Vivid: Film Porno dan Kekerasan Seksual
Vivid, nama yang terasa familiar dan mudah diingat ini, bukanlah sebutan untuk memanggil orang. Tetapi merupakan rujukan pada industri pembuatan film porno.
Keberadaan Vivid di Indonesia mulai popular pada 1990-an, masa ketika teknologi VCD mulai masuk ke Indonesia dan sistem komputer sudah mulai mengusung prosesor berbasis Pentium.
Pelajar dan mahasiswa kala itu sempat dilanda demam Vivid. Terlebih dengan mulai dicangkokkannya VCD pada komputer yang memungkinkan bagi seseorang untuk menyimpan atau menggandakan sebuah film. Kecanggihan teknologi ini telah membuat distribusi Vivid semakin luas dan menyebar pada semua kalangan di berbagai pelosok. Tidak mengenal batasan usia dan jenis kelamin.
Maka nama-nama seperti Asia Carerra, Jonni Black, Mark Davis, Julian St. Jox, Tricia Deveraux, Julian Ann, Steve Drake, Michael J. Cox, Sindee Cox hingga Maria Ozawa alias Miyabi, semakin akrab dengan telinga anak muda. Bahkan bukan hanya namanya, sampai lekuk liku tubuh mereka pun bisa dihapal juga.
Lantas ada persoalan apa dengan merebaknya Vivid? Sebelum kita mencari tahu persoalan apa yang bakal ditimbulkan oleh film porno, marilah kita mempertanyakan; manfaat apa yang diberikan oleh film porno? Manfaat film porno, tidak ada selain memacu nafsu birahi, yang terkadang justru malah jadi tidak terkendali. Begitu pula manfaat Vivid.
Mungkin Anda bisa jawab sebagai referensi. Boleh jadi benar, tapi coba kita lihat referensi seperti apa yang diberikan Vivid. Sekuel dalam setiap episodenya selalu sama.
Pertama berciuman, selanjutnya oral seks, kemudian penetrasi alat kelamin, terkadang diselipi sedikit adegan anal seks dan ditutup dengan cumshot. Pemain pria orgasme, dengan sperma disemburkan ke muka dan mulut pemain wanita untuk dijilati.
Nah, kalau ditanyakan dampaknya, jawabnya banyak dan beragam. Tanpa Anda sadari kebiasaan nonton film porno, akan menjadikan Anda kecanduan. Kebiasaan ini akan diikuti dengan keinginan untuk melakukan hubungan seksual, setidaknya mendorong Anda untuk melakukan onani atau masturbasi.
Ini dampak paling sederhana bagi yang belum punya pasangan, adapun dampak paling gawat kalau sampai mengakibatkan tindakan kekerasan seksual.
Sebenarnya, dampak film porno tidak hanya mengancam anak muda yang belum menikah, tetapi juga mengancam orang-orang yang sudah menikah. Kasus ini biasa terjadi ketika suami terobsesi dengan permainan seks pemeran perempuan dalam suatu film porno. Kemudian dia meminta istrinya untuk melakukan hal itu kepadanya.
Namun, andaikata istrinya menolak melakukannya, dan itu membuat suami marah hingga melakukan pemaksaan atau kekerasaan lain pada istrinya, bukankah itu juga dampak buruk dari film porno pada orang yang sudah berpasangan?
Selain itu, menjadi sifat dasar manusia untuk tidak pernah puas. Maka dalam konteks ini, terlalu banyak menonton film porno, akan membawa Anda pada imajinasi dan obsesi seksual yang semakin excited, dan bahkan sampai di luar nalar sosial, kesehatan, dan fungsi fisiologis bagian tubuh.
Apabila ini terjadi, maka sebenarnya Anda tengah mengancam keselamatan dan kelangsungan hidup Anda sendiri. Namun, yang menarik adalah pandangan pakar Psikoanalisa, Sigmund Freud, tentang prilaku seseorang. Menurutnya, perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh dorongan seksualnya.
Andaikata dorongan ini bisa mendapat pemenuhan, maka dia akan berprilaku wajar. Namun apabila tidak, biasanya dia akan berprilaku tidak wajar, misalnya mudah marah, gampang tersinggung, genit dan lain sebagainya.
Nah, andaikata Anda rajin nonton Vivid hingga dorongan seksual Anda tinggi, pernahkan Anda berpikir tentang kewajaran prilaku Anda? Terlebih ketika dorongan kuat itu tidak dapat disalurkan secara wajar.






