logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Seni    Seni Tradisional

Wayang Beber, Kesenian yang Hampir Terlupakan


Ilustrasi wayang beber

Wayang Beber merupakan salah satu seni pewayangan yang muncul dan kemudian berkembang di daerah Pulau Jawa. Seni pewayangan tersebut muncul pada masa Islam, lalu berkembang di seluruh penjuru Pulau Jawa.

Seni wayang tersebut dinamakan wayang beber karena wayangnya berbentuk lembaran atau beberan yang kemudian dibentuk sebagai tokoh dalam cerita pewayangan, baik cerita Ramayana maupun cerita Mahabrata.

Asal-Usul Wayang Beber

Seni pewayangan tersebut muncul pada masa kerajaan Majapahit. Pada awalnya, gambar tokoh pewayangan dilukiskan pada selembar kain atau kertas yang kemudian disusun sesuai dengan adegan dan urutan cerita.

Gambar-gambar tersebut kemudian dimainkan dengan cara dibeberkan sehingga muncullah nama wayang beber dalam seni pewayangan. Beberapa kalangan masyarakat yang sampai saat ini masih memainkan seni pewayangan jenis ini adalah masyarakat di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Karangmojo.

Menurut cerita, salah satu wali yaitu Sunan Kalijaga kemudian memodifikasi bentuk wayang beber sehingga menjadi wayang kulit yang kita kenal sekarang ini. Denagn bentuk bentuk yang bersifat ornamenotik, Sunan Kalijaga tersebut memodifikasi wayang dengan alasan bahwa agama Islam tidak memperbolehkan bentuk gambar makhluk hidup.

Selain itu, Sunan Kalijaga juga memberikan tokoh tambahan yang tidak ada pada wayang babon (seni wayang dengan tokoh asli India), yakni Semar dan anak-anaknya, serta Pusaka Hyang Kalimusada.

Wayang yang telah dimodifikasi tersebut kemudian dijadikan sebagai media untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Wayang beber asli yang pertama dipamerkan masih bisa kita lihat di daerah Pacitan, Donorojo. Wayang tersebut dipegang secara turun temurun oleh anak cucu yang merupakan keturunan orang pertama pemegang dan pemelihara wayang tersebut.

Menurut kabar yang bedasarkan kitab Sastro Mirudo, wayang tersebut pertama kali dibuat pada tahun 1283 oleh Condro Sengkolo, Gunaning Bujonggo Nembah Ing Dewo yang kemudian pembuatannya dilanjutkan oleh Putra Prabu Bhre Wijaya. Selain cerita Ramayana dan Mahabrata, wayang beber juga menyajikan cerita Panji Asmoro Bangun yang menjalin hubungan asmara dengan Dewi Sekartaji Putri Jenggolo.

Kesenian Tertua di Indonesia

Beberapa orang menyebut bahwa Wayang Beber merupakan salah satu wayang tertua di Indonesia. Meskipun merupakan salah satu lakon wayang tertua di Indonesia, namun wayang beber jarang dipentaskan. Wayang beber merupakan kesenian tradisional warisan dari kerajaan Majapahit. Untuk mendapatkan literasi tentang wayang beber memang cukup sulit. Popularitasnya sangat jauh jika dibandingkan dengan wayang kulit.

Padahal, wayang beber merupakan salah satu kesenian wayang tertua di Indonesia. Sampai tahun 80-an, hanya budayawan Jawa RM Sayid yang mengulasnya dalam buku stensil. Di daerah Pacitan dan Gunung Kidul, wayang beber masih merupakan benda keramat. Berbagai ritual-ritual seperti membwrsihakan wayang dan upacara adat harus dilakukan sebelum mementaskan wayang beber.

Pementasan Wayang Beber

Dalam pementasannya, wayang-wayang tersebut "dibeberkan" dalam kain. Dalam satu gulungan kain, terdapat berbagai macam adegan. Jadi perpindahan adegan dalam wayang beber adalah dengan cara membuka kain tersebut, lalu menutup bagian kain yang lain. Lalu sang dalang menceritakan kejadian yang ada dalam gambar yang terbuka. Cerita yang biasanya dipentasakan dalam wayang beber adalah lakon Panji.

Lakon ini ada pada saat Islam mulai masuk dan berkembang di kerjaan Majapahit. Panji adalah seorang pangeran dari kerjaan Tabanan. Cerita ini sangat populer dalam dunia wayang. Panji dianggap sebagai leluhur karajaan Majapahit.

Kekuatan wayang beber selain pada narasi dalang dan gambar, ada pula pada musiknya. Musik pengiring wayang beber adalah lesung. Lesung merupakan alat musik tradisional yang dibuat dari penumbuk padi. Jadi para pemain lesung membuat irama dari penumbuk padi.

Memainkan musik lesung mustahil untuk sendirian. Jadi, para pemain berdiri berjajar di atas penumbuk padi dan melakukan gerakan memukul alat penumbuk tersebut dengan kayu. Interval nada yang diciptakan dari pukulan kayu tersebut akan menciptakan harmonisasi suara seperti perkusi.

Wayang Beber di Era Modern

Meskipun kurang populer di Indonesia, namun wayang beber sudah dipentaskan di mancanegara. Dani Iswardana WIbowo, seorang seniman asal Surakarta yang membawa wayang beber ini keliling dunia. Ia pernah mementaskan wayang beber di Prancis.

Dalam pementasannya di Prancis, Dani menggabungkan antara seni tradisional dengan pendekatan modern. Dani memang konsiten dalam mendokumentasikan dan mempopulerkan wayang beber kembali. Bahkan pada 2004, Dani mendirikan sebuah Komunitas yang bernama "Wayang Beber Kota" bersama Agung PW dan Tri Ganjar Wicaksono.

Komunitas ini bertujuan untuk membuat wayang beber bisa diterima dan dikenal oleh masyarakat Indonesia. Karena diisi oleh para seniman muda, pementasan yang dilakukan oleh Wayang Beber Kota selalu segar. Dalang utama mereka, Tri Ganjar Wicaksono bahkan berusia di bawah 20 tahun.

Semoga saja kesenian wayang yang konon merupakan wayang tertua di Indonesia ini bisa kembali dinikmati oleh banyak masyarakat. Karena ini merupakan sebuah peninggalan kebudayaan yang harusnya dibuat kembali bergairah.

Langkah-Langkah Pementasan Wayang Beber

Pertunjukkan wayang beber sudah sangat tua, yakni sejak zaman kerajaan Majapahit. Kesenian yang hampir punah ini tidak dapat diajarkan kepada orang lain yang bukan keturunan para dalang wayang beber. Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa langkah yang harus ditepati dan tidak boleh dilanggar pada saat pementasan wayang beber sedang berlangsung.

Wayang beber hanya akan dipentaskan dengan alasan tertentu yang berhubungan dengan tradisi setempat, misalnya saja upacara ruwatan dan nadar. Wayang berbentuk lukisan yang dibuat di atas kertas ini memiliki bentuk mirip seperti wayang kulit purwa, yakni menampakkan kedua mata.

Beberapa bentuk sikap wayang antara lain adalah sikap bersila, berjalan, berperang, dan lain sebagainya dengan jumlah lukisan wayang beber sebanyak 6 gulung dan tiap gulung berisi 4 adegan atau biasa disebut jagong. Gulungan tersebut kemudian digulungkan di atas kotak dengan urutan pertunjukkan sebagai berikut.

  1. Dalang membakar kemenyan terlebih dahulu sebelum memulai acara pertunjukkan wayang.
  2. Setelah selesai membakar kemenyan, dalang kemudian membuka kotak sambil mengambil tiap gulungan yang sesuai dengan kronologi cerita.
  3. Dengan posisi membelakangi penonton, dalang kemudian membeberkan gulungan yang sesuai jalan cerita.
  4. Kemudian dalang melantunkan narasi atau janturan cerita.
  5. Setelah janturan, mulailah suluk (lagu penggambaran) yang jika dibandingkan dengan suluk wayang purwa memiliki banyak sekali perbedaan.
  6. Setelah itu, barulah pocapan dimuai berdasarkan gambar wayang yang sedang dibeberkan sampai akhir cerita selesai.

Selama pertunjukkan berlangsung, musik yang melantun dimainkan oleh seperangkat gamelan salendro untuk mengiringi cerita wayang tersebut. seperangkat gamelan tersebut terdiri atas rebab, kendang batangan, ketuk berlaras dua, kenong, gong besar, gong susukan, dan kempul. Dengan penabuh sebanyak 4 orang yang terdiri atas satu orang penggesek rebab, petigendang, penabuh ketuk kenong, dan penabuh kempul serta gong.

Pertunjukkan yang diselenggarakan biasanya berjalan sekitar satu setengah jam denagn waktu siang atau malam hari. Salah satu syarat yang juga harus dipenuhi dalam pementasan wayang beber adalah sesaji yang terdiri atas kembang boreh, ketan yang sudah ditumbuk halus, tumpeng, panggang ayam, ayam hidup, jajanan pasar berupa kue tradisional, serta pembakaran kemenyan. Sementara itu, sesaji untuk acara ruatan atau pembersihan desa perlu ditambah dengan sebuah kuali, kendi, dan kain putih yang ketiganya baru.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Pakaian Tradisional Aceh dalam Budaya
  • Kesenian dan Budaya dalam Pertunjukan Badawang
  • Sejarah dan Perkembangan Tari Jaipong
  • Seni Teater Nusantara: Masalah dalam Teater
  • Gamelan Jawa Cermin Keselarasan Hidup
  • Kesenian Aceh Kebanggaan & Keajaiban yang Tersembunyi - ANNEAHIRA.COM
  • Angklung - Jenis Musik Tradisional Jawa Barat yang Mendunia
  • Tarian Nusantara sebagai Identitas Budaya Bangsa Indonesia
  • Keindahan Etnik Ukiran Kalimantan
  • Fenomena Kegemaran Masyarakat terhadap Motor Tua
  • tari seribu tangan - Seribu Tangan Nan Rupawan
  • Kesenian Sunda Populer
  • Ragam Tari Tradisional Indonesia
  • Penjelasan Pengertian Seni Budaya
  • Pertunjukan Musik Daerah, Lahir dari Tradisi
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA