Mengenal Zat Aditif dalam Makanan
Ilustrasi zat aditif
Anda penggila makanan? Sangat antusias mencoba berbagai penganan yang terlihat indah dipandang mata dan rasa yang "ajaib"? Jika jawabannya iya, maka Anda harus lebih berhati-hati dalam memilih makanan. Kenikmatan kudapan itu bukan tidak mungkin akan terganjal dengan keberadaan zat aditif yang ada di dalamnya.
Anda pasti pernah mendengar tentang zat Aditif. Tapi sayangnya, sedikit sekali yang mengetahui bahwa beberapa jenis zat aditif sangat berbahaya untuk kesehatan tubuh. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan zat aditif itu? Seberapa berbahayakan untuk tubuh manusia?
Zat Aditif dan Kedekatannya dengan Masyarakat
Keberadaan zat aditif di masyarakat sangat dekat. Terutama bagi mereka yang terbiasa jajan sembarangan di luar rumah. Yang harus disayangkan adalah tidak semua orang sadar bahwa ada kandungan zat aditif berbahaya di dalam makanan atau minuman yang mereka konsumsi. Dan, yang lebih disayangkan adalah sebagian dari mereka sadar akan bahaya zat aditif, tapi tidak mengindahkannya.
Ketika Anda pergi ke supermarket, coba Anda amati deretan makanan dan minuman yang tertata rapi di etalase toko. Hampir semua makanan yang dijual memiliki kemasan dan bentuknya pun beraneka ragam. Tahukah Anda bahwa zat aditif juga ikut bertengger di sana? Sebagian dari Anda juga pasti tahu benar akan hal itu. Tahu bahwa makanan dan minuman itu sedikitnya mengandung zat aditif. Lalu, apakah Anda lantas tidak jadi berbelanja? Rasanya tidak mungkin. Jika sudah demikian, hal yang harus Anda lakukan adalah selektif.
Zat aditif bukan hanya terdapat di supermarket-supermarket besar. Anda bahkan akan melihat zat ini di pasar tradisional. Anda akan banyak menjumpai pedagang es yang memberikan gula cair berwarna merah pada dagangan yang mereka jajakan. Anda pun tahu, bahwa gula yang dicairkan tidak berwarna merah. Namun, itu semua seolah menjadi hal yang dimaklum.
Sebagian dari Anda juga pasti tahu benar akan hal itu. Tahu bahwa makanan dan minuman itu sedikitnya mengandung zat aditif. Lalu, apakah Anda lantas tidak jadi berbelanja? Rasanya tidak mungkin. Jika sudah demikian, hal yang harus Anda lakukan adalah selektif.
Sebagian dari Anda beralasan bahwa istilah-istilah kimia itu sangat tidak familiar dengan kehidupan masyarakat awam. Termasuk apa itu zat aditif, atau apa nama lain dari zat aditif. Hal terdekat dan paling logis yang bisa Anda lakukan adalah belajar mengenai zat-zat tersebut. Informasi mengenai hal tersebut sudah banyak terdapat di media apapun. Sudah saatnya Anda berubah menjadi ibu rumah tangga yang lebih pintar.
Anda juga pasti pernah bertanya, setidaknya dalam hati. Mengapa makanan yang dijual di supermarket tersebut dapat berada di dalam kemasan, tapi tidak cepat basi? Jawabannya, karena ada sesuatu bahan yang ditambahkan supaya bahan makanan tersebut tahan lebih lama. Bahan tambahan makanan itulah yang dimaksud dengan zat aditif.
Inilah maksud dari zat aditif. Bahan tertentu yang secara sengaja ditambahkan ke dalam masakan atau minuman, sehingga bahan pangan tersebut memiliki sifat seperti keinginan pemberinya. Penjelasan seperti ini rasanya sudah cukup akrab bagi Anda bukan?
Sifat-sifat yang dibawa oleh zat aditif tersebut bisa membuat makanan lebih tahan lama, rasanya lebih menggigit, bisa juga lebih manis, memiliki warna yang menarik, dan mempunyai aroma tertentu yang disukai.
Sifat dari zat aditif ini memang akan membuat makanan terasa lebih spesial. Jauh jika dibandingkan dengan makanan yang dibuat tanpa mencampurkan zat ini. Kecenderungan untuk lebih memilih makanan dengan campuran zat aditif juga lebih tinggi.
Ini akan berbahaya, ketika Anda mulai ketergantungan dengan keistimewaan yang ditawarkan oleh zat aditif. Lidah Anda yang terbiasa mengecap rasa enak berkat campuran tersebut akan kesulitan menerima rasa alami dari sebuah masakan yang memang cenderung tidak sesedap makanan yang dicampur dengan zat tambahan tersebut.
Jenis-Jenis Zat Aditif
Zat aditif bisa menjelma menjadi beberapa bentuk. Ada beberapa bentuk dari zat aditif yang bisa jadi sangat akrab dengan Anda dan keluarga. Berikut pembagian zat aditif dan contohnya.
Penyedap Rasa
Anda tentu tidak asing lagi dengan istilah MSG atau Monosodium Glutamat. Ya, zat tambahan makanan ini merupakan salah satu bentuk zat aditif yang cukup dekat dengan masyarakat. Dalam kamus lain disebut juga dengan Mononatrium Glutamat. Bahan ini merupakan penyedap rasa yang digunakan untuk menambah cita rasa masakan sesuai keinginan pembuatnya. MSG umumnya dibuat dari tetes tebu, tapi saat ini juga tersedia MSG alami yang terbuat dari cengkeh.
Zat aditif sebagian besar memang terbuat dari tebu, tapi ada juga yang sintetis. Tahukah Anda bahwa zat aditif ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Zat ini sangat tidak baik bagi pertumbuhan anak, menurunkan kecerdasan, mengganggu fungsi ginjal, serta mengubah sel darah putih menjadi sel kanker. Jadi, mulai dari sekarang, ada baiknya untuk jangan terlalu banyak mencampurkan zat aditif tersebut kepada makana. Ganti dengan tambahan bumbu-bumbu rempah lainnya, seperti lada dan gula.
Pemanis Makanan
Bentuk zat aditif selanjutnya adalah pemanis makanan. Para penderita diabetes mellitus pasti mengenal siklamat, sakarin, dan aspartam. Bahan-bahan ini merupakan pemanis buatan yang kekuatannya ratusan kali lebih manis dari pada gula pasir biasa yang dibuat dari tebu.
Penggunaan pemanis buatan pada tubuh, baik yang tidak menderita diabetes maupun yang menderita, sangat tidak dianjurkan karena zat aditif ini bisa mengganggu kesehatan dan puncaknya menimbulkan kanker.
Pewarna Makanan
Bentuk zat aditif selanjutnya adalah pewarna makanan. Pewarna buatan yang selama ini dikenal adalah Tartrazin. Kenyataannya, warna makanan juga berpengaruh dalam menarik minat seseorang untuk mengonsumsinya. Tidak heran bila penggunaan zat aditif dalam makanan yang satu ini juga marak. Padahal, Anda bisa menggunakan pewarna makanan alami, seperti warna hijau dari daun pandan, kuning dari kunir, merah dari wortel, atau pun ungu dari ketela.
Perlu Anda ketahui bahwa tidak semua bahan makanan yang dijual bebas di pasar menggunakan zat aditif pewarna yang aman bagi tubuh manusia. Ada pula yang menggunakan pewarna tekstil, seperti Rhodamin-B, yang sangat berbahaya bagi tubuh manusia.
Hanya dengan alasan harga yang lebih murah dan proses pemakaiannya yang mudah, orang dapat menggunakannya untuk mendapatkan keuntungan yang besar juga. Karena itulah berhati-hatilah dalam memilih makanan. Zat aditif ini juga bisa berubah menjadi sel kanker dalam tubuh.
Pengawet Makanan
Natrium benzoat selama ini dikenal sebagai bahan pengawet makanan yang telah akrab di telinga kita. Anda akan mudah mendapatkannya di bahan-bahan penyusun makanan dalam sebuah kemasan makanan atau minuman. Ini menjadi zat aditif yang selanjutnya akrab dan berbahaya bagi manusia.
Tubuh manusia memiliki sistem pembuangan benzoat dengan sangat efektif, melalui urin maupun keringat manusia, sehingga bisa dibilang makanan yang dicampur zat aditif yang satu ini aman untuk tubuh ketika dikonsumsi secara wajar sehari-hari.
Beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab menggunakan formalin (formaldehid) dan borax yang biasa digunakan untuk bahan pengawet jenazah. Padahal dampaknya sangat membahayakan. Formalin dan borax adalah dua zat aditif cukup menjadi sorotan warga belakangan ini.
Pengemulsi Makanan
Bahan makanan yang kenyal seperti pasta, selai, dan permen karet, memerlukan bahan khusus untuk dapat menggumpalkan makanan. Salah satu zat aditif yang dipakai untuk mengemulsinya adalah gom arab. Zat aditif yang satu ini juga cukup berbahaya bagi tubuh.
Setelah Anda mengetahui pembagian berbagai macam zat aditif yang telah kami tampilkan di atas, maka sekarang kembali kepada kebijakan Anda untuk memilih makanan dan minuman yang Anda konsumsi, demi kesehatan Anda sekeluarga. Bagi Anda yang mempunyai anak, maka Anda harus memperhatikan makanan atau jajanan anak Anda selama di sekolah. Sekarang ini, banyak jajanan makanan untuk anak-anak yang tidak sehat dan banyak mengandung zat adiktif.
Hal tersebut tentu saja dapat membahayakan kesehatan anak Anda. Akan tetapi, sebagai orang tua Anda harus pintar memberikan arahan kepada anak Anda untuk tidak membeli makanan sembarang di sekolah.
Selain memberikan arahan, Anda juga dapat melakukan sesuatu agar anak Anda tidak jajan di sekolah. Contohnya, Anda dapat memberikan bekal makanan atau cemilan kepada anak untuk di sekolahnya. Mulailah selektif dalam membeli makanan yang tidak mengandung zat aditif. Lakukan dari sekarang. Demikian penjelasan mengenai zat aditif. Semoga bermanfaat bagi Anda dan keluarga.

