Efek Psikologis Usaha Sambilan
Ini adalah pengalaman pribadi penulis. Begitu banyak usaha sambilan yang telah penulis jalani. Di antaranya, menjadi agen penjualan kerupuk Palembang tapi tak pernah mempunyai warung; menjadi agen madu premium dengan keuntungan 10%; penjual pulsa dengan perputaran uang hingga Rp 5 juta sebulan; menjadi penjual buku, kursus privat bahasa Inggris dan terjemahan dari dan ke bahasa Inggris, pembicara dalam pelatihan; penulis lepas, penulis buku, dan novel, dan lain-lain.
Semua penulis lakukan secara bersamaan. Dari keuntungan finansial yang tidak sedikit itu, ternyata penulis tetap merasa bahwa efek psikologis dari usaha ini jauh lebih dahsyat.
Dari menjadi agen penjual kerupuk Palembang, penulis berkenalan dengan dunia negosiasi. Bagaimana bicara dengan pemasok utama dan menjelaskan bahwa kedua belah pihak dapat diuntungkan. Penulis juga belajar bagaimana meyakinkan para calon konsumen bahwa kerupuk dengan harga yang lebih murah tetap mempunyai rasa yang menggoda.
Apa yang penulis lakukan sangat mudah. Tempat kerja penulis penuh dengan orang-orang doyan makan kerupuk. Tanpa kerupuk, makan pun terasa hampa. Penulis tinggal mengiklankan dan memberi sampel kerupuk, lalu teman-teman tinggal pesan. Bila ada pesanan, penulis akan mengambil kerupuk di pemasok. Jadi di rumah tidak perlu ada stok. Toh, letak warung di jalan besar yang mudah dilalui. Tinggal ambil, dan keuntungan Rp 1500 – Rp 2000 per bungkus kerupuk, sudah pasti di tangan.
Dari menjadi agen madu premium, selain belajar bagaimana membedakan madu asli dan aspal (asli tapi palsu), cara berternak lebah dan cara pengobatan dengan sengat lebah, penulis juga mendapatkan konsumen kursus privat bahasa Inggris. Keterikatan jalinan silaturrahmi semakin kuat dengan pemasok madu tersebut.
Yang paling terkesan memang berjualan pulsa. Hampir seluruh penghuni kantor yang berjumlah 135 orang, dari wakil kepala cabang hingga para janitor dan satpam, termasuk keluarga mereka menjadi pelanggan penulis. Mau tidak mau penulis menjadi ‘menteri informasi’ di kantor.
Bila ada apa-apa semisal ada teman yang sakit atau keluarga teman yang meninggal, maka penulislah yang akan menyebarkan informasi itu. Apalagi bila ada teman yang pamit tidak masuk kantor, nomor telepon penulislah yang dituju. Selain itu, penulispun berkenalan dengan keluarga teman-teman. Efek psikologis seperti ini tak akan terbayarkan oleh efek keuntungan finansial berapapun besarnya.
Sebagai penerjemah, penulis berhubungan dengan dunia perpajakan di luar pembayaran pajak pribadi. Betapa kalau sudah memasuki instansi yang besar seperti Universitas Gadjah Mada, penggunaan faktur pajak sangat dibutuhkan.
Sebagai seorang guru privat, penulis belajar memahami kepribadian murid yang semakin beragam. Sebagai penulis buku dan novel sekaligus penjual buku dan novelnya, penulis belajar memahami keinginan masyarakat dan menulis apa yang mereka butuhkan.
Walau bagaimanapun penerbit butuh uang. Seidealis apa pun seorang penulis, kompromi tetap harus dilakukan. Bukannya tunduk pada hukum pasar, tapi bagaimanapun caranya antara idealisme dan kenyataan yang dihadapi harus bisa diakomodasi dengan baik.
Menjadi pembicara di beberapa seminar, konferensi baik tingkat nasional maupun internasional dan pelatihan di beberapa tempat, mengajarkan penulis menjadi pembicara yang tidak membosankan. Berusaha membuat suasana semenarik mungkin, memberikan sesuatu yang lebih daripada menerima. Senang rasanya bisa berbagi. Lebih senang lagi rasanya ketika melihat mata-mata yang berbinar yang mengucapkan rasa terima kasih dengan tulus. Apalagi setelah itu, hubungan silaturrahmi dilanjutkan dengan saling berteman di facebook atau sekedar ber-sms ria.
Jadi, usaha sambilan itu memberikan dampak psikologis yang begitu positif selain keuntungan finansial yang bisa dimanfaatkan untuk jalan-jalan dengan keluarga atau menambah zakat profesi dan menabung.






