logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Sosial    Fenomena Sosial    Wanita Panggilan

Diskursus Wanita panggilan

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Ingin membaca kisah wanita panggilan? Simak cerita berikut. Rosa, seorang wanita muda cantik berusia 20-an berjalan sambil menjinjing tas besar belanjaannya, sesaat ia berhenti di sebuah counter kosmetik dengan brand asing yang terkenal. Gaun panjang yang dikenakannya menyiratkan pemiliknya bukanlah wanita biasa, pastilah ia mempunyai penghasilan luar biasa pula.

Beberapa saat kemudian ia keluar dengan membawa jinjingan yang baru, satu set kosmetik merek terkenal. Terkesan glamour dan fashionable. Namun, siapa sangka bahwa Rosa adalah salah satu dari sekian banyak wanita panggilan yang ada di negara ini. Sesuai dengan namanya, ia memang selalu siap dengan hp dan BB di tangan.

Karena dari panggilan yang berdering itulah ia akan mendapatkan job, menemani para lelaki yang ingin mendapatkan servisnya. Para kliennya bukan orang sembarangan, beberapa di antaranya sering muncul di layar televisi, mulai dari penjabat, pengusaha kaya, hingga anggota dewan.

Rosa juga terlihat begitu menikmati hidupnya, walaupun sebenarnya hanya dia dan Tuhan yang tahu bagaimana dia menyikapi kondisi hidupnya saat ini. Bagi sebagian orang mungkin melihat Rosa adalah wanita yang beruntung, punya banyak uang, punya relasi orang-orang top, cantik, dan masih muda pula.

Tapi tunggu dulu, tidak banyak wanita panggilan mengalami nasib sebaik Rosa. Lebih banyak yang mengalami nasib kebalikannya, hidup sulit, dan terjepit hutang, hidup terkekang di bawah pengawasan ketat mucikari bengis, atau bertemu dengan klien berengsek yang tidak mau membayar.

Belum lagi kepergok oleh istri sah teman kencan, digrebek oleh petugas di kamar losmen murahan, hingga harus berujung kematian akibat pria tak bertanggung jawab yang takut skandalnya terbongkar ke permukaan. Ya, wanita panggilan memang bisa dilihat dari berbagai sisi. 

Wanita Panggilan, Sumber Keretakan Rumah Tangga

Apa yang tebersit di pikiran Anda ketika mendengar kata “wanita panggilan”? Akan ada banyak jawaban berbeda dari setiap orang yang ditanyakan. Wanita murahan, wanita nista, manusia tak bermoral, manusia malas yang suka mengambil jalan pintas, sampah masyarakat, calon penghuni neraka, dan lain sebagainya.

Itulah seabrek tudingan yang disematkan kepada mereka. Nyaris tak ada yang baik-baiknya. Pendapat di atas banyak didukung oleh para tokoh agama, walaupun dalam hal ini bisa dibedakan meski tipis, antara “tokoh agama” dan “agama”.

Maksudnya tak semua tokoh agama memiliki pendapat yang persis sama, sebab ada juga sebagian dari kalangan agamawan ini yang memiliki pendapat berbeda, bergantung pada agama yang dijadikan landasan berpikirnya dan tergantung pada cakrawala berpikir masing-masing tokoh agama tersebut.

Tapi pada dasarnya, ajaran agama menentang keberadaan wanita panggilan ini. Di samping dari kalangan agamawan, para pendukung pendapat ini ada banyak juga yang berasal dari kalangan wanita, terutama para ibu rumah tangga. Mereka berpendapat keberadaan wanita panggilan ini sebagai penyebab utama terjadinya perselingkuhan yang berakibat retaknya hubungan rumah tangga mereka.

Wanita Panggilan, Jangan Ada Perlakuan Berbeda!

Bertolak belakang dengan pendapat pertama, pendapat berikutnya justru mereka yang mendukungnya. Sebagian besar yang mendukung pendapat ini adalah dari kalangan pelacur itu sendiri, mantan pelacur, atau orang yang memang menikmati hidup dari pelacuran.

Yaitu mereka yang menganggap bahwa wanita panggilan adalah sebuah profesi. Sama halnya dengan profesi lainnya. Bagi mereka pelacuran adalah salah satu pekerjaan tertua yang pernah ada di bumi. Dan bila pekerjaan tersebut masih eksis hingga saat ini, berarti menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan mereka.  

Wanita panggilan adalah bagian dari pelacuran dan pelacuran adalah bagian dari pekerjaan. Oleh karenanya, harus mendapatkan hak-hak yang sama dengan kelas pekerja lainnya, seperti yang tertulis pada Piagam Dunia untuk hak-hak pelacur yang diterbitkan pada Kongres Pelacur Sedunia I di Amsterdam, Belanda tahun 1985.

1. Menyangkut Status Hukum

Mereka menuntut agar pelacuran tidak dikategorikan sebagai tindak kriminal dalam segala aspeknya pada orang-orang dewasa sepanjang profesi itu dipilih secara pribadi dan sadar. Tuntutan lainnya ialah agar mereka terhindar dari segala kecurangan, pemaksaan, kekerasan, kejahatan seksual, dan mencegah pelacuran anak-anak.

2. Penghormatan kepada Hak-hak Asasi Manusia

Mereka menuntut agar pelacuran diberi hak asasi dan hukum sesuai sesuai dengan standar bisnis yang berlaku. Dalam ini perlu dicantumkan klausul khusus untuk mencegah penyiksaan, penyalahgunaan serta penistaan terhadap para pelacur.

Menuntut jaminan untuk kebebasan sipil, meliputi kemerdekaan mengeluarkan pendapat, perjalanan, imigrasi, bekerja, menikah, serta tunjangan pengangguran.

3. Kenyamanan dan Keamanan Kondisi Kerja Pelacur

Mereka menuntut dihapuskannya peraturan atau UU yang mengisolasi serta melokalisasi di satu tempat tertentu. Pelacur punya hak menentukan sendiri tempat kerja serta tempat tinggalnya.

Wanita Panggilan, Ayo Tolong Mereka!

Sebagian orang lagi mungkin mempunyai pendapat berbeda. Wanita panggilan menurut versi mereka adalah korban kerasnya kehidupan, wanita lemah yang harus segera mendapatkan pertolongan, manusia tersesat yang harus dituntun untuk segera kembali pulang, potret buram sulitnya mendapatkan pekerjaan, bukti nyata gagalnya pemerintah mengentaskan kemiskinan, dan lain sebagainya.

Para pendukung pendapat ini banyak yang berasal dari kalangan pekerja sosial, LSM, rohaniawan, budayawan, termasuk juga artis dan seniman. Banyak tokoh terkenal yang berpendapat demikian, seperti Goenawan Mohamad, Romo Y. B. Mangunwijaya, W. S. Rendra (alm), Gus Dur (alm), dan lain-lain.

Dua arus utama pemikiran di atas sepertinya saling bertentangan, dan saling bertolak belakang. Wanita panggilan menurut pendapat versi pertama adalah subjek atau pelaku. Sementara itu, menurut pendapat kedua wanita panggilan adalah objek atau korban. Berdasarkan dua sudut pandang yang berbeda tersebut, mengakibatkan terjadinya perbedaan dalam cara penanganan.

Mereka yang menganggap wanita panggilan adalah subjek maka cenderung memusuhi, menghabisi tanpa ampun, dan kalau perlu dimusnahkan dari muka bumi ini. Sementara itu, bagi mereka yang menganggap wanita panggilan adalah objek maka akan memperlakukan mereka sebagaimana layaknya korban. Ditolong, diperhatikan, dan disantuni adalah yang harus dilakuan untuk para wanita panggilan ini.

Apa yang Bisa Anda Simpulkan dari Tulisan Tersebut?

Setiap orang tentu punya kesimpulan sendiri-sendiri. Namun, setidaknya ada beberapa poin yang bisa dijadikan benang merah dari tulisan tentang diskursus wanita panggilan ini.

  • Pada hakikatnya, Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
  • Tak semua pilihan hidup yang dijalani dapat berjalan sesuai harapan.
  • Perempuan yang menjadi wanita panggilan dapat disebabkan oleh banyak faktor, oleh karenanya tak bisa dikekang oleh berbagai aturan.
  • Mengingatkan orang untuk tidak berbuat maksiat adalah perbuatan mulia, namun lebih mulia lagi apabila bisa mencarikan solusinya.
  • Mengharamkan pelacuran tidak sama dengan mengharamkan pelacur. Sebab yang ditentang adalah perbuatan dan sistem yang memungkinkan hal itu bisa terjadi, bukan pribadinya sebagai manusia.
  • Negara-negara berkultur barat memang memiliki tradisi demokrasi yang panjang, tak mengherankan bila segala sesuatunya diukur dari kacamata HAM.
  • Sebagai orang timur, ada nilai-nilai seperti moral, agama, dan etika yang sangat dijunjung tinggi. 

Demikianlah tulisan tentang “Diskursus Wanita Panggilan", semoga bermanfaat!

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Tawuran Anak Sekolah Berakibat Fatal
  • Badut dan Realita Hidup
  • Penderitaan Tenaga Honorer
  • Manusia Gerobak - Akankah Miskin di Dunia dan di Akhirat?
  • Mengupas Eksistensi Nudis Prancis
  • Dampak Syuting Kejar Tayang bagi Selebritis
  • Memandang Suatu Fenomena Sosial
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA