Wayang Arjuna - Pandawa Paling Tangguh
Ilustrasi wayang arjuna
Wayang Arjuna sering sekali hadir dalam berbagai cerita pewayangan di wilayah Jawa, Bali, Madura, dan Lombok.
Masyarakat di daerah-daerah tersebut juga mengenal sosok Arjuna dari kakawin atau bentuk syair yang tertulis dalam bahasa Jawa kuno. Kakawin yang berisikan cerita tentang tokoh wayang Arjuna di antaranya adalah Kakawin Arjunawiwāha, Kakawin Pārthayajñā, dan Kakawin Pārthāyana.
Penggemar cerita wayang pasti tidak asing mendengar nama wayang Arjuna. Kehadiran wayang Arjuna dalam setiap cerita wayang memang cukup penting. Ia selalu memegang kendali dalam setiap jalan cerita.
Perannya yang cukup penting dalam cerita pewayangan rasanya cukup wajar, mengingat asal-usul serta latar belakang kehidupan dari wayang Arjuna.
Wayang Arjuna yang merupakan salah satu dari Pandawa Lima memang dianugerahi sebuah keistimewaan, tidak berbeda jauh dengan keberadaan saudara-saudaranya yang lain.
Keitimewaan itulah yang membuat sosok wayang Arjuna ini berbeda. Konon, selain terkenal karena postur tubuh yang gagah, wajah yang tampan, Arjuna juga dianugerahi kepintaran dalam memimpin. Darah yang mengalir dalam tubunya bukanlah darah biasa, sebagian darah dewa mengaliri tubuhnya. Faktor itulah yang menjadi salah satu penyebab mengapa wayang Arjuna begitu sitimewa.
Tokoh Wayang Arjuna dan Cerita Pewayangan
Wayang Arjuna dan Latar Belakang
Tokoh wayang Arjuna terlahir dari seorang wanita bernama Dewi Kunti, dengan ayah adalah seorang Raja Hastinapura bernama Prabu Pandudewanata. Ia terlahir dengan wajah yang rupawan serta kepribadian yang lembut.
Wayang Arjuna ini sudah memiliki cerita menakjubkan, bahkan jauh sebelum ia dilahirkan. Ayah dari tokoh wayang Arjuna ini bernama Prabu Pandudewanata. Prabu Pandudewanata sebenarnya tidak bisa memiliki keturunan.
Ketidakmampuannya dalam memiliki keturunan akibat dikutuk oleh seorang penyair suci yang mendapatkan wahyu atau biasa disebut resi. Kekurangan yang dimiliki oleh Prabu Pandu ternyat berbanding terbalik dengan keadaan yang menimpa Dewi Kunti.
Dewi Kunti justru mendapatkan anugerah dari seorang suci. Anugerah tersebut berupa kemampuan memanggil Dewa-Dewa sesuai dengan kebutuhannya. Anugerah yang dimilikinya tersebut, juga bisa digunakan untuk meminta sesuatu, dan Dewi Kunti pun meminta kehadiran seorang putra dalam kehidupannya, maka lahirlah tokoh wayang Arjuna ini.
Dalam cerita Mahabharata, tokoh wayang Arjuna adalah seorang pria yang berkarakter mulia, memiliki jiwa kesatria, teguh pendirian, dan gagah berani.
Selama perjalanan hidupnya, Arjuna memiliki nama lebih dari satu, nama-nama tersebut berhubungan dengan kepribadiannya. Nama-nama tersebut diantaranya Dananjaya, Phālguna, Jishnu, Wibatshu, dan Wijaya.
Tokoh wayang Arjuna yang gagah berani ini merupakan satu diantara lima punggawa Pandawa. Dalam bahasa Sanskerta berarti anak pandu. Dengan kata lain, Pandawa adalah anak mahkota dari kerajaan Hastinapura. Mereka adalah Nakula, Sadewa, Bima, Yudistira dan Arjuna.
Dalam cerita pewayangan itulah, Di antara punggawa Pandawa yang lain, tokoh wayang Arjuna adalah punggawa yang paling teguh. Terutama ketika ia tengah bertapa. Sekuat apapun gangguan yang datang hal itu tidak akan membuat konsentrasinya terganggu. Ia akan tetap fokus.
Selain itu, kelihaian tokoh wayang Arjuna dalam menggunakan panah pun melebihi kemampuan saudara-saudaranya yang lain sesama pandawa. Kemampuan memanah Arjuna benar-benar tidak usah diragukan.
Ia mampu mengalahkan seekor buaya yang menyerang gurunya, Dorna. Dorna lantas memberi Arjuna sebuah hadiah berupa astra yang bernama Brahmasirsa. Kemampuannya memanah pun membuat Dropadi terpesona.
Dalam cerita epik Mahabharata, tokoh wayang Arjuna memenangkan kontes pemilihan “pasangan” bagi Dropadi berkat keahliannya dalam memanah. Arjuna mengalahkan para Pandawa lainnya.
Segala kelebihan yang dimiliki tokoh wayang Arjuna, seperti wajah yang rupawan, kepribadian yang menarik, dan kepandaiannya dalam memanah membuat para gadis di wilayahnya menjadi tergila-gila. Meskipun begitu, ia tidak lantas memanfaatkan kelebihannya untuk menarik hati banyak wanita. Arjuna hanya mencintai Subadra, yang nantinya memberinya seorang putra bernama Abimanyu.
Tokoh Wayang Arjuna dan Perang Barathayuda
Perang Barathayuda dikenal juga dengan nama pertempuran Kurukshetra. Dalam peperangan itu, tokoh wayang Arjuna bertarung melawan para Kurawa yang dipimpin oleh Bisma. Kurawa dan Pandawa sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan, maka dari itu pada saat peperangan terjadi Arjuna tidak membunuh Bisma karena alasan segan. Namun pada akhirnya, tokoh wayang Arjuna tetap membunuh Bisma dan melanjutkan dengan melawan Jayadrata.
Perang Barathayuda tidak berhenti sampai di situ. Setelah berhasil mengalahkan Jayadrata dengan bantuan Kreshna, Arjuna kembali harus bertarung dengan Kurawa, kali ini ia berhadapan dengan Karna. Ketika melawan Karna itulah, batin dari tokoh wayang Arjuna ini kembali ragu.
Saat itu, kereta kuda yang ditunggangi Karna terjatuh, dalam etika peperangan, melawan musuh yang sedang dalam keadaan tidak berdaya ternyata bukan tindakan yang kesatria, tokoh wayang Arjuna pun menghentikan penyerangannya.
Berkat dorongan dari Khresna yang mengingatkan bahwa Abimanyu juga diserang saat dalam keadaan tidak berdaya, emosi dan dendam yang ada dalam batin wayang Arjuna ini kembali bergejolak. Mengetahui anaknya tengah dalam bahaya, membuatnya tanpa ragu untuk melesatkan panahnya tepat di kepala Karna, dan ia pun memenangkan peperangan Barathayuda tersebut.
Tokoh Wayang Arjuna Punya Cerita
Cerita mengenai tokoh wayang Arjuna dalam kitab Mahabharata dan pewayangan khas budaya Jawa sedikit berbeda.
Pada cerita pewayangan, Arjuna adalah sosok ksatria yang senang berkelana, tapa dan belajar. Ia juga cerdik, pandai, teliti terhadap sesuatu hal, sopan, berani, dan senang membela kaum yang lemah.
Dalam cerita pewayangan, tokoh wayang Arjuna memimpin sebuah kadipaten bernama Madukara, kadipaten ini masih termasuk dalam wilayah negara Amarta.Setelah kemenangannya dalam perang Barathayuda, ia diceritakan menjadi raja dari kerajaan Jayadrata.
Dalam pewayangan Jawa, kematian tokoh wayang Arjuna ini diceritakan sebagai kematian moksa atau mati dengan cara yang sempurna, bersama dengan keempat saudaranya yang dikenal dengan nama pandawa lima, di atas gunung Himalaya.
Selayaknya seorang ksatria, tokoh wayang Arjuna juga memiliki pusaka. Diceritakan bahwa pusaka yang dimiliki oleh Arjuna jumlah dan macamnya sangatlah banyak.
Pusaka tersebut di antaranya adalah Keris Kiai Kalanadah yang merupakan hadiah dari Gatotkaca, Panah Sangkali hadiah dari Resi Dorna, dan Keris Pulanggeni yang telah ia berikan kepada Abimanyu.
Perbedaan cerita Mahabharata dan pewayangan tentang Arjuna juga berkenaan dengan jumlah wanita yang dinikahi Arjuna. Dalam pewayangan, wanita yang menjadi istri dari Arjuna berjumlah 16 orang. Dari ke 16 wanita tersebut, Arjuna memiliki 14 putra dan putri. Salah satu di antaranya adalah Abimanyu. Pada cerita inilah, sekaligus diperkenalkan sosok Srikandi sebagai wanita pendamping Arjuna.
Wayang Arjuna – Sosok Arjuna Masa Kini
Ketampanan serta kepiawaian memikat hati wanita yang dimiliki oleh tokoh wayang Arjuna ini memang tidak bisa tergantikan. Ketampanannya bahkan seringkali disebut-sebut untuk menggambarkan ketampanan seorang pria yang hidup di masa kini. Pria yang tidak hanya sekadar tampan, tapi juga memesona.
Tokoh wayang Arjuna memang terlihat sempurna. Ia adalah ksatria dengan wajah tampan, keahlian yang mumpuni dalam segala bidang, serta sifat penyayang pada semua wanita. Tidaklah mengherankan jika lelaki bertabiat sama persis dengan Arjuna sering dikenai julukan Arjuna.

