Si Cepot Sang Ikon Wayang Bodoran
Bagi masyarakat Sunda, sosok Si Cepot sebagai sosok wayang bodoran sudah tak asing lagi. Bahkan, ada yang mengatakan, "Jangan mengaku orang Sunda jika belum mengenal Si Cepot!" Seperti apakah Si Cepot yang disebut-sebut sebagai tokoh abadi hingga kini? Si Cepot adalah tokoh wayang golek yang selalu mengundang tawa karena kesukaannya ngabodor (melawak). Tak heran jika Si Cepot menjadi ikon wayang bodoran di Tanah Sunda.
Astrajingga
Selain dikenal sebagai Si Cepot, tokoh wayang bodoran ini juga mempunyai nama yang biasa disebut Astrajingga. Fenomena Cepot sebagai tokoh sepanjang masa sangat masuk akal karena ia adalah tokoh imajiner yang akan tetap hidup dan bermetamorfosis ke dalam kondisi sosial dari zaman dahulu hingga abad modern ini.
Si Wajah Merah
Si Cepot atau Astrajingga merupakan salah satu tokoh yang terdapat dalam dunia pewayangan, lebih khusus pada kesenian wayang golek. Fisiknya ditandai dengan wajah yang memerah dengan ciri khas perilakunya yang bodor atau suka sekali bercanda. Cepot adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang terlahir dari pasangan Semar Badranaya dan Sutiragen.
Penamaan Astrajingga sendiri diambil dari dua kata, yakni sastra yang bermakna 'tulisan' dan jingga yang merupakan cerminan karakter berkelakuan buruk seumpama pelajaran yang memiliki nilai merah. Meskipun demikian, di sinilah yang membuat Si Cepot menjadi menarik. Meskipun konyol, kehadirannya dalam sebuah lakon selalu dinanti. Jika ia tidak muncul, penonton bisa merasa kecewa.
Yang membuatnya terkenal adalah karena wataknya humoris, suka banyol alias ngabodor. Namun, Cepot tidak peduli kepada siapa dirinya bercanda. Siapa saja dilibas. Baik para ksatria maha sakti, raja nan mulia, bahkan para dewa di langit. Meskipun demikian, lewat humornya itulah, Cepot memberi nasihat dan petuah. Bahkan, kritik yang menarik.
Wayang Punakawan
Sebenarnya, dalam perjalanan cerita, selain Si Cepot, ada tiga tokoh wayang Punakawan lain yang menjadi pusat perhatian. Mereka adalah Semar (sang ayah) dan kedua adik Cepot, yakni Dawala dan Gareng. Punakawan sendiri berarti tokoh abdi yang bertugas menasihati atau memberi petuah bijak bagi para Pandawa. Dalam pementasan, dalang biasa menampilkan Cepot beserta tokoh kocak lain pada saat kondisi tegang dan kritis di tengah cerita.
Biasanya, Si Cepot menemani para ksatria, terutama Arjuna dan Ksatria Madukara. Senjata andalan Si Cepot dalam berperang adalah bedog atau dalam bahasa Indonesia disebut golok. Namun, dalam perkembangannya, senjata yang digunakan Si Cepot pun tak hanya golok, tetapi senjata panah. Para raksasa merupakan sosok yang selalu menjadi lawannya.
Dua Adik
Selain Si Cepot, kedua adiknya, yakni Dawala dan Gareng, juga tak kalah kocak. Dawala digambarkan berhidung mancung, mukanya bersih, penyabar, serta setia dan selalu menuruti titah. Ia mempunyai kelemahan, yakni kurang cerdas dan tidak begitu terampil sehingga di sinilah kekocakan terjadi. Sementara adik bungsunya yang bernama Gareng, memiliki karakter fisik unik karena berhidung bulat dan tak kalah lucu.






