Orang-orang yang Berjatuhan di Jalan Dakwah
Ilustrasi yang berjatuhan di jalan dakwah
Dakwah dan Karakteristiknya
Siapakah mereka yang berjatuhan di jalan dakwah? Dakwah sebagaimana karakteristiknya merupakan amalan panjang yang penuh hambatan di sana sini. Perjuangan dakwah bukanlah perjalanan yang dilalui di jalan bertabur bunga dan penuh penghargaan. Namun justru sebaliknya, dakwah adalah jihad dan pengorbanan seseorang. Segala bentuk pengorbanan dituntut dari seorang yang ingin berdakwah, mulai dari waktu, harta dan jiwa.
Seluruhnya menjadi konsekwensi yang harus diberikan saat seseorang telah menyatakan dirinya siap untuk berdakwah. Dakwah jauh lebih penting ketimbang diri si pendakwah itu sendiri. Tertegaknya hukum-hukum Allah dan izzah atau harga diri ummat Islam merupakan orientasi mutlak yang tak bisa ditawar-tawar lagi.
Ada banyak faktor menyebabkan orang-orang yang berjatuhan di jalan dakwah. Kepahaman terhadap karakteristik dakwah terkadang menjadi ujian awal seseorang mengeluh berada di barisan panjang dakwah.
Bagaimanapun sunnatullah dakwah adalah dengan jumlah orang-orang yang sedikit. Sedikit sekali orang-orang yang mau ikut bergabung di barisan orang-orang mulia, mengingat besar dan sulitnya hambatan rintangan di jalan dakwah.
Bukanlah dakwah yang membutuhkan para aktivis dakwah, tapi aktivis dakwahlah yang membutuhkan dakwah tersebut. Allah telah menjanjikan bahwasannya akan mengganti generasi yang berjatuhan di jalan dakwah, dengan orang-orang yang lebih baik lagi.
Ada dan tanpa adanya para seorang aktivis dakwah dalam barisan dakwah, dakwah tersebut akan terus berjalan dan bertukar generasi. Kebutuhan aktivis dakwah terhadap dakwah adalah untuk kebaikan yang bersangkutan baik di dunia maupun di akhirat. Sementara roda dakwah akan terus berputar bersama orang-orang yang konsisten di dalamnya.
Mengenal Rintangan dan Ujian Dakwah
Salah satu hal yang bisa dilakukan agar tidak termasuk pada orang-orang yang berjatuhan di jalan dakwah adalah dengan mengetahui apa saja hambatan dan rintangan di jalan dakwah tersebut. Berikut beberapa macam hambatan dan ujian yang akan ditemukan saat berada di jalan dakwah;
Jabatan dan alat mencari rezeki
Kedudukan merupakan ujian nyata bagi para aktivis dakwah. Kedudukan bisa mengantarkan seseorang pada surga maupun neraka. Para aktivis dakwah yang telah memperoleh kedudukan di tengah masyarakat hakikatnya sedang diuji. Baik untuk pribadi orang yang menjalani maupun untuk jamaah secara umum.Rasulullah dan para sahabat telah mengajarkan bagaimana cara mengelola kedudukan agar berbuah pahala dan syurga. Para aktivis dakwah hendaknya senantiasa berkiblat pada siroh dan landasan Al-Quran dan hadist dalam mengelola kedudukan yang dipegangnya.
Tidak ada pegangan yang lainnya sehingga seseorang pengemban dakwah benar-benar teguh di dalam perjuangan yang masih panjang tersebut. Perjuangan dalam dakwah memang penuh dengan onak dan duri sehingga terkadang membuat kaki terluka dan bernanah. Hal ini tentu sudah disadari oleh setiap pengemban dakwah.
Kebanyakan ketika berada di luar jalur yang jauh dari jabatan dan harta yang melimpah maka seseorang akan dengan senang hati tetap teguh dalam sebuah jalan dakwah. Namun ketika mereka sudah berada di dalam jabatan dan harta yang melimpah maka seakan-akan lupa dengan semua itu.
Memang benar jika seorang pengemban dakwah harus selalu berpegang pada al Qur’an dan sunnah nabi yang telah ada. Dengan demikian setiap perbuatan yang mereka lakukan tidak akan pernah tergoyahkan oleh apapun itu baik harta maupun jabatan.
Kata-kata tersebut memang terdengar mudah ketika seseorang masih berada di luar jalur tetapi ketika sudah berada di dalam jalur maka seakan sulit sekali. Perlu diketahui bahwa semua berawal dari niat yang ada di dalam diri seorang pengemban dakwah tersebut.
Ketika niat sudah lurus sesuai dengan ajaran di dalam agama maka yang perlu diperhatikan adalah cara yang digunakan. Jangan sampai cara yang digunakan untuk menegakkan agama ternyata bertentangan dengan nilai yang ada di dalam agama tersebut.
Maka bisa dipastikan seseorang pengemban dakwah yang seperti ini akan mengalami kegagalan ketika sudah mencapai puncak. Tidak akan pernah berhasil seseorang yang menjalankan suatu nilai agama tetapi menjauhi agama tersebut. Jadi waspadalah selalu terhadap gangguan di dunia ini yang berupa jabatan dan harta.
Istri dan anak
Anak dan istri merupakan bentuk ujian nyata seseorang yang mengaku sebagai aktivis dakwah. Allah bahkan mengancam kepada orang-orang beriman, jika mereka lebih mencintai anak-anak, istri dan tempat tinggal mereka, maka kemurkaan akan diturunkan kepada mereka. Bagaimanapun kecantikan dan kesempurnaan seorang anak, bagi aktivis dakwah tetaplah merupakan bentuk ujian yang harus disikapi secara hati-hati.
Memang benar bahwa keluarga adalah ujian terbesar yang terkadang mampu membuat seseorang tumbang di jalanan. Pengemban dakwah yang tangguh sekalipun bisa tumbang lantaran masalah keluarga dan anak.
Tidak akan ada yang bisa tahan ketika melihat anak dan istri ternistakan atau tersakiti ketika kita menjalankan sebuah ajaran dalam agama. Namun bagi mereka yang tetap teguh berada di dalam jalan dakwah meskipun deraan dan hinaan datang berulang kali ke dalam keluarga mereka maka surga akan menanti.
Tidak ada janji yang lebih indah kecuali yang diberikan oleh Allah SWT. Allah SWT telah melakukan sebuah jual beli kepada kita yang sangat menguntungkan yakni syurganya yang selalu menanti kehadiran orang yang beriman.
Hanya orang yang memiliki iman yang sangat tinggi sehingga terhindar dari godaan istri dan anak. Sangat kecil sekali kemungkinan seseorang bisa terhindar dari godaan yang satu ini.
Kita tahu bahwa istri dan anak ibarat seperti sebuah pisau yang memiliki dua mata. Keberadaan mereka yakni istri dan anak terkadang mampu membuat seseorang tetap teguh di jalan dakwah tetapi dengan kehadiran mereka juga mampu membuat seseorang keluar dari jalan dakwah.
Bagi para pengemban dakwah yang ada di dunia ini maka berhati-hatilah terhadap kedua fitnah ini. Terkadang kesenangan mampu membuat seseorang lupa akan jalan dakwah yang dilaluinya namun kesengsaraan juga lebih besar membuat seseorang untuk lupa akan jalan dakwah. Jadi tetap berhati-hati dalam melangkah adalah cara yang terbaik.
Mabuk dunia dan harta
Harta kerap melalaikan manusia. Begitupun para aktivis dakwah yang juga merupakan jamaah manusia. Secara manusiawi seorang manusia tentu akan tergiur hatinya dengan gemerlapnya harta dunia. Namun di sanalah peran hidup berjamaan bermain. Satu orang menjadi penasehat rekan yang lain. Saling mengingatkan atas kelalaian masing-masing. Mabuk terhadap harta dunia dapat melalaikan seseorang dan melupakan orientasi utama dakwahnya hanyalah untuk Allah.
Dunia ini memang perangkap yang paling menyenangkan dan menakutkan bagi mereka yang mengetahuinya. Para pengemban dakwah akan selalu berdoa agar terhindar dari semua bahaya dunia yang mampu membuatnya lupa akan akhirat kelak.
Setiap pengemban dakwah pasti tahu bahwa dunia hanyalah sementara sementara yang kekal adalah di akhirat kelak. Dunia akhirat hanya bisa dilihat dan dirasakan oleh seseorang setelah orang tersebut meninggal dunia. Barulah dia menyadari betapa pentingnya amal ibadah selama ini.
Mabuk dunia atau juga dikenal dengan penyakit wahn dalam islam adalah suatu penyakit yang mampu membuat seseorang takut untuk mati. Penyakit ini mampu membuat seseorang melepaskan kehidupan akhirat dan hanya akan memegang kehidupan dunia.
Cinta terhadap harta duniawi memang sebuah hal yang sangat wajar sekali karena menjanjikan berbagai kenikmatan yang bisa dirasakan secara langsung. Jadi tidak mengherankan jika hal tersebut mampu membuat seseorang terlena dan melupakan segala kehidupan akhirat yang sedang menantinya.
Mengharapkan kehidupan dunia sebagai tujuan akhir adalah sesuatu yang sangat tidak masuk akal bagi seorang pengemban dakwah. Hal tersebut ibarat menggengam angin yang tidak berwujud suatu saat akan terlepas juga, sedangkan kehidupan akhirat adalah nyata dan kekal. Sungguh sebuah kerugiaan yang sangat nyata dan besar sekali ketika seseorang lebih memilih duniawi daripada kehidupan akhirat kelak.
Suara penghalang yang cukup melemahkan
Lingkungan dan orang-orang yang memusuhi dakwah di sekitar kita terkadang membisik-bisikkan godaan agar kita melalaikan dan meninggalkan dakwah. Ini merupakan bentuk dari ujian dan rintangan yang akan dihadapi seorang aktivis dakwah. Jika ia lemah, maka ia akan menjadi orang-orang yang berjatuhan di jalan dakwah.
Godaan dan ujian yang dihadapi oleh seorang pengemban dakwah memang luar biasa. Banyak sekali cobaan yang merintang di jalan mereka baik berupa kesenangan maupun kesusahan. Semua itu adalah cobaan yang diberikan Allah untuk kita agar siap menerima surganya. Amin

