Wayang Golek: Kebudayaan Sunda yang Perlu Dilestarikan

Berbicara mengenai kebudayaan daerah Sunda sama halnya dengan membicarakan masyarakat Sunda. Sikap bangga terhadap daerahnya adalah hal yang wajar. Selama hal itu tidak merembet pada prilaku menjelek-jelekkan kebudayaan lain. Satu hal yang harus diingat adalah berbagai kebudayaan yang berbeda itu terangkum dalam satu kata, Indonesia.
Dalam menyikapi permasalah kebudayaan, masyarakat Sunda pada dasarnya tidak terlalu berbeda dengan masyarakat di daerah lain. Mereka sama-sama mengagumi dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan yang telah diturunkan oleh para leluhurnya. Salah satu warisan sejarah dari tanah Sunda dan masih terjaga hingga kini adalah kesenian wayang golek. Sebuah kesenian yang seharusnya layak berstatus sebagai warisan budaya dunia bersamaan dengan angklung.
Keterikatan 3 Unsur Penting
Angklung, wayang golek, dan masyarakat Sunda, adalah tiga hal yang tidak bisa dipisahkan. Dari segi mana pun, ketiga hasil kebudayaan tersebut akan terikat secara naluri. Angklung dan wayang golek adalah identitas yang bisa dibanggakan bagi masyarakat suku Sunda.
Wayang golek merupakan seni pertunjukan yang menggunakan boneka pahatan dari kayu sebagai media utamanya. Wayang golek juga sering disamakan dengan pertunjukan teater karena pertunjukan wayang golek memiliki satu jalan cerita yang diperankan oleh tokoh-tokoh tertentu layaknya tengah bermain teater.
Wayang Adalah Bayangan
Wayang berakar dari kata bayang dalam bahasa Jawa yang artinya 'bayangan'. Hal ini berkaitan dengan pertunjukan wayang di daerah di Jawa Tengah yang biasanya menggunakan layar. Boneka wewayangan tersebut dimainkan di belakang layar sehingga menghasilkan bayangan. Bayangan itulah yang menjadi dasar penyebutan hampir semua jenis wayang yang ada di Indonesia.
Pertunjukan Wayang Golek
Di masyarakat Sunda, pertunjukan wayang golek biasanya digelar ketika ada acara-acara tertentu. Wayang golek biasanya juga digelar pada tengah malam dan selesai ketika menjelang subuh. Acara-acara tertentu yang sering menampilkan wayang golek sebagai hiburan, antara lain pernikahan, khitanan, atau upacara-upacara lain yang terhitung besar.
Pertunjukan wayang golek biasanya diiringi oleh iringan suara dari berbagai alat musik tradisional Sunda, seperti gamelan sunda atau salendro. Gamelan sunda tersebut terdiri dari dua buah saron, satu buah peking, selentem, boning, boning rincik, kenong, gong, kendang, rebab, dan gambang.
Pertunjukan wayang golek selalu menyuguhkan jalan cerita yang menarik. Umumnya, cerita yang disajikan adalah cerita-cerita kuno dan abadi, seperti kisah Ramayana dan Mahabarata. Cerita lakon yang dimainkan tentu saja menggunakan bahasa Sunda.
Lakon Carangan
Dalam pertunjukan wayang golek, lakon atau jalan cerita yang biasa dimainkan adalah lakon carangan. Lakon carangan adalah lakon yang jalan ceritanya diatur oleh dalang sesuai dengan kebutuhan dari sang penanggap pertunjukan wayang golek tersebut.
Ketika memainkan lakon carangan, kemampuan dan keahlian dari seorang dalang akan terlihat jelas. Dalang yang sudah ahli tentu tidak akan menemukan kesulitan mengarang cerita. Dalang juga berkewajiban untuk menyuguhkan jalan cerita yang menarik dan tidak membosankan.
Pagelaran wayang golek juga seolah memiliki pola penyelenggaraan sendiri. Saat perlengkapan wayang masih tersimpan hingga wayang tersebut siap dimainkan, sudah diatur. Aturan-aturan dalam penyelenggaraan pewayangan bukan lagi hal asing bagi para dalang.
Nilai kebudayaan yang terdapat pada seni pertunjukan wayang golek di mata masyarakat Sunda cukup penting. Selain nilai-nilai budaya, nilai magis tidak kalah terkenal. Pertunjukan wayang golek dipercaya bisa digunakan dalam upacara ruatan. Meruat agar terhindar dari berbagai marabahaya, kecelakaan, dan hal-hal tidak diinginkan.






