisan Laporan dan Manfaatnya
  • Metode dalam Penelitian
  • Cara Asik Menentukan Judul Skripsi Akuntansi
  • Teknik Penulisan Laporan Penelitian
  • Judul Skripsi Pendidikan, Yuk Silakan Dilirik Referensinya!
  • Tips Memilih Topik Makalah Penelitian Pendidikan
  • Cara Penulisan Makalah yang baik
  • Kebijakan Pendidikan Skripsi untuk Jurnal - Pro dan Kontra
  • Komponen Laporan PKL
  • Tips Menyusun Karya Tulis Ilmiah Pertanian
  • Contoh Paper Kuliah Bidang Ekonomi
  • Tip Singkat Membuat Skripsi Hukum
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA