Menggali Kearifan dari Tokoh Wayang Cepot
Ilustrasi wayang cepot
Berbicara mengenai pewayangan memang tidak akan ada habisnya. Pasalnya, wayang memang sangat erat dengan kehidupan rakyat. Apalagi sejarah wayang berasal dari rakyat yang menjadikan seni tersebut sebagai media hiburan sekaligus media pendidikan.
Dengan adanya seni wayang, masyarakat pada zaman dahulu bisa merepresentasikan berbagai kehidupan yang dialami dalam bentuk miniaturnya, yakni boneka wayang.
Selain itu, pertunjukan wayang juga dianggap sangat sakral sehingga tidak bisa didalangi oleh sembarang orang. Seorang dalang harus memilikiperilaku dan budi yang luhur agar bisa menjalankan amanatnya sebagai seorang dalang.
Oleh sebab itulah pertunjukan wayang biasanya tidak boleh diputus atau setiap orang yang menonton pertunjukan tersebut harus menyelesaikan tontonannya sampai akhir sebab mereka percaya bahwa berhenti menonton pertunjukan wayang sebelum pagelaran berakhir akan membuahkan hasil yang tidak baik pada masyarakat setempat, bahkan mungkin akan memunculkan malapetaka.
Sekilas tentang Sejarah Pewayangan
Jika berbicara mengenai tokoh wayang atau pewayangan, maka belum pas kiranya jika kita sama sekali tidak mengetahui asal-usul pewayangan itu sendiri. Ya, secara etimologis, istilah "wayang" berasal dari kata "wayangan" atau "bayangan" yang merupakan refleksi (bayangan) kehidupan sehari-hari manusia pada zaman pewayangan tersebut dimunculkan.
Untuk menjadikan masyarakat sebagai manusia yang arif dan mampu melihat sisi baik dan buruk diri mereka sendiri, maka muncullah bayangan yang dinamakan wayang ini. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jikapewayangan sangat identik dengan citraan manusia.
Yang berbeda adalah wujudnya yang dibuat terlalu berlebihan dan terkesan setengah-setengah. Artinya, karena pada awalnya tujuan pembuatan wayang adalah untuk mendekatkan diri pada sang Pencipta, maka bentuk wayang pun dibuat serupa dengan manusia setengah dewa.
Pada zaman dahulu, wayang identik dengan gambaran manusia setengah dewa sehingga wujudnya tidak sesempurna manusia. Namun, hal tersebut menjadikan manusia bisa mengambil banyakhikmah dan pelajaran dari tokoh pewayangan yang dimainkan.
Misalnya saja, ada satu tokoh wayang golek yang memiliki banyak nilai pelajaran bagi manusia. Tokoh tersebut adalah tokoh yang sering sekali kita dengar, yakni wayang cepot.
Tahukah Anda Mengenai Wayang Cepot?
Siapa tak kenal dengan tokoh wayang Cepot? Masyarakat di tataran Sunda, mayoritas mengenalnya. Dengan karakter humoris, suka ngabodor (membanyol), menggemaskan, dan cuek kepada siapa pun, membuat Cepot menjadi tokoh favorit pencinta wayang golek, kesenian khas Sunda.
Apalagi, Cepot termasuk tokoh wayang yang cerdas. Guyonannya tak hanya mengundang tawa semata, tapi berbobot. Sering kali tersisip pesan yang berisi petuah maupun kritik sosial. Mungkin, ini menjadi salah satu sebab mengapa masyarakat menyukainya.Cepot seolah-olah jadi pelepas "kepenatan" mereka ketika melihat realitas sosial yang terkadang kebal kritik.
Para dalang pun sering kali menggunakan tokoh Cepot dalam menyampaikan nasihat, kritik maupun petuah dan sindiran yang disampaikan sambil guyon. Sarana edukasi bagi para penontonnya. Cepot memang tokoh wayang golek yang sempurna untuk memberikan hiburan sekaligus "pencerahan". Banyak nilai-nilai kearifan yang dituturkan oleh Cepot begitu menghujam di pikiran para penonton setianya.
Lihat saja bagaimana piawainya salah satu dalang terkenal Indonesia, yaitu Asep Sunandar Sunarya dalam membawakan tokoh Cepot. Begitu hidup. Begitu memukau. Sehingga masyarakat mengindentikkan dalang Asep Sunandar dengan tokoh si Cepot itu sendiri. Karenanya, Asep Sunandar pun menjadikan si Cepot sebagai kokojo/tokoh unggulan pada setiap pagelarannya.
Wayang Cepot dan Sindir Sampirnya
Dalam bahasa Sunda, ada ungkapan yang disebut dengan sindir sampir, yakni ungkapan satir yang dinyatakan untuk memberikan pelajaran kepada orang lain mengenai hal yang kurang baik untuk ditiru.
Tokoh wayang cepot ini merupakan salah satu tokoh dalam pewayangan yang menggunakan sindiran berupa guyonan untuk mengkritisi suatu hal yang berlaku di masyarakat. Misalnya saja, berbagai ungkapan sindiran yang ditujukan kepada pihak pemerintah yang tidak bisa menjalankan amanatnya sebagai petinggi dengan baik dan benar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat.
Atau ada pula sindiran mengenai kehidupan masyarakat kecil yang tidak berpengetahuan sehingga menganggap diri mereka sebagai kaum miskin yang perlu dikasihani oleh orang lain.
Kedua hal tersebut merupakan hal yang patut untuk dipelajari oleh masyarakat Indonesia, terutama dalam hal menjalankan amanat serta menjadikan harkat dan martabat manusia tetap dalam keadaan yang adiluhung sebagaimana Tuhan menciptakan manusia pada awalnya.
Untuk sindiran terhadap pemerintah, tokoh cepot memberikan ilustrasi bagaimana seharusnya seorang pemimpin itu bersikap dalam membuat perubahan yang baik di negerinya. Bukan dengan melakukan berbagai tindakan seperti korupsi atau hal lain yang tidak sesuai dengan kewajiban dan haknya sebagai seorangpemimpin.
Begitu juga dengan kaum rakyat yang selama ini hanya bisa meminta, mengemis, dan tidak melakukan gerakan perubahan apapun untuk bisa meningkatkan harkat dan derajatnya sebagai manusia.
Pengetahuan seperti inilah yang seyogyanya dimiliki oleh masyarakat Indonesia agar kearifan lokal, baik secara personal maupun secara budaya, dapat terus bertahan hingga suatu saat nanti. Hal tersebut disebabkan oleh peradaban yang semakin lama semakin menurunkan kualitas budaya sehingga lambat-laun masyarakat dibuat lupa akan kebudayaan mereka sendiri.
Dengan demikian, menjaga kearifan budaya lokal dan personal tidak hanya sebatas pada hal-hal yang nampak saja. Menonton pertunjukan seni wayang pun bisa memberikan kontribusi terhadap pemikiran masyarakat untuk bisa mencapai taraf hidup yang lebih mumpuni sebagai seorang yang berbudaya.
Wayang Golek
Berbincang sekilas mengenai Cepot, kiranya mengantarkan kita mengenai wayang golek. Sebagai teater rakyat yang sangat populer (khususnya di Jawa Barat), wayang golek termasuk warisan bangsa yang perlu dijaga kelestariannya, agar tak punah dan dapat terus dinikmati oleh anak cucu kita.
Wayang golek punya dua jenis, yaitu wayang golek purwa dan wayang golek papak (cepak) di daerah Sunda. Semua wayang tersebut dimainkan oleh seorang dalang. Tak hanya sebagai pemimpin pertunjukan, dalang juga berperan dalam menyanyikan suluk, mengatur gamelan, menyuarakan antawacana, mengatur lagu dan lain-lain.
Tugas tersebut terbilang berat. Terkadang tak sebanding dengan hasil yang didapatkan dari suatu pertunjukan. Untuk itu, banyak yang mengatakan bahwa profesi dalang adalah pangggilan jiwa. Ia bukan suatu pekerjaan yang bisa dihitung-hitung dengan nilai rupiah.
Cerita yang disuguhkan dalam wayang golek biasanya mengambil setting kisah Mahabarata dan Ramayana dengan menggunakan bahasa Sunda. Diiringi alat-alat musik tradisional Sunda seperti salendro (gamelan Sunda), seperangkat kendang (sebuah kendang indung dan tiga buah kulanter), rebab, dan gambang, menjadikan pertunjukan ini layaknya sebuah orkestra!
Sejak 1920-an, mulai diperkenalkan keberadaan sinden (musisi perempuan) yang mengiringi pertunjukan wayang golek dengan nyanyian khasnya. Bahkan pada 1960-an, popularitas sinden begitu meroket. Mengalahkan popularitas dalang wayang golek itu sendiri.
Melestarikan Wayang Golek
Selain dukungan pemerintah untuk melestarikan seni yang bertabur nilai-nilai kearifan ini, daya kreatif para dalang pun tak boleh dilupakan. Kecerdasan mereka dalam membaca keinginan masyarakat yang saat ini semakin banyak berubah selera hiburannya, perlu terus diasah.
Berbagai pakem yang kiranya tak lagi sesuai dengan perkembangan zaman, tak ada salahnya didobrak. Selama itu tetap mencitrakan wayang golek sebagai seni asli masyarakat Sunda, tak boleh ragu. Hal ini harus dilakukan agar wayang golek tak tergolek (dilupakan masyarakat) karena tergerus modernisasi hiburan yang banyak menawarkan hedonis semata. Miskin nilai kearifan dalam hidup, tak seperti seni wayang golek.

