Yogyakarta: Kota Istimewa Indonesia

Sebuah kota akan besar namanya jika memiliki keistimewaan. Keistimewaan itu biasanya berupa hasil kebudayaan dan adat istiadat. Bahkan, jika kebudayaan dan adat istiadat itu sudah mengakar dan mendarah daging, kota itu akan besar hingga dikenal oleh masyarakat dunia. Seperti yang terjadi pada Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kekayaan budaya yang dimiliki Yogyakarta sama terkenalnya dengan kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bali. Dua kota besar itu merupakan kota di Indonesia yang sepertinya paling sering dan banyak dikunjungi oleh para wisatawan asing. Wajar, karena dua kota itu memang masih dengan sangat kental memertahankan kebudayaan serta ajaran-ajaran para leluhurnya.
Keadaan Geografis Yogyakarta
Secara geografis, Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Jawa bagian selatan. Provinsi istimewa ini berbatasan langsung dengan daerah pemerintahan Jawa Tengah pada bagian sebelah utara.
Jika dilihat secara geografis, Yogyakarta memang terletak di Jawa Tengah, tapi secara sistem pemerintahan tidak. Yogyakarta memiliki sistem pemerintahan yang mandiri. Luas wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta adalah 3.185,80 km². Dilihat dari garis lintang, Yogyakarta berada di 8° 30’-7° 20’ LS atau lintang selatan, dan 109° 40’-111° 0’ BT atau Bujur Timur.
Sejarah Yogyakarta
Berdasarkan sejarahnya, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan sebuah wilayah yang hadir karena adanya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan Kadipaten Pakualaman. Daerah istimewa ini juga hadir berkat adalah Kasunana Surakarta Hadiningrat dan Praja Mangkunagaran. Dilihat dari sejarah pembentukannya saja, daerah terbilang istimewa karena dipenuhi dengan berbagai unsur kerajaan.
Pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri dibentuk pada 1945. Pembentukan tersebut terjadi beberapa waktu setelah diumumkan kemerdekaan Indonesia. Dorongan dan desakan warga Yogyakarta yang dialami oleh Sultan Hamengkubuwono IX. Menghadapi kondisi masyarakatnya yang seperti itu, Hamengkubuwono IX mengeluarkan semacam dekrit. Dekrit tersebut dikenal dengan sebutan Amanat 5 September 1945.
Dekrit tersebut berisi tentang keinginan Yogyakarta untuk berintegrasi secara monarki dengan Republik Indonesia. Saat dikeluarkan dekrit, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat meliputi beberapa wilayah, yaitu:
- Kabupaten Kota Yogyakarta;
- Kabupaten Bantul;
- Kabupaten Gunungkidul; dan
- Kabupaten Kulonprogo.
Untuk daerah yang berada di bawah kekuasaan Kadipaten Pakualaman adalah:
- Kadipaten Pakualaman, dan
- Kabupaten Adikarto.
Dekrit tersebut ditandatangani oleh kedua penguasa kesultanan tersebut sebagai simbol persetujuan rakyat Yogyakarta. Setahun kemudian, 18 Mei 1986 nama resmi Daerah Istimewa Yogyakarta mulai digunakan. Nama tersebut digunakan dalam urusan pemerintahan.
Secara etimologis, Ngayogyaarto Hadiningrat berasal dari kata Ayu – Gya – Karto atau Ayodya – Karto – Ning – Rat. Menurut Harimurti Subanar, arti dari kata-kata itu adalah Nga ‘menuju’, Yogya ‘sebaik-baiknya’, Karta ‘bekerja’, Hadi ‘Agung’, Ning ‘bening’, Rat Jagat Bawono ‘jagad kecil’.
Yogyakarta, Kebudayaan dan Pariwisata
Sebagai sebuah kota dengan nilai-nilai kebudayaan cukup tinggi. Apapun yang dimiliki Yogyakarta seolah bercerita tentang kebudayaan. Sifat masyarkatnya yang setia menganut nilai-nilai ajaran leluhur menjadi landasan kuat mengapa Yogyakarta tetap istimewa.
Kebudayaan Yogyakarta meliputi tarian, jenis musik atau gamelan, pakain adat yang masih digunakan oleh sebagian besar masyarakatnya, sistem pemerintahan bersifat kerajaan, adat istiadat serta upacara-upacara adat. Hal-hal yang mungkin dianggap biasa oleh para masyarakatnya, berubah menjadi istimewa di hadapan masyarakat luar negeri.
Yogyakarta juga menawarkan ragam tempat yang penuh dengan kebudayaan. Tempat yang cukup terkenal, bahkan hingga luar negeri adalah Borobudur dan Jalan Malioboro. Meskipun tidak persis berada di Yogyakarta, Candi Borobudur menjadi bagian dan tempat bersejarah yang tidak bisa dipisahkan dari Yogyakarta. Berbeda dengan Jalan Malioboro. Jalan ini menjadi sentral penjualan berbagai barang kerajinan dari masyarakat Yogyakarta, mulai dari batik, gelang, dan berbagai kerajinan lain.






