Ragam Zat Adiktif Makanan
Ilustrasi zat adiktif makanan
Zat adiktif, termasuk zat adiktif makanan merupakan zat yang dapat menimbulkan efek ketergantungan bagi pemakainya. Istilah lain untuk menyebutkan zat adiktif adalah obat atau bahan-bahan aktif, zat kimia yang bila dikonsumsi oleh organisme hidup dapat menyebabkan kerja biologi. Zat adiktif makanan semakin marak pada produk-produk makanan dan minuman.
Dan tidak jarang zat adiktif makanan ada pada merek-merek makanan atau minuman yang terkenal, atau yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Bahkan itu merupakan makanan yang sering kita konsumsi setiap harinya.
Jenis zat adiktif adalah sebagai berikut.
- Zat adiktif sejenis obat-obatan psikotropika dan narkoba yang dapat menimbulkan ketergantungan bagi pemakainya. Bahkan, dapat merusak sistem saraf di otak.
- Zat adiktif juga dapat ditemui dalam makanan, tentu bukan dari jenis obat psikotropika atau narkoba. Zat adiktif makanan merupakan bahan tambahan makanan yang ditambahkan pada proses produksi, pengemasan, dan penyimpanan, untuk tujuan tertentu.
Zat Adiktif Makanan
Zat adiktif makanan berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan alami, yang selanjutnya disebut adiktif alami. Seiring kebutuhan makanan masyarakat yang terus meningkat, industri makanan memproduksi zat adiktif sintetis atau buatan.
Zat adiktif makanan buatan terbuat dari zat-zat kimia yang kemudian direaksikan. Zat adiktif buatan hadir akibat pasokan zat adiktif alami yang tidak mencukupi. Dari segi ketersediaan bahan baku, zat adiktif makanan alami dinilai kurang efektif dibanding zat kimia meskipun zat adiktif makanan alami lebih aman dikonsumsi karena tidak menimbulkan efek samping.
Pembagian Zat Adiktif Makanan
Bahan zat adiktif makanan dapat dibagi dalam kelompok tertentu karena memiliki kegunaan yang berbeda. Setiap jenis makanan menggunakan bahan zat adiktif makanan yang berbeda pula. Berikut beberapa kelompok bahan zat adiktif makanan.
| Zat pewarna. Zat adiktif makanan yang digunakan untuk memberikan warna pada makanan sehingga terlihat lebih menarik. Pewarna alami terdiri dari anato (orange), biru berlian (biru), karamel (coklat hitam), coklat HT (coklat), beta karoten (kuning), klorofil (hijau). |
| Penyedap rasa dan aroma serta penguat rasa. Penambahan zat adiktif ini dapat memberikan, menambah, mengikat rasa, dan aroma makanan. Penyedap rasa dan aroma berasal dari golongan ester, contoh isoamil asetat (rasa pisang) dan butil butirat (rasa nanas). Bahan penguat rasa dinamai MSG (Monosodium Glutamat) yang biasa disebut vetsin. |
| Zat pemanis buatan. Zat adiktif makanan ini terdiri dari sakarin yang kadar kemanisannya 500 kali melebihi gula alami dan ada pemanis dulsin yang kadar kemanisannya mencapai 250 kali gula alami. |
| Zat pengawet. Zat ini dapat memberikan efek mengawetkan makanan lebih lama, dapat menghambat fermentasi, pengasaman, penguraian yang disebabkan oleh mikroorganisme. Contohnya, asam benzoat, natrium benzoat, dan kalium benzoat yang dicampur untuk minuman kaleng, kecap, dan saos. Untuk mengawetkan daging olahan dan keju, digunakan natrium nitrat (NaNo3). Untuk daging kalengan dan kornet, digunakan natrium nitrit (NaNo2). Untuk roti, digunakan asam propionet. |
| Zat antioksidan. Zat adiktif ini dapat menghambat dan mencegah terjadinya oksidasi pada makanan. Contohnya, asam askorbat untuk daging olahan, kaldu, dan buah kalengan. Bahan butil hidroksianisol (BHA), butil hidroksitoluen (BHT), untuk lemak, minyak makanan, margarin, dan mentega. |
| Zat pengemulsi, pemantap, dan pengental. Zat ini dapat membantu pemantapan sistem dispersi yang sama pada makanan. Contohnya, agar-agar, gelatin, dan gom arab. |
| Zat pemutih dan pematang tepung. Fungsinya mempercepat proses pemutihan dan pematangan tepung yang dapat mempengaruhi proses pemanggangan tepung. Contohnya, asam askorbat, aseton peroksida, dan kalium bromat. |
Zat adiktif makanan alami tidak memberikan efek samping, namun zat adiktif makanan buatan memiliki efek samping bila digunakan dalam jangka panjang. Jadi, boleh-boleh saja menggunakan zat adiktif makanan, tetapi dalam dosis kecil. Penggunaan zat adiktif makanan dalam dosis tinggi untuk jangka panjang, kemungkinan akan berefek pada kerusakan ginjal, jantung, dan kanker.
Tip Menghindari Zat Adiktif Makanan
- Pemerintah, melalui BPOM, melakukan terobosan dengan mencantumkan kadar zat adiktif yang tertera dalam makanan kemasan. Tinggal Anda saja yang jeli dalam memilih makanan kemasan sesuai kondisi kesehatan Anda.
- Ketika memasak, hendaknya menggunakan dosis kecil. Ada baiknya, mengurangi dosis zat adiktif dan menggantinya dengan menambahkan garam serta gula alami secukupnya.
- Usahakan mengkonsumsi makanan yang mengandung protein sebelum Anda mengonsumsi gula buatan. Protein dapat memperlambat penyerapan molekul makanan lewat dinding usus sehingga pemanis buatan tidak meningkatkan kadar gula darah.
- Ganti minyak goreng Anda dengan minyak goreng lemak tak jenuh tunggal, seperti minyak zaitun, minyak kacang tanah, atau minyak canola.
Zat Adiktif Makanan yang Berbahaya
Zat adiktif makanan sudanh dipakai selama berabad-abad untuk memperindah tampilan dan rasa makanan serta dapt juga untuk mengawetkan makanan selama beberapa waktu. Apakah zat adiktif yang ada saat ini memberikan efek kesehatan yang baik bagi tubuh atau merusak kesehatan?
Ternyata, beberapa zat adiktif makanan sudah diketahui merugikan kesehatan berdasarkan riset dan studi ilmiah yang selama ini dilakukan. Zat-zat adiktif makanan yang harus dihindari adalah sebagai berikut.
Formalin
Formalin merupakan larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk hidung. Di dalam zat adiktif makanan ini terdapat 37% formaldehid dalam air dan tak jarang ditambah dengan metanol sampai 15% sebagai bahan pengawet. Zat adiktif ini ini umum dipakai sebagai bahan perekat untuk kayu lapis, disinfektan untuk alat-alat rumah sakit, dan pengawet mayat. Formalin sangat dilarang untuk dipakai sebagai pengawet makanan.
Gejala yang terjadi jika formalin masuk ke dalam tubuh adalah rasa terbakar pada mulut, tenggorokan, dan perut. Selain itu, juga sakit saat menelan, mual, muntah, diare, pendarahan, sakit kepala, sakit perut, kejang, hipotensi, sampai koma.
High Fructose Corn Syrup (HFSC)/Sirup Jagung Fruktosa Tinggi
High Fructose Corn Syrup merupakan zat adiktif makanan berupa pemanis buatan yang bergitu halus dan sudah menjadi sumber kalori nomor satu di Amerika. Zat adiktif makanan ini hampir ditemukan dalam semua makanan olahan.
Zat adiktif ini bisa meningkatkan kadar kolesterol LDL (kolesterol buruk), memperngaruhi berkembangnya diabetes dan kerusakan jaringan, serta efek samping lain yang merugikan. Zat adiktif makanan ini ditemukan pad makanan olahan, roti, permen, yogurt, saus salad, sayuran kalengan, dan sereal.
Monosodium Glutamat (MSG)
MSG merupakan asam amino hasil dari proses pengolahan gula yang dipakai untuk penambah rasa pada hampir semua masakan dan makanan olahan, misalnya snack, mie instan, dan lain-lain. Beberapa riset menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan yang mengandung zat adiktif makanan ini bisa menyebabkan efek samping berupa depresi, disorientasi, kerusakan mata, kelelahan, sakit kepala, dan obesitas.
Sodium Sulfit (E221)
Sodium Sulfit (E221) adalah pengawet yang diapakai pada makanan olahan. FDA (Food and Drug Administration) mengatakan bahwa satu dari seratus orang sensitif sulfida yang ada dalam zat adiktif makanan ini. pada umumnya, individu penderita asma menunjukkan keterkaitan antara asma dan sulfida.
Orang yang sensitif dengan sulfida dapat mengalami sakit kepala dan masalah pernafasan. Pada kasus yang sudah parah, zat adiktif makanan ini bisa menyebabkan kematian karena mampu menutup jalan pernafasan dan menyebabkan serangan jantung.

