Fenomena Wayang Cengblonk
Ilustrasi wayang cengblonk
Saat mendengar kata wayang, maka yang terlintas di pikiran adalah seperangkat gamelan yang mengiringi pementasan cerita yang disajikan dalam bentuk boneka wayang. Wayang yang terbuat dari kulit tipis ini memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari khasanah kesenian bangsa Indonesia. Sejak dulu masyarakat Indonesai terutama di pulau Jawa sangat menggemari wayang.
Saat ini, wayang seperti kehilangan daya magnetnya. Wayang tak lagi menjadi sesuatu yang memikat terutama bagi kalangan remaja. Namun, dari pulau Dewata terbetik kabar banyaknya anak-anak muda yang berbondong-bondong menonton dan mempelajari kesenian Wayang Cenk Blonk. Wayang Cenk Blonk? Sejenis wayang apakah itu? Apa bedanya dengan wayang kulit yang lainnya?
Memang untuk masyarakat yang tinggal di pulau Jawa pasti sudah tidak asing dengan kesenian khas daerah, yaitu wayang yang terbagi ke dalam beberapa jenis wayang seperti wayang orang, wayang golek, dan wayang kulit. Namun belum begitu banyak yang mengenal wayang Ceng Blonk. Kalau wayang pada umumnya memiliki pakem yang sama terutama merujuk kepada kisah Ramahayana dan Mahabrata, tidak demikian dengan kesenian wayang Cenk Blonk.
Tokoh di Balik Kesuksesan Wayang Cenk Blong
Adalah I Wayan Nardayana seorang dalang asal Desa Belayu, Tabanan, Bali Selatan yang berjasa dalam membidani kelahiran Wayang CengBlonk ini. Wayan yang juga seorang sarjana kesenian ini melihat kurangnya minat dan perhatian masyarakat, khususnya generasi muda terhadap kesenian wayang.
Memang telah menjadi kenyataan yang tak bisa dipungkiri bila minat generasi muda baik terhadap wayang orang, wayang golek dan wayang kulit, semakin hari semakin menurun sekalipun tidak hilang samasekali. Dalam arti, di beberapa daerah masih ada anak muda yang menggandrungi kesenian wayang dengan berbagai tujuan. Barangkali salah satu sebab minat anak muda semakin menurun terhadap kesenian wayang, karena kesenian ini dianggap terlalu kaku dan kolot. Buktinya ketika Asep Sunandar Sunarya dari Padepokan Giri Harga, Jelegong, Kabupatan Bandung, Jawa Barat, mencoba inovasi baru yakni dengan menghadirkan wayang yang bisa merokok, muntah, keluar darah, putus leher menyemburkan darah pada saat berkelahi dan inovasi lainnya, dengan serta-merta generasi muda pun menyukainya. Nah, dalam konteks memberi sentuhan baru dan modern itulah lahir wayang Cenk Blonk.
Saat reformasi mulai bergulir pada 98-an, dan era keterbukaan mulai dirasakan oleh masyarakat, Nardayana melihatnya sebagai peluang untuk menampilkan wayang kulit dengan sosok yang berbeda. Pada pementasan wayang sebelumnya, biasanya sudah ada pakem cerita yang baku dengan karakteristik tokoh-tokohnya yang sudah baku pula.
Namun, oleh Nardayana media wayang digunakannya sebagai bentuk penyampaian kritik sosial atas ketimpangan yang terjadi di masyarakat. Dengan penyampaiannya yang lucu dan segar, ia benar-benar bisa menghidupkan karakter “Nang Klenceng” dan “Nang Ceblong “, dua punakawan yang berwajah, suara, dan perilaku lucu. Selain Klenceng dan Keblong, dalam wayang Bali ada punakawan-punakawan lain, yaitu Merdah, Tualen, Sangut, dan Delem.
Apa yang dilakukan Nardayana memang bukan inovasi baru, artinya untuk kesenian wayang golek yang tumbuh dan berkembang terutama di daerah Jawa Barat, Asep Sunandar Sunarya telah lebih dahulu melakukan inovasi bukan saja dalam cerita tapi juga inovasi teknologi dalam penampilan fisik wayang. Kesenian wayang golek seluruh pemainnya terbuat dari boneka kayu, yang dimainkan sedemikian rupa oleh seorang dalang sehingga seolah-olah terlihat hidup dan bisa bergerak seperti halnya manusia pada umumnya, memang memberi peluang dalam penerapan sentuhan teknologi modern. Hanya apa yang dilakukan Asep Sunandar Sunarya sebatas pada wayang punakawan dan yang tidak terlalu lekat dengan pakem Ramayana maupun Mahabrata. Demikian pula ketika melakukan inovasi cerita, hanya dilakukan pada cerita-cerita sempalan dan bukan pada cerita pakem. Dalam hal ini ada kesamaan apa yang dilakukan Nardayana dengan Asep Sunandar Sunarya.
Fenomena Baru
Pada awalnya Nardayana memberikan nama pagelaran wayangnya dengan nama Wayang Kulit Gitaloka, yang kerap menampilkan wayang Ramayana atau wayang Betel, bukan wayang Tantri atau wayang Babad. Namun, karena masyarakat telah kadung memberinya nama Cenk Blong, maka hingga saat ini masyarakat menyebutnya dengan “Wayang Cenk Blong”.
Hampir setiap pementasan Wayang Cenk Blonk dipadati penonton, pria, wanita, tua, muda, semua tumpah ruah bila Nardayana tampil. Kritikan sosialnya terasa pas dengan gaya guyonannya yang berpadu dengan musik gamelan sebagai pengiringnya.
Sejak lama kesenian wayang kulit di Cirebon sudah ada dan berkembang berbarengan dengan masuknya Islam di Cirebon lewat para Wali, memang menjadi salah satu bentuk atau media untuk berdakwah. Coba saja perhatikan dalam babad Cirebon, dikisahkan bagaimana Sunan Kalijaga yang melakukan pakeliran wayang kulit pertama di Cirebon yang sekaligus menjadi dalangnya dan diringi gamelan sekaten asli Cirebon.
Dalam konteks wayang kulit di Jawa, pengaruh ajaran Islam dari Wali Songo itu sendirilah yang memunculkan tokoh-tokoh panakawan tambahan menjadi sembilan (songo), yang meliputi Semar, Curis, Bitarota, Ceblok, Dawala, Cungkring, Bagong, Bagal Buntung, dan Gareng. Bersamaan dengan itu, seni lukis pakeliran wayang juga semakin tumbuh. Baik untuk kepentingan pentas atau hanya sebatas dinikmati setiap individu sebagai pajangan menambah keindahan. Jadi apa yang dilakukan oleh Nardayana seperti juga dilakukan oleh Asep Sunandar Sunarya maupun Ki Manteb Sudaryono untuk wayang kulit, sama-sama mengembang misi dan kritik sosial. Hanya saja bila Nardayana demikian lekat mengambil fenomena sosial sebagai salah satu bahan cerita wayangnya, kemudian Asep Sunandar Sunarya menjadi para tokoh punawakan sebagai corong kritik sosial, sementara para wali yang menjadi dalang dalam pergelaran wayangnya, menjadikan cerita secara utuh sebagai media untuk berdakwah. Artinya soal kesenian wayang sebagai media kritikan, bukanlah hal yang baru.
Namun buntut kehadiran Wayang Cenk Blonk telah menggairahkan kesenian wayang di Bali yang sebelumnya sempat surut. Fenomena Wayang Cenk Blonk ini benar-benar mewabah di kalangan masyarakat Bali. Bahkan, kalangan industri musik pun telah meliriknya dengan memproduksi Wayang Cenk Blonk ini dalam bentuk VCD dan kaset.
Di situs Youtube makin banyak oang yang mengunduhnya. Di Twitter maupun Facebook, Wayang Cenk Blonk menjadi topik hangat untuk didiskusikan. I Wayan Nardayana pun tak menyangka bahwa wayang CenkBlong akan menjadi fenomena baru di bidang kesenian seperti saat ini.
Itulah kesenian wayang Cenk Blong yang memiliki ciri khas tersendiri, sekalipun dalam kehidupan masyarakat kesenian ini tidak sepopuler wayang golek atau kesenian lain. Namun, kesenian wayang Cenk Blong merupakan salah satu alternatif dan cara orang mengekspresikan perasaan dan pikirannya melalui bentuk kesenian. Kesenian wayang cenk blonk yang berisi kritikan menjadi disukai banyak orang dan lintas generasi, karena merasa terwakili segala ekspektasi dan gerundalan hati masyarakat Bali khususnya. Ini menjadi catatan penting bahwa semestinya kesenian apapun itu bentuknya, jangan tercerabut dari akar tradisi masyarakat sekaligus tetap bergaul secara modern.

