logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Seni    Seni Tradisional

Wayang Kulit Banyumas


Ilustrasi wayang kulit banyumas

Bagi Anda yang tinggal di pulau Jawa pasti sudah tidak asing dengan kesenian khas daerah, yaitu wayang. Ada beberapa jenis wayang yang sering dipertunjukkan yaitu wayang orang, wayang golek, dan wayang kulit. Dari kesemua kesenian tradisional wayang tersebut memang memiliki pakem yang sama terutama merujuk kepada kisah Ramahayana dan Mahabrata. Namun dalam pergelarannya, masing-masing memiliki ciri tersendiri yang tidak selamanya mengikuti pakem atau lebih dikenal dengan nama sempalan. Pada masalah sempalan cerita inilah seorang dalang memiliki keleluasaan untuk menjadikan sebagai sarana menyampaikan pesan dan ajaran-ajaran tertentu. Pada bagian ini pula panakawan seperti Semar dan anak-anaknya mendapat porsi besar untuk berbicara sesuai dengan target dan ajaran tertentu.

Dari ketiga jenis wayang yaitu wayang orang, wayang golek dan wayang kulit, sekalipun mengusung cerita atau pakem yang sama, tapi berbeda dalam perwujudannya. Wayang orang misalnya seluruh pemainnya adalah dilakukan oleh manusia, yang bergerak sendiri, memiliki karakter sesuai dengan karakter yang diperankannya. Wayang orang tumbuh terutama di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun demikian di daerah lain seperti Cirebon dan Banjar juga termasuk dua daerah yang akrab dengan kesenian wayang orang atau lebih populer dengan nama wayang wong ini.

Wayang golek tumbuh dan berkembang terutama di daerah Jawa Barat. Namun demikian di beberapa daerah baik di Sumatera, Kalimantan maupun Nusa Tenggara juga akrab dengan kesenian wayang golek terutama karena dibawa oleh para trasmigran. Wayang golek seluruh pemainnya terbuat dari boneka kayu, yang dimainkan sedemikian rupa oleh seorang dalang sehingga seolah-olah terlihat hidup dan bisa bergerak seperti halnya manusia pada umumnya. Wayang golek termasuk yang paling mendekati wayang wong karena sama-sama wujudnya tiga dimensi.

Berbeda dengan kedua wayang tadi adalah wayang kulit. Wayang kulit ini rata atau dua dimensi, dan yang ditonton bukan wayang aslinya melainkan bayangan dari wayang yang terbut dari kulit tersebut pada layar yang dipantulkan sumber cahaya. Namun sekalipun bentuk rata karena berupa bayangan, kesenian wayang kulit tetap banyak dimintai penonton terutama terletak pada kekuatan alur ceritanya baik yang merupakan cerita pakem maupun cerita sempalan.

Wayang di masing-masing daerah memiliki karakteristik dan keunikan tersendiri. Wayang kulit misalnya, memiliki teknik pendalangan yang berbeda-beda. Seperti wayang kulit Banyumas atau yang dikenal dengan gagrag Banyumasan. Teknik pendalangannya kental sekali dengan latar belakang budaya masyarakat tradisionalnya yang menjalankan kehidupan sehari-hari dengan bertani.

Wayang ini banyak berkembang di sebelah utara pegunungan Kendeng yang dikenal dengan nama gagrag lorgunung. Sementara, wayang kulit yang berkembang di sebelah selatan pegunungan Kendeng dinamakan gagrag Kidul Gunung.

Wayang Kulit Banyumas

Wayang kulit gagrag Banyumasan masih menjadi seni hiburan rakyat yang tak tergantikan sampai sekarang. Hal ini menunjukkan ikatan sosial masyarakat yang kuat terhadap budaya yang menjadi pola hidup sehari-hari mereka. Dengan kecintaannya kepada kesenian tradisional yang dianggapnya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari tersebut, wayang kulit Banyumasan tetap langgeng dan diminati. Pada pergelarannya masalah yang sedang hangat di masyarakat bisa diangkat ke dalam wayang kulit Banyumasan ini secara manis sehingga tidak terasa sedang menggurui.

Memang benar salah satu kekuatan dari wayang kulit ini karena sering kali menyisipkan isu-isu yang tengah beredar di masyarakat yang disesuaikan dengan sumber cerita dari Mahabarata dan Ramayana. Lakon-lakon yang dimainkan tidak jauh berbeda dengan wayang kulit purwo. Namun, dalam wayang kulit gagrag Banyumasan lebih mengedepankan tokoh Punakawan, yaitu mereka yang menjadi pembantu dan pengikut para Pandawa.

Khusus untuk pertunjukkan seni wayang kulit Banyumas, lakon Punakawan dimunculkan dalam bentuk empat tokoh seperti Semarsemorodewo, Garengnolo, Petrukkanthong, dan Baworcarub. Keempat tokoh ini hadir sebagai tokoh sentral yang sering menghibur dengan lakon jenaka dan petuah yang dibawakan sang dalang dengan bahasa yang menarik sesuai dengan karakter sang tokoh.

Sulukan atau dramatisasi vokal yang dilakukan sang dalang sangat mempengaruhi sanggit cerita atau kata-kata yang digunakan dalam wayang. Selain itu, iringan gamelan Jawa sangat mempengaruhi pergelaran wayang kulit Banyumas secara keseluruhan. Karena faktor isu hangat yang menjadi topik pembicaraan itulah menjadikan wayang kulit Banyumasan ini serasa menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Banyumas itu sendiri. Seolah-olah para punakawan yang menjadi tokoh sentral dalam setiap pergelaran wayang kulit tersebut benar-benar merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri, seolah-olah ada dan hidup bergaul dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Banyumas. Dengan demikian ketika tokoh Semar memberi wejangan dengan karakter vokal dan bahasa yang khas, wejangan itu tidak dimaksudkan sebagai wejangan untuk para anak-anaknya melainkan wejangan untuk seluruh warga masyarakat yang menonton pergelaran tersebut.

Tokoh Semar

Dalam pewayangan dikenal tokoh Semar yang memiliki perut buncit, berwajah tua dan lucu, serta suka membuat humor. Tokoh ini sebenarnya tidak ada dalam cerita Mahabarata maupun Ramayana.

Tokoh Semar terlahir dari pemikiran pujangga Jawa yang ingin menggambarkan bumi secara keseluruhan. Lihat saja bentuk tubuhnya yang bulat mewakili bumi beserta isinya. Rasa suka dan duka seorang manusia juga tertoreh pada wajahya yang selalu tersenyum namun bermata sembab seolah sering menangis. Perpaduan dua karakter yang berbeda ini menjadikan tokoh Semar sangat terlihat khas. Dalam salah satu sumber cerita wayang golek, Semar ini diceritakan sebagai salah seorang dewa yang sedang menjalani ujian di alam dunia ini. Sehingga ketika Semar tertekan, tersudut, selalu saja ada jalan keluar dan pertolongan dari dewa. Ini juga sebuah karakter yang kaya makna sehingga senantiasa menarik untuk menjadi bahan renungan dalam kehidupan sehari-hari.

Semar memiliki tiga orang anak yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Perwujudan tokoh Gareng yang pincang kaki dan cacat tangan mewakili manusia yang selalu waspada dalam berperilaku dan tidak suka mengambil hak orang lain.

Petruk memiliki kulit yang hitam legam karena ia tercipta dari bayangan buyutnya yang seorang dewa. Bagong merupakan tokoh yang paling nyeleneh, wajahnya lucu dengan mata bulat dan bibir yang bervolume lebih. Bagong di Jawa Timur sering dipanggil dengan sebutan Jamblahita. Ketiga tokoh ini juga merupakan typology dari karakter manusia pada umumnya yang ada dalam masyarakat.

Namun ketiga tokoh tersebut ketika diberi label atau mengemban tugas cerita dari seorang dalang, bisa menjadi apa saja seperti juga manusia yang bisa menjadi apa saja asal mendapat restu dari Tuhan sebagai pencipta, yang dalam alam pewayangan digambarkan sebagai kekuatan dan kekuasaan para dewa.

Dalam sebuah cerita berjudul Petruk Jadi Raja misalnya digambarkan bahwa Petruk karena satu dan lain sebab mendapat posisi sebagai raja. Namun dalam kesehariannya ketika mengemban tugas sebagai seorang raja, tetap saja tidak bisa terlepas dari karakter khas Petruk itu sendiri sehingga seringkali terjadi kekacauan dan kekeliruan. Itulah wayang sekalipun berbeda media dan wujudnya, namun mengemban tugas yang sama yaitu sebagai cermin kehidupan manusia itu sendiri dimana dalang adalah kekuasaan maha tinggi yang tak lain adalah Tuhan.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Keindahan Etnik Ukiran Kalimantan
  • Pengertian Seni Tradisional di Indonesia
  • Macam-Macam Tarian Sumatra Barat
  • Wayang Kulit Cirebon: Mengenal Wayang Kulit Khas Cirebon
  • Wayang Arjuna - Pandawa Paling Tangguh
  • Ragam Tari Tradisional Indonesia
  • Ukiran Batak: Simbolik dan Mengandung Unsur Magis
  • Menggali Kearifan dari Tokoh Wayang Cepot
  • Seni Teater Nusantara: Masalah dalam Teater
  • Kesenian Tari di Indonesia yang Identik dengan Magis
  • Pertunjukan Musik Daerah, Lahir dari Tradisi
  • Meruntut Sejarah Bugis-Makasar dalam Seni Tari Jawa Klasik
  • Lebih Dekat dengan Wayang Golek Asep Sunandar Sunarya
  • Berbagai Tari Tradisional Jawa Barat
  • Pengetahuan Seputar Tari Bali
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA