Wanita Jepang - Geisha Simbol Keanggunan Wanita Jepang
Wajah oriental yang khas dan mempesona
Siapa yang tak mengenal negara Jepang? Pastilah kita sudah tidak asing lagi dengan salah satu negara maju ini. Jepang terkenal dengan bermacam keunikan.
Mulai dari kebudayaan, kebiasaan atau tradisi, harajuku fashion, J-Rock musik sampai para wanita Jepangnya. Wanita Jepang?Jika Anda mendengar kata itu pasti akan langsung teringat dengan nama seperti Miyabi, Sora Aoi dan yang lainnya yang merupakan bintang film porno, kan?
Tidak salah jika demikian, memang bisnis blue film seperti itu adalah bisnis yang menjanjikan bagi para wanita Jepang, sehingga para wanita Jepang akan dengan mudah mencapai kepopuleran di negaranya ataupun negara lain. Tapi jangan salah, wanita Jepang yang akan kita bahas di sini bukanlah mereka-mereka yang disebutkan di atas yang notabene seorang bintang film porno, tapi ada wanita Jepang lain yang menarik untuk kita bahas. Siapa lagi kalau bukan Geisha.
Wanita Jepang - Geisha Bukan Pelacur
Apakah Anda tahu apa itu sebenarnya Geisha? Geisha merupakan seorang wanita Jepang yang berprofesi sebagai seorang penghibur. Penghibur yang kita bicarakan ini bukanlah seorang pelacur, karena Geisha dan wanita tuna susila adalah satu hal yang berbeda. Jika pelacur itu biasanya "bertugas" untuk melayani kebutuhan biologis pria, sementara untuk Geisha mereka bertugas untuk melayani para tamu pria tapi dengan menampilkan kebolehaan mereka dalam bidang seni.
Perbedaan antara Geisha dengan pelacur adalah cara mereka berpakaian. Pelacur juga memakai kimono seperti Geisha dan hampir tidak bisa dibedakan, tapi letak perbedaannya ada pada cara memakai obi (aksesori seperti ikat pinggang).
Jika wanita Jepang ini adalah pelacur maka mereka akan memakai obi di depan sehingga akan dengan mudah dibuka ketika akan berhubungan badan dengan tamu prianya.
Jika wanita Jepang ini adalah Geisha mereka akan memakai obi yang ikatannya berada di belakang.
Geisha biasanya menyuguhkan tarian tradisional, menyanyi, memainkan berbagai alat musik Jepang, juga menjadi pelayan untuk upacara minum teh. Bukan melayani laki-laki di sebuah kamar layaknya suami - istri.
Para Geisha atau wanita Jepang ini justru tidak pernah berhubungan dengan para tamu atau klien pria, karena jika mereka menjadi Geisha, mereka tidak pernah boleh berhubungan apalagi sampai menikah. Jika mereka melanggarnya mereka harus berhenti menjadi Geisha. Dan tradisi ini sudah berlangsung 400 tahun lamanya.
O, ya dahulu Geisha ini bukan seorang wanita melainkan seorang pria, dan mereka bekerja di bar sebagai seorang pelayan, seperti layaknya pramusaji pada zaman sekarang.
Perbedaan lainnya ada pada aksesoris rambut, jika pelacur akan memakai hiasan rambut yang berlebihan, maka Geisha memakai aksesori rambut yang lebih simpel. Riasan wajah yang menjadikan Geisha khas adalah wajah yang ditutupi dengan bedak berwarna putih tebal seperti layaknya topeng kecuali pada bagian belakang leher karena disitulah titik sensualitas mereka, dan juga lipstick merah menyala yang dipakai seperti tokoh Jeng Kelin dari negara kita Indonesia.
Geisha – Perjalanan Wanita Jepang, Menjadi Seorang Geisha
Untuk menjadi seorang Geisha bukanlah sesuatu yang mudah. Para wanita Jepang yang ingin menjadi Geisha harus dilatih dengan sungguh-sungguh. Mereka dididik dari kecil untuk menjadi Geisha. Biasanya yang menyuruh para wanita Jepang ini adalah orangtua mereka sendiri, karena menjadi seorang Geisha itu bisa memberikan penghidupan yang layak untuk mereka dan juga keluarganya.
Walaupun sebagian besar penghasilan mereka dari para klien diberikan kepada Okiya yang merupakan tempat tinggal mereka selama menjadi Geisha, tapi mereka masih bisa mendapat barang-barang mewah untuk diri mereka sendiri, seperti kimono yang terbuat dari sutra dan selalu memakai warna berbeda sesuai dengan musim yang ada.
Para wanita Jepang ini bekerja dan tinggal di tempat yang bernama Okiya dan tinggal dengan Okasan atau ibu rumah dan juga sesama Geisha yang lain, mereka menganggap satu sama lain adalah saudari karena jika sesama Geisha adalah keluarga, uang yang didapatkan dari klien akan digunakan untuk Okiya milik mereka.
Supaya bisnis akan berjalan lancar dan pemeliharaan tempat ini akan terus berjalan, dan dijalankan secara bersama.
Ketika musim semi, musim panas, musim dingin dan musim gugur mereka memakai kimono dengan warna yang berbeda. Untuk para Geisha muda yaitu Geisha yang sedang dalam pelatihan yang biasa disebut Maiko untuk di Kota Kyoto dan Hangyoku di Tokyo memiliki cara yang berbeda dalam memakai kimono.
Jika Hangyoku menggunakan Kimono yang lebih modis maka beda halnya dengan Maiko. Mereka juga bisa memunyai barang mewah lainnya selain Kimono yang terbuat dari sutra itu.
Jika para wanita Jepang ini sudah mantap ingin menjadi Geisha mereka harus siap dilatih siang dan malam untuk dapat menari, bermain alat musik dan menjadi pemandu dalam upacara minum teh. Mereka juga diajari cara berjalan yang baik yang tidak boleh tergesa-gesa, cara memakai kimono, cara melayani tamu dan hal lainnya.
Wanita Jepang legendaris ini juga harus siap untuk menjalani hidup yang penuh dengan rahasia, karena apapun yang mereka rasakan dan mereka dengar harus mereka pendam sendiri tidak boleh dibicarakan kepada siapapun. Geisha juga diharuskan untuk menjalani sebuah upacara yang disebut mizuage. Dan ada juga tradisi untuk menjual keperawanan Geisha pada saat mereka ada dalam masa pelatihan untuk penawaran tertinggi.
Akan tetapi, pada zaman dulu itu adalah sesuatu yang terhormat. Pada saat ini jumlah Geisha sangat menurun dibandingkan pada zaman dulu di sekitar 1920-an. Jika saat itu jumlah Geisha ada sekitar 80.000 orang sekarang hanya sekitar 2000 orang saja.
Wanita Jepang - Geisha Pertama dari Luar Negeri
Ternyata ada juga Geisha yang bukan seorang wanita Jepang. Dia bernama Fiona Graham yang berasal dari Melbourne, Australia. Dia adalah Geisha pertama yang berasal dari luar Jepang.
Dia adalah seorang yang bergelar PhD dari bidang Antropologi Sosial Oxford University.
Pertama kali dia menjadi seorang Geisha pada tahun 2007, dan saat itu ketika bekerja, dia memakai nama wanita Jepang Sayuki yang mempunyai arti kebahagiaan yang nyata. Dalam waktu sekitar lebih dari tiga tahun dia bekerja di sebuah rumah Geisha di kawasan Ayasuka, Tokyo’s historic pleasure district.
Fiona mengenal dan cinta dengan Jepang pertama kali saat dia masih berumur 15 umur, dan dia pernah bersekolah di Jepang dengan mengikuti program pertukaran pelajar. Hal itu yang kemudian membuatnya semakin mencintai negara yang terkenal dengan bunga sakuranya ini dan ia pun melanjutkan pendidikan hingga masuk universitas bergengsi, Keio University.
Pertama kali Fiona menjadi seorang Geisha saat magang selama setahun, ia mendapat pelatihan dasar tari dalam upacara minum teh. Lalu akhirnya dia berhasil mendapat izin melanjutkan profesi menjadi Geisha.
Memang kehidupan para Geisha ini masih penuh dengan misteri dan rahasia, tapi malah menjadikannya sesuatu yang menarik untuk diteliti dan diketahui sehingga mereka menjadi sangat populer. Saking populernya kisah wanita Jepang yang satu ini pernah dijadikan sebuah buku yang berjudul “Memoirs of Geisha” yang dibuat oleh Arthur Golden.
Buku ini akhirnya menjadi buku top seller. Oleh karena kesuksesannya akhirnya Memoirs of Geisha dibuat menjadi sebuah film yang juga mencapai sukses. Jika Anda juga ingin melihat kehidupan wanita Jepang ini pada zaman Jepang kuno silakan saja kalian mencari sebuah VCD yang diangkat dari novel “Memoirs of Geisha” juga yang berjudul “ The Secret Life of Geisha” yang diproduksi oleh BBC.
Seks dan Wanita Jepang
Wanita Jepang terkenal berparas ayu, lembut, dan cantik. Kesan oriental kerap disandang para wanita Jepang. Apalagi wanita-wanita Jepang yang seringkali mengunjungi indonesia. Bentuk mata yang sipit, muka yang semi bulat dengan pipi semu merah, dan kulit putih bak pualam semakin memikatlah sosok wanita Jepang. Namun, tidak semua wanita Jepang memiliki gambaran seindah itu.
Seperti halnya orang-orang indonesia asli yang juga beragam, para wanita Jepang pun memiliki kecantikan yang beragam. Artinya tidak selalu orang cantik melulu di Jepang. Ada juga yang wajahnya biasa saja, yang gemuk, yang berwajah penuh jerawat, wajah orang tua, namun tetap saja mereka memiliki tipikal mata sipit yang hampir sama.
Selain terkenal dengan pipi semu merahnya, wanita Jepang pun identik dengan seksnya. Wah, mengapa seksnya? Tentu saja. Karena Jepang adalah negara yang mengekspos seks sebagai komoditi. Kalau bicara tentang seks yang dikomoditikan, tentu saja yang diekspos adalah wanitanya.
Wanita Jepang Menjadi Komoditi Seks
Miris rasanya mendengar kisah dari negeri sakura ini. Seks adalah sesuatu yang dijadikan devisa negeri ini. Pasti Anda tergelitik akan pertanyaan, Lho, kok bisa? Tentu saja bisa. Seks sudah jadi komoditi, baik ekspor maupun untuk keperluan dalam negeri Jepang. Mulai dari film esek-esek, love hotel, seks toy, pub-pub di sinjuku, manga hentai, kartun hentai, kit figure dan jenis lainnya. Semua serba mengusung dan menjual yang namanya seks.
Wanita-wanita Jepang pun tidak merasa risih dengan hal tersebut. Menjadi hostes pun bukan masalah. Seks sudah menjadi bebas. Wanita Jepang berhak memilih hendak melakukan hubungan intim dengan siapa. Bahkan seringkali ada saja anak-anak SMU di Jepang yang kerap menjual diri pada om-om pekerja untuk mendapat sejumlah uang guna membeli beragam pernik-pernik mahal dan gaya seperti hape, tas mahal, sepatu mahal ataupun baju mahal.
Komoditi seks yang terutama mengekspolasi wanita Jepang tampaknya tidak terlalu menggangu segi kehidupan mereka. Keteraturan dan disiplin tetap diberlakukan. Memang, ada saja pelecehan dan pemerkosaan, namun jumlahnya tidaklah separah di Amerika sebagai negara yang mengumbar seks bebas.
Walau begitu, sebagai negara yang menjadikan seks sebagai komoditi dan merupakan negara pengonsumsi video pornografi nomor dua di dunia, mereka pun tetap mengedukasi para anak-anak mudanya untuk mengenal seks yang aman. Jepang memang menjadikan seks sebagai komoditi, namun masih kalah dari Thailand yang terkenal sebagai negara pengidap HIV terbanyak di dunia.
Wanita Jepang dan Geisha
Kecantikan wanita Jepang dan kepiawaiannya dalam seni berbalut sebagai wanita penghibur dikenal dengan sebutan geisha. Di masanya, wanita Jepang yang menjadi seorang geisha adalah wanita dengan kedudukan tinggi dan bukannya murahan. Kemampuannya dalam seni memikat laki-laki dari kalangan atas. Itu sebabnya geisha di zaman perang mampu memengaruhi jalannya pemerintahan. Mereka menjadi tempat curhat para pangeran dan petinggi istana. Karena kegiatan geisha demikian dekat dengan pemerintahan dan dicurigai bisa menjadi mata-mata, maka geisha kemudian dikucilkan dan ditangkapi.
Belakangan pekerjaan geisha berubah, semula dari hanya sekadar menghibur dengan seni, lalu kemudian berlanjut ke ranjang. Akhirnya kedudukan geisha bergeser menjadi wanita penghibur, bahkan simpanan para petinggi. Geisha pun kini namanya mulai luntur. Imagenya pun sudah memudar, seolah berganti rupa. Dari kedudukan sebagai penghibur dengan nilai seni yang tinggi hingga hanya sekadar sebagai wanita penghibur.
Wanita Jepang Lewat Besutan Film Biru
Mungkin banyak sekali wanita Jepang yang memiliki tubuh oke beralih profesi menjadi pekerja Adult Video, atau biasa dikenal dengan AV. AV adalah sebuah video yang dikhususnya untuk kaum pria. Isinya, tentu saja wanita seksi yang sedang melakukan hubungan seks atau sekadar buka-bukaan agar merangsang.
Wanita Jepang menganggap bahwa bekerja sebagai bintang film AV harus terus mempercantik penampilannya. Kecantikan mereka bahkan mampu memikat orang sampai lintas negara. Contohnya saja Miyabi, atau Maria Ozawa. Dia adalah contoh wanita Jepang yang setelah lulus SMU menekuni dunia AV dengan lebih serius. Film-film birunya sudah banyak dan malang-melintang di antara para penggemarnya.
Mengenai acting, tidak perlu ditanya. Wanita Jepang yang khusus mengerjakan film biru tidak perlu akting menangis, yang penting punya bodi seksi, maka semuanya akan lancar-lancar saja. Miyabi hanya contoh dari sekian banyak bintang film biru dari Jepang. Belum lagi artis lain yang penggemarnya pun ratusan laki-laki hidung belang.
Wanita Jepang sebagai pemain film esek-esek pun memiliki daya pikat yang luar biasa. Mereka cantik, seksi, tubuhnya oke punya ditambah kulit halus dan mulus menjadikan mereka icon seks.
Pada dasarnya, industri AV di Jepang merupakan yang terbesar di dunia. Mereka bisa menghasilkan ribuan film-film porno dengan segala gendre, mulai dari ABG sampai yang sudah dewasa. Bahkan omzet film pornografi di Jepang luar biasa besar. Dalam setahun, omzet yang dihasilkan bisa mencapai 20 juta dolar Amerika.
Tapi, wanita Jepang bukan hanya terkenal sekadar bermain esek-esek. Ada juga wanita Jepang yang menceburkan diri ke dunia perfilman dan sukses di sana tanpa mereka perlu mengumbar tubuh mereka. Seperti Kyoko Fukada, Nakama Yukie, Inoue Mao, dan sederet pemain wanita lainnya.
Film-film drama Jepang pun tidak kalah menarik dibanding film-film Asia lainnya. Dengan jumlah episode yang pendek, kisah yang sederhana, film Jepang punya cara memikat sendiri bagi kalangan penggemarnya. Pemain perempuannya pun cantik, lincah ,dan tentu saja bisa beracting.
Wanita Jepang dalam Manga
Setelah berbicara tentang wanita Jepang di dalam lingkup sosial mereka, berupa wanita Jepang di masa lampau dalam balutan geisha, wanita Jepang pemain Adult Video, bahkan wanita Jepang sebagai pemain film bergengsi, kini bicara tentang wanita Jepang di dalam kisah manga.
Secara fisik, penciptaan tokoh-tokoh dalam manga terasa berlebih-lebihan. Coba lihat saja manga yang beredar. Sosok tokoh di dalam manga bebeda dengan sosok orang-orang Jepang, termasuk tokoh wanitanya yang berbeda sekali. Itu bisa dilihat dari penampilan dalam manga.
Orang Jepang umumnya memiliki mata yang sipit, pipi yang semu merah, dan bentuk muka yang agak oval. Tapi, lihatlah gambar dalam manga. Tokoh yang ditampilkan bermata besar dengan dagu lancip. Rambut terurai bergulung-gulung. Untuk tokoh prianya, tubuhnya gagah, matanya tegas, dan wajahnya ganteng sampai memikat yang membaca.
Komik atau manga menampilkan gambar sosok tokoh dengan fisik terbaik yang diinginkan para pembaca. Bukan hanya sekadar wajah saja yang dilebih-lebihkan dengan kecantikan ala manga, namun juga bentuk tubuh seksi yang bikin pembaca pria ngiler melihatnya.
Perut yang tipis, dada yang besar, bokong yang penuh. Semua adalah gambaran ideal penulis yang ingin memanjakan pembaca dengan “fun service”. Oleh sebab itu, seringkali manga untuk cowok penuh dengan gambar-gambar cewek berdada besar dengan menggunakan pakaian super minim.
Wanita Jepang yang digambarkan dalam manga adalah wanita impian di benak mangaka. Mereka menampilkan gambaran terbaik, terseksi, dan tercantik dari seorang wanita. Begitupun bagi mangaka wanita yang menampilkan tokoh laki-laki di dalam manga cewek yang ganteng, memikat, gagah, dan dingin. Semua adalah gambaran ideal seseorang tentang impian walau toh gambaran wanita Jepang aslinya tidak melulu begitu.
Tapi harus diakui, gaya rambut dan model pakaian dalam manga seringkali ditiru oleh para penggemar manga hingga terciptalah tren yang kemudian dikenal sebagai cosplay. Gaya rambut para tokoh manga pun seringkali diadaptasi dan ditiru yang kemudian memunculkan style harajuku. Bagaimanapun, wanita Jepang asli tidaklah bisa disandingkan dengan wanita Jepang dalam manga. Mereka tetap berbeda.

